Saturday, January 11, 2014

Visit to Brunei Darussalam



Masih ingat banget kenangan selama perjalanan di Brunei Darussalam. Selama 5 hari saya dan 11 kawan berkesempatan untuk tinggal di sana tepatnya dari tanggal 15 sampai dengan 19 Juni 2013. 14 kawan tersebut adalah  Fitry, sami, Azizah, Tuba, Dimas,Jamal, Khairil dari Indonesia, Nisa, Shariah, Farkhah dan Ahmad dari  Malaysia, Limam dari Meuritinia, Irfan dari Turky dan Liya dari Srilanka. Kami berangkat naik MAS dari KLIA. Setiba di airport Brunei Darussalam, kami berpisah menjadi 2 group. Saya dan 10 kawan tinggal di asrama Pemuda yang memiliki tarif penginapan relative murah. Kebetulan di depan asrama adalah pasar malam, sehingga hamper setiap sore kami menyempatkan untuk membeli makanan yang ada di situ. Harganya relative murah, ada nasi ayam patok seharga 1 dolar brunei, rasanya enak, alhamdulilah.Oia, di Brunei kita bisa berbelanja menggunakan mata uang dolar Singapura juga.

Selama di Brunei, kami banyak dibantu oleh Hubur, Rahmat dan Cecep untuk keperluan transportasi. Mereka bertiga adalah mahasiswa Indonesia yang belajar di Brunei. Hari pertama dan kedua kami di Brunei, kami manfaatkan untuk mengunjungi tempat wisata yang ada di sana. Di antara tempat tersebut adalah masjid sultan, taman ayun, museum Negara, pantai dan sempat mengambil gambar gedung DPR dan istana sultan.

Hari ketiga sampai dengan kelima di Brunei, kami focus mengikuti  konferensi, Brunei Darussalam Islamic Investment Summit 2013 di The Empire Hotel&Country Club Jerudong. Pada acara tersebut semua kalangan yang tertarik terhadap masalah ekonomi islam berkumpul. Baik dari pihak praktisi, akademis maupun pemerintah. Pembahasan seputar produk bank syariah, pasar modal, sukuk dan instrument keuangan islam yang lain. Diskusi dalam setiap sesi berlangsung sangat menarik. Acara tersebut diselenggarakan oleh bank sentral Brunei Darussalam bekerjasama dengan CERT, UBD, UNISSA dan beberapa sponsor lembaga keuangan Islam. Bersyukur kami dapat mengikuti acara selama 3 hari tanpa melakukan pembayaran. Sehingga kami hanya mempersiapkan bekal untuk akomodasi selama di Brunei.


Akhirnya, dihari yang kelima, saya dan beberapa kawan kembali ke Kuala Lumpur. Meskipun hanya 5 hari di Brunei, akan tetapi membawa kesan yang mendalam. Diantara kesan tersebut adalah Negara Brunei, khususnya di kota yang kami singgahi, kondisinya relative nyaman dan sepi. Sangat berbeda dengan Singapura yang serba gemerlap. Di Brunei, kita bisa melihat bangunan mall tertinggi hanya 5 lantai dan tidak begitu ramai. Yang menarik, bangunan yang ada di Brunei itu tingginya tidak boleh melebihi menara masjid sebagaimana pesan sultan terdahulu. Selain itu, sepanjang perjalan mengelilingi Brunei, saya tidak pernah melihat ada sepeda motor dan angkutan umum sangat jarang ditemui. Sehingga bisa disimpulkan bahwa hampir semua penduduk memiliki kendaraan mobil. Selain itu, selama menonton TV di Brunei, chanel Brunei selalu menyajikan tayangan yang mendidik dan religious,tidak ada pornografi maupun criminal. Penasaran? Mungkin suatu saat nanti, saya akan datang lagi ke Brunei, in shaa Allah. By Yuni YF
Read More

Mother Day in Kuala Lumpur 2013



Peringatan Hari Ibu dan Bedah Buku Role Juggling

dakwatuna.com. Dalam rangka memperingati hari ibu 22 Desember 2013, warga Indonesia yang berada di Malaysia tidak mau ketinggalan. Pada hari kamis 19 Desember 2013, di aula Sultan Hasanudin KBRI di Kuala Lumpur dipenuhi oleh ibu-ibu peserta bedah buku.
Buku Role Juggling: perempuan sebagai Muslimah, Istri dan Ibu yang baru diterbitkan pada September 2013 menjadi bahan diskusi yang sangat menarik pada hari itu.

Acara tersebut terselenggara atas kerjasama antara pihak KBRI dengan tiga organisasi wanita yang berada di Malaysia yaitu PCIA Malaysia (Pimpinan Cabang    Istimewa Aisyiyah),  PERISAI (Persatuan Isteri Dosen Asal Indonesia) dan  JLW (Jaringan Lembaga Wanita ) Keadilan Sejahtera.

Selain penulis buku Role Juggling yaitu Andi Sri Suriati Amal, MMSc, dalam bedah buku tersebut juga mengundang DR Betania Kartika Bt M. Zubaidi (wakil kepala sekolah International Islamic School) sebagai pembedah dan Ellina Supendy sebagai pembanding.

Sang penulis  banyak berkisah tentang pengalaman di Negara Jerman mendampingi suami tugas belajar.  Role Juggling merupakan kumpulan jawaban yang patut diketahui perempuan dalam menjalankan perannya yang beragam. Muslimah sebagai pribadi, istri dan ibu diharapkan dapat menjadi pribadi yang memantulkan nilai-nilai Al-Quran dan sunnah.

Pembedah memberikan komentar yang positif tentang Role Juggling dan merekomendasi kepada para calon ibu maupun yang sudah menjadi ibu untuk membaca buku tersebut. Pada bagian akhir acara, pembanding menambahkan tentang begitu pentingnya peran sebagai muslimah khususnya dalam membumikan keluarga yang Islami.

Sebagai penutup, di peringatan hari Ibu saat ini, acara ini mengajak para ibu untuk introspeksi diri. Sudahkah kita menjadi ibu yang baik, ya ng bisa menjadi teladan bagi anak-anak dan juga menjadi contoh yang baik buat masyarakat.By Yuni YF
Sumber:
 http://www.dakwatuna.com/2013/12/21/43652/peringatan-hari-ibu-dan-bedah-buku-role-juggling/#ixzz2q5VYEdxZ 



Islamedia - Peringatan hari Ibu tahun ini di Malaysia dimeriahkan oleh acara bedah buku pada hari kamis 19 Desember 2013 . Acara tersebut diadakan di aula Sultan Hasanudin KBRI di Kuala Lumpur oleh tiga organisasi wanita yang berada di Malaysia yaitu dan  JLW (Jaringan Lembaga Wanita ) Keadilan Sejahtera, PCIA Malaysia (Pimpinan Cabang    Istimewa Aisyiyah) dan PERISAI (Persatuan Isteri Dosen Asal Indonesia) .

Syarifah Nur sebagai ketua panitia sekaligus ketua JLW keadilan Sejahtera mengatakan bahwa salah satu tujuan diadakan acara tersebut adalah untuk menyatukan potensi perempuan Indonesia yang ada di Malaysia dalam membangun bangsa. Dalam kesempatan tersebut, Kiki Hermano mewakili DWP (Dharma Wanita Persatuan) KBRI memberikan sambutan apresiasi diselenggarakannya acara peringatan hari Ibu.

Selama empat jam para peserta yang didominasi kaum ibu-ibu terlihat begitu antusias mengikuti acara hingga selesai. Selain bedah buku role Juggling, acara tersebut juga diramaikan oleh pementasan drama persembahan para TKI yang bekerja di salah satu perusahaan di Malaysia, pembacaan puisi serta puluhan doorprise dari Mustika Ratu dan Bank Muamalat Indonesia.

Para narasumber dalam acara bedah buku terdiri dari sang penulis buku Role Juggling yaitu Andi Sri Suriati Amal, MMSc, DR Betania Kartika Bt M. Zubaidi (wakil kepala sekolah International Islamic School) sebagai pembedah dan Ellina Supendy sebagai pembanding. Ketiga narasumber sama-sama memiliki banyak pengalaman dalam menjalankan peran mereka sebagai Muslimah, Istri dan Ibu ketika mereka harus tinggal di luar negeri seperti di Jerman, Los Angles dan Rusia  karena mengikuti tugas suami.

Penulis buku Role Juggling yang biasa dipanggil bu Inci melalui bukunya memberikan motivasi agar seorang muslimah sebagai pribadi, istri dan ibu diharapkan dapat menjadi pribadi yang memantulkan nilai-nilai Al-Quran dan assunah. Ellina Supendy yang juga seorang penulis juga mendorong agar setiap perempuan bisa menulis ketika memiliki waktu senggang sehingga bisa menuangkan ide-ide atau pengalamannya. DR Betania menambahkan agar setiap muslimah dengan peran yang beragam dapat memberikan manfaat dimanapun berada.

Pada akhirnya,  di peringatan hari Ibu kali ini,acara ini mengajak para ibu untuk melakukan introspeksi diri. Peringatan hari Ibu sebaiknya dimaknai dengan semakin memahaminya setiap perempuan akan kodratnya sebagai istri, ibu dan perannya di dalam masyarakat. Sehingga dapat memberikan contoh yang positif bagi keluarga dan masyarakat. By Yuni YF


Sumber: http://www.islamedia.web.id/2013/12/peringatan-hari-ibu-di-kuala-lumpur-ala.html
Read More

Short Journey to Pekanbaru and Padang


Dalam rangka menghadiri walimahan ursy kawan kuliah saya di Pekanbaru, Wiwin Oktasari, saya berangkat ke kota tersebut sehari sebelum acara, tepatnya 16 Oktober 2013 dengan Air Asia. Setiba di airport Pekanbaru, kawan saya Bu Eka, bersama dengan suami beliau menjemput saya menuju rumah mereka. Keduanya adalah dosen di Universitas Islam Riau.

Setelah makan siang, saya diantar keponakan Bu Eka, Aisyah, keliling kota Pekanbaru. Sekitar 3 jam perjalanan mengitari Pekanbaru,kesimpulannya, Pekanbaru sepi,,he he..Tidak banyak tempat wisata untuk dikunjungi. Alhamdulilah, saya sempat berkunjung di masjid besar Pekanbaru meskipun hanya sebentar. Setelah keliling kampus Islam Riau, kami pergi membeli bakso Mataram, makanan favorit saya.

Hari kedua di Pekanbaru, setelah menghadiri walimah ursy Wiwin, saya pergi ke Padang menggunakan mobil kijang carteran. Luar biasa,,,,perjalanan yang cukup menantang. Mengingatkan saya akan perjalanan ketika dari Medan menuju Aceh Subulussalam. Jalannya melewati pegunungan dan jurang. Puncak perjalanan yang menegangkan adalah ketika berada di jalan batu kelok 8. Hal yang sangat tidak saya sukai tapi saya mencoba untuk menikmati adalah selama perjalanan kami ditemani music pop.Tapi di atas semua itu, saya tetap merasa nyaman.masha Allah takjub dengan pemandangan sekeliling selama perjalanan yang sangat sedap dipandang.
Sesampai di kota padang sekitar pukul 11malam, saya menginap di salah satu kos-kosan akhwat,Vio,  seorang kawan yang baru saja menyelesaikan S1nya di Universitas Andalas. Pagi harinya, saya pergi ke universitas Andalas, sekedar mengobati rasa penasaran seperti apa bentuk kampus tersebut. Masha Allah, luar biasa memang sangat menarik bangunan kampusnya. Bukan karena bangunannya mewah, tetapi karena unik dan juga dikelilingi oleh bukit dan pepohonan yang rindang.bahkan kita bias melihat view Padang dari kampus tersebut.

Setelah mengambil beberapa foto di kampus tersebut, sayapun melanjutkan perjalanan ke salah satu pantai di kota Padang bersama Elia dan Vio. Perjalanan yang cukup lama, karena kami sempat berhenti dahulu di took oleh-oleh untuk membeli kerupuk balado dan juga mengunjungi masjid terbesar di Padang yang masih dalam proses pembangunan. Setelah sampai di pantai, kamipun berfoto ria sambil menikmati angin segar  dibawah pohon pinus sambil menatap ombak di pantai…suit suit..he he.

Menjelang zuhur, kamipun beranjak pulang menuju masjid  Universitas Negeri Padang untuk sholat.Kemudian makan siang di rumah makan padang sambil menanti mobil travel menjemput yang saya untuk kembali ke Pekanbaru. Terima kasih Elia dan Vio atas kebaikan kalian,really enjoy in Padang with you all ^_^.
Read More

Singapore, the Last Choice as a Holiday Destination for Me


Untuk yang kedua kalinya saya berkesempatan untuk menginjakkan kaki di Singapura. Perjalanan saya sendirian  ke Singapore yang pertama dilakukan dengan menggunakan pesawat terbang sekitar tiga tahun yang lalu. Singapura waktu itu hanya sebagai tempat transit sebelum melanjutkan perjalan ke Jakarta. Sore hari begitu tiba di bandara Changi, kawan saya, Ammal sudah standby di ruang tunggu bandara. Saya menginap di rumah dia satu malam untuk kemudian mengikuti penerbangan ke Jakarta pada pagi harinya.
Pada  saat berkunjung ke Singapura untuk yang kedua kalinya, saya berangkat bersama keluarga saya, Pak Mul, Mba Lis dan Vany menggunakan bis umum pada tanggal 27 Desember 2013. Perjalanan dari Kuala Lumpur ke Singapura memakan waktu 7 jam, cukup melelahkan.  Apalagi proses perizinan keluar dari Malaysia dan masuk Singapura berlangsung cukup lama karena ramainya penumpang muslim liburan tahun baru.
Setiba di Singapura, kami menuju ke hotel Bencoolen, hotel sederhana 100 dolar singapura per malam. Setelah sholat dan membersihkan badan, kami berjalan menuju restoran untuk makan malam kemudian berkunjung ke Merlion Park yang terletak dipusat kota, yang sering kita lihat terdapat patung Singa di tengah tempat tersebut. Kami berkesempatan menaiki perahu yang membawa kami berkeliling Merlion Park selama 40 menit dengan tariff 20 dollar singapura per orang. Sepanjang perjalanan tersebut, meski malam hari tetapi keindahan dan gemerlap pusat kota Singapura dapat kita saksikan. Kesan saya terhadap tempat tersebut adalah tidak nyaman. Kenapa?karena saya merasa bahwa tempat tersebut merupakan tempat hiburan yang menggambarkan gemerlapnya dunia dan bebas pergaulan antara laki-laki dan perempuan. Hampir di setiap restoran yang kita lewati, terlihat banyak orang baik laki-laki ataupun perempuan sangat enjoy menikmati malam sambil minum. Mereka rata-rata berpakaian seksi bagi perempuan. Jika boleh disimpulkan, Merlion park ibarat kota Amerika di Asia.
Sekitar pukul 10 malam kami kembali ke hotel. Agak surprise ketika melewati hotel yang kami tempati karena, meski bersebelahan dengan masjid Bencoolen, tampak kehidupan bebas di diskotek/pub  di hotel kami.mungkin bias dikatakan itulah Singapura. Lahan dakwah yang sangat terbuka mengingat kehidupan yang seperti itu.
Pagi harinya setelah sarapan, kami berjalan-jalan menuju Orchard Road dan Lucky Plaza. Selain melihat pemandangan selama perjalanan, kami juga berniat membeli oleh-oleh dan makan siang di tempat tersebut.
Akhirnya, pukul 1 siang kami check out dari hotel, sholat zuhur dan meneruskan perjalanan pulang ke Kuala Lumpur. Alhamdulillah perjalanan pulang lancar dan kira-kira pukul 8 malam kami tiba di Kuala Lumpur. Alla kulli hal, meski cukup singkat kunjungan wisata kami ke Singapura, tetapi bagi saya cukup membuat kapok. Jika ada peluang untuk melakukan perjalanan wisata, Singapura tidak lagi menjadi kota tujuan wisata bagi saya karena banyak hal yang membuat saya kurang nyaman selama di sana. Bagi kawan-kawan yang belum pernah ke Singapura, cobalah dan rasakan sendiri gimana rasanya..he he..By Yuni YF


Read More

Friday, January 10, 2014

Special Talk by Khaleed Meshaal in IIUM


Pada hari rabu tepatnya 4 Desember 2014, di aula CAC IIUM, kampus biru IIUM kedatangan tamu special. Antusiasme warga IIUM dan non IIUM terlihat sangat besar untuk mendengarkan ceramah seorang pemimpin HAMAS, Khaleed Meshaal. HAMAS adalah salah satu organisasi pergerakan di Palestina untuk mempertahankan tanah air mereka.
Menjelang tegah hari acara tersebut diawali dengan sambutan dari rector IIUM, professor DR Zaleha Kamarudin. Beliau mengapresiasi kedatangan Khaleed Meshaal di IIUM dan menginfokan bahwa ada sekitar 100 mahasiswa dri Palestina di IIUM dimana kampus selalu berusaha mengusahakan beasiswa untuk mereka.
Khaleed terihat begitu bersemangat dalam menyampaikan pidato beliau. Beliau menjelaskan tentang kondisi terkini Palestina yang masih terjajah oleh Israel. Tetapi beliau dan rakyat Palestina akan terus bertahan dan berusaha agar mendapatkan kemerdekaan Palestina kembali.

Sebagai penutup, Khaleed Meshaal memberikan  4 rekomendasi.Pertama, toleransi dlm bmasyarakat karena pd dasarnya khilafiyah adlh alamiah. Kedua, musuh utama dalam mempertahankan Palestina adalah zionis. Ketiga, mencari ilmu pengetahuan. Keempat, jangan lupakan Palestine. By Yuni YF
Read More

Special Convocation of Turkish PM Recep Tayyip Erdogan in IIUM





Hari ini, 10 Januari 2014, di aula ISTAC International Islamic University Malaysia diadakan penganugerahan gelar Doctor of Philosophy dalam bidang Management untuk perdana mentri Turky, Recep Tayyip Erdogan. Gelar tersebut diberikan atas jasa Erdogan dalam hal kepemimpinan dan kontribusi beliau dalam pengembangan sumber daya manusia untuk demokrasi, hak asasi manusia dan kebebasan dan misi kemanusiaan dalam menyelesaikan permasalahan.

Sekilas membaca biodata beliau, ternyata bagi Erdogan penjara bukanlah hal yang asing. Sepertinya benar bahwa penjara atau pengasingan oleh manusia itu adalah jalan para great leader dan beliau menjadi salah satu diantaranya. DR Abduh menilai bahwa Erdogan memiliki kombinasi antara pemikir dan pekerja. Beliau open minded serta memiliki visi yang tajam. Selama memberikan sambutan, beliau terlihat memiliki emosi yang stabil dan mengetahui kapan saatnya berapi-api dan kapan saatnya diam. Perdana menteri Turky tersebut memberikan sambutan tanpa teks dengan tatapan mata yang berkomunikasi dengan audience, Masha Allah.

Dalam pidato beliau, kampus adalah tempat untuk melakukan pembinaan manusia yang selalu berusaha mempertahankan nilai-nilainya. Dan selama mahasiswa adalah "true believers" you are always supreme. Jangan takut menghadapi oppression atau unjust treatment.

Sabar namun tetap memiliki rencana yg matang. Dan itulah yg dimiliki Turki selama 10 tahun kepemimpinannya. Beliau mengkisahkan masa lalu di Turky, dimana ada perasaan sedih ketika para muslimah di Turky ditekan tidak dapat melaksanakan nilai-nilai yang diyakininya. Sehingga akhirnya para pemuda pemudi di Turky menjadikan International Islamic University Malaysia (IIUM) sebagai tempat study. Saat ini, para alumni IIUM mengisi posisi-posisi penting. Erdogan berhasil mengunci mulut para oppressors dan saat ini telah terbukti bahwa jilbab dan nilai-nilai islam bukanlah menjadi penghalang untuk kemajuan dan ilmu pengetahuan.

Abad 21 ini Turky akan segera meluncurkan satelit mereka  sendiri untuk menandingi satelit dunia sekaligus meningkatkan sistem pertahanan Turky. Turky juga sudah menciptakan roket, berbagai macam peralatan perang, serta menyempurnakan kapal induk perang.

Berbicara tentang Malaysia dan Turky, Erdogan melihat banyak kesamaan diantara keduanya. Jika Malaysia memiliki visi 2020 maka Turkypun memiliki visi 2023. Dalam  visi Turky, tahun 2023 mereka sudah berhasil memproduksi pesawat tempur dan kapal induk ruang angkasa. Saat ini para engineering muda Turky sudah berkumpul untuk menyempurnakan visi tersebut.

Tempat-tempat seperti Kairo, Islamabad dan lainnya adalah tempat-tempat penting yang pernah menjadi pusat pengetahuan yang harus dibanggakan dan dipertahankan oleh umat Islam. Banyak para intelek dunia datang dan belajar di Negara tersebut karena memiliki bahasa yang sangat cair namun memiliki pesan yang kental dengan nilai-nilai perjuangan Islam. Erdogan mengambil contoh kejayaan Islam dengan bercerita tentang beberapa tokoh ilmuwan Muslim seperti Ibn Batutah, Al Farabi, Ibn Sina, Al Ghazali, Al Khawarizmi, dll.

Beberapa pesan Erdogan diantaranya adalah bahwa menutup aurat sama sekali tidak menjadi penghalang. Kedua, mari kita menolak prinsip state nations.Untuk mencapai kemajuan, kita harus percaya bahwa kita mampu melakukannya karena kita true believers. Kita memiliki kebebasan dan jangan mau menuruti apa yang didiktekanErdogan mengapresiasi Malaysia atas perannya dalam menyediakan pendidikan yang maju namun tetap mempertahankan Islamic values didalamnya. Dan Turky siap bahu membahu dengan Malaysia dalam mempertahankan hal ini. Beliau menyatakan bahwa Turky juga merupakan negara  masyarakat IIUM dan Malaysia secara keseluruhan. Erdogan mengundang civitas akademika IIUM untuk datang ke Turky untuk memajukan pendidikan di Turki.

Sebagai penutup, dalam 10 tahun ini, Erdogan telah membangun 99 kampus baru yang bertaraf international. menurut beliau ilmu pengetahuan dan pendidikan tidak memandang wilayah, ras, usia dan lainnya. Erdogan mengajak kepada umat Islam di belahan dunia manapun untuk membangun kembali kejayaan masa lalu secara bersama- sama. Umat Islam tidak boleh kehilangan harapan ini.  Kejayaan ini tak dapat diraih tanpa bahu membahu (beramal jama'i)
. Umat Islam harus penuh harap, toleransi terhadap sesama, dan saling terbuka. By Yuni YF

Referensi: 
-         - Notes by DR Muhammad Abduh

Read More

Aceh Map







23 kabupaten/kota in Aceh
• Kabupaten Aceh Barat (Meulaboh)
• Kabupaten Aceh Barat Daya (Blangpidie)
 
• Kabupaten Aceh Besar (Kota Jantho)
• Kabupaten Aceh Jaya (Calang)
 
• Kabupaten Aceh Selatan (Tapaktuan)
• Kabupaten Aceh Singkil (Singkil)
 
• Kabupaten Aceh Tamiang (Karang Baru)
 
• Kabupaten Aceh Tengah (Takengon)
 
• Kabupaten Aceh Tenggara (Kutacane)
 
• Kabupaten Aceh Timur (Idi Rayeuk)
 
• Kabupaten Aceh Utara (Lhoksukon)
 
• Kabupaten Bener Meriah (Simpang Tiga Redelong)
 
• Kabupaten Bireuen (Bireuen)
 
• Kabupaten Gayo Lues (Blang Kejeren)
 
• Kabupaten Nagan Raya (Suka Makmue)
 
• Kabupaten Pidie (Sigli)
 
• Kabupaten Pidie Jaya (Meureudu)
 
• Kabupaten Simeulue (Sinabang)
 
• Kota Banda Aceh (Banda Aceh)
 
• Kota Langsa (Langsa)
 
• Kota Lhokseumawe (Lhokseumawe)
 
• Kota Sabang (Sabang)
 
• Kota Subulussalam (Subulussalam)
Read More

Great Experience in Aceh 1st-15th June 2011, First in Banda Aceh








Tiba di Aceh tepatnya di bandara Iskandar Muda pada tanggal 1 juni menjelang zuhur. Bandara tersebut sangat sederhana,terletak di kawasan persawahan, bangunan yang tidak mewah dan kecil namun telah menyediakan penerbangan skala Asia. Saya telah menghubungi kawan saya, Amna. Selama di banda Aceh saya tinggal di rumah dia. Alhamdulillah setelah pengesahan paspor , begitu tiba di pintu luar bandara,mama kawan saya telah menunggu. Saya langsung dibawa oleh mobil mama Amna menuju sebuah rumah di Preuda Banda Aceh.
 

Akhirnya saya sampai di Banda Aceh yang merupakan ibukota propinsi Aceh, kota rencong, yang terkenal dengan pahlawan-pahlawan nasionalnya seperti Chut Nyak Dhien, Teuku Umar,Teuku Dik Tiro dan lainnya. Alhamdulillah, salah satu impian saya ketika di bangku kuliah yaitu pesiar keluar jawa sudah terealisasi meski baru di Aceh. Yang tidak kalah pentingnya keberadaan saya di sini adalah membawa misi melakukan penelitian tentang Prospek Implementasi Penerapan System Mata Uang Syariah di Aceh. Selain itu, saya ingin pula membuktikan apa benar provinsi yang terkenal dengan serambi Makah dan menerapkan system syariah ini telah benar-benar syariah? Ya, akan kita lihat nanti....

Hari pertama di banda Aceh, siang hingga menjelang magrib saya di ajak keliling ke banda Aceh. Melihat pantai pusat terjadinya Tsunami, masjid-masjid yang tetap berdiri kokoh ketika tsunami dan juga kawasan perkampungan yang hilang pasca tsunami dan telah direnovasi kembali. Saat ini, kehidupan pasca tsunami di wilayah tersebut dapat dikatakan normal kembali meski masih belum pulih secara sempurna.Harga-harga di Banda Aceh melonjak tinggi pasca Tsunami. Konon, hal ini disebabkan oleh banyaknya orang asing yang masuk selama musibah tersebut, sehingga banyak transaksi ditetapkan dengan menggunakan dollar.

Yang menarik ketika berkeliling di hari pertama adalah pemandangan warga perempuan di banda Aceh yang selalu memakai kerudung. Meski belum menutup secara sempurna tetapi hampir tidak ditemukan perempuan yang tanpa kerudung kecuali wisatawan maupun non muslim. Mereka menutup aurat karena adanya razia yang dilakukan oleh polisi syariah di hampir setiap hari khususnya di daerah-daerah keramaian di Banda Aceh. Dibandingkan kota yang lain, kepatuhan perempuan menggunaan kerudung yang terlihat paling tertib ada di kota ini, Banda Aceh. Oia, tidak ketinggalan, ketika malam pertama di Banda Aceh, saya berburu makanan kesukaan saya, bakso,,,nyam..nyam..

Hari-hari selanjutnya saya disibukkan dengan aktifitas penelitian.Dalam waktu 15 hari saya harus mencari responden di seluruh Aceh, dari Banda Aceh ke Lhoksumawe, Aceh Utara menuju Aceh Timur, ke Langsa dan Tamiang yang merupakan daerah perbatasan antara Aceh dengan Sumatera Utara, kemudian menuju Aceh Selatan dan Aceh Barat Daya dan diakhiri dengan Aceh barat/ Meulaboh. Yang menjadi objek penelitian adalah 200 orang yang terdiri dari kalangan ilmuwan seperti dosen dan politisi,ulama, pebisnis dan juga masyarakat umum. Instrumen penelitian yang dipakai adalah kuisioner yang terdiri dari 9 halaman berisi tentang potensi responden, preferensi dan persepsi serta masukan tentang implementasi penerapan system mata uang emas di Aceh.

Selama di banda Aceh, saya melakukan silaturahmi dengan ketua ormas Islam yang ada di sana seperti Muhammadiyah, NU, DDI,MPU, anggota dewan, dosen, tokoh serta anggota masyarakat. Dengan membawa mobil Avansa silver, saya dan Amna keliling Banda menuju lokasi responden. Terkadang jika mobil tersebut dipakai oleh mama Amna, maka saya berangkat dengan angkutan umum yang disebut labi-labi. Jika dibandingkan dengan penelitian saya ketika S1, penelitian kali ini lebih menantang. Dulu saya melakukan wawancara dengan responden hanya di kantor maupun di rumah mereka yang lokasinya masih dalam 1 kota dapat dijangkau dengan jalan kaki maupun naik angkutan umum dalam waktu yang singkat. Tetapi pada penelitian kali ini, responden tersebar di wilayah yang lebih luas dan kebanyakan dari responden, warung kopi dan cafe menjadi tempat favourite untuk mengisi kuisioner. Tetapi untuk kalangan pebisnis, saya harus turun langsung ke tempat bisnis mereka, dari toko ke toko. Di sisi lain, bagi responden dari kalangan akademisi, saya mendatangi mereka di kampus. Adapun untuk politisi yaitu para anggota dewan, saya menjumpai mereka di tempat kerja di gedung DPR banda Aceh terkadang berkunjung ke rumah dinas mereka. Sungguh pengalaman yang mengesankan ketika dapat berkunjung dengan para responden secara langsung dengan latar belakang yang berbeda. Saya melakukan riset di Banda Aceh selama 6 hari. By Yuni YF
Read More

Started the Adventure in Lhoksumawe and Aceh Utara







Meski jumlah responden dari Banda Aceh belum mencapai target, tetapi pada hari ketujuh saya harus mencari responden dari luar Banda Aceh, mengunjungi masyarakat yang berada di seluruh Aceh.Tujuan pertama saya adalah kota Lhoksumawe. Dari banda Aceh menuju Lhoksumawe saya menggunakan angkutan umum L300 dengan tarif Rp. 55.000. Angkutan ini terhitung langka karena tidak setiap jam ada keberangkatan menuju Lhoksumawe, waktu favourite adalah ketika berangkat pada jam 8 pagi dan jam 9 malam.
 

Saya berangkat pagi, tepatnya jam 8.30 dengan berbekal 2 stel pakaian di ransel dan berkas-berkas kuisioner. Selama dalam perjalanan, saya dapat melihat dengan jelas bagaimana situasi daerah sepanjang banda Aceh-Lhoksumawe. Saya duduk di depan bersama sopir dan seorang ibu yang usianya sekitar 50an tahun. Saya sering bertanya kepada mereka tentang hal yang saya tidak ketahui dan kadang menarik untuk dibicarakan sepanjang di perjalanan. Mobil melaju dengan kecepatan rata-rata, tapi terkadang melaju cepat. Beberapa kali mobil terhenti untuk menaikkan maupun menurunkan penumpang. Situasi lalu lintas yang saya lewati terlihat cukup ramai dan kondisi jalanpun lumayan baik, meski tidak sebaik jalan tol. Namun meski jalanan tidak macet, tetapi cuaca yang panas membuat diri merasa tidak nyaman.
 

Ketika melewati kabupaten Pidi dan Pidi jaya, pemandangan yang sering dijumpai adalah banyaknya sapi yang berkeliaran di jalan raya. Heran dan sempat bertanya ke pak sopir, siapa sebenarnya pemilik sapi-sapi tersebut?apakah mereka tidak takut kehilangan sapi –sapi mereka?menurut saya enak sekali menjadi peternak di Aceh, mereka tidak perlu mencarikan rumput untuk sapi, karena sapi mereka terbiasa mencari makan sendiri. Kita bisa melihat bahwa tidak hanya seekor sapi, tetapi sering terlihat sapi-sapi bergerombol di pinggir jalan. Sapi-sapi itu terlihat sedang mencari makan di rumput-rumput yang tumbuh di sepanjang pinggir jalan. Namun kadang kita melihat mereka juga sekedar duduk di pinggir jalan sambil asyik bercengkerama dengan kawan mereka...tersenyum juga melihat ulah sapi-sapi itu...ternyata tidak hanya manusia yang nongkrong di pinggir jalan, di Aceh sapi pun tidak mau ketinggalan nongkrong..he3.
 

Bang Jol, nama sopir yang membawa mobil yang saya tumpangi juga bercerita bahwa sebenarnya keberadaan sapi-sapi tersebut sering menimbulkan masalah. Apalagi jika malam hari, sapi sering berada di tengah jalan sehingga membuat pengemudi kendaraan kaget dan tidak dapat menghindari terjadinya kecelakaan. Karena menghindari Sapi, kadangkala mobil menjadi rusak ketika mobil dibelokkan ke arah parit maupun pembatas jalan. Ironisnya, segala kerugian ditanggung oleh pemilik kendaraan, pemilik sapi tidak pernah bertanggung jawab, bahkan kadang tidak ada yang mengakui siapa yang memiliki sapi tersebut.Sehingga kata bang Jol,karena di Aceh banyak Sapi/lembu, maka plat nomor kendaraan Aceh yaitu BL, sering diplesetkan dengan singkatan Banyak Lembu..he33.

Dalam perjalanan, saya sering merasa menjadi orang bodoh, saya hanya menjadi pendengar ketika para penumpang asyik berbicara dalam bahasa Aceh. Bang Jol sempat bertanya apakah saya bisa berbahasa Aceh, saya jawab belum bisa. Sehingga dia mengajarkan beberapa kata dalam bahasa Aceh. Yang saya ingat kata batu menjadi bate, makan menjadi panjebu, aku pergi manjadi lu njak..sedangkan kata yang lain, saya sudah lupa..he33. Menurut saya agak sulit untuk menghapal bahasa Aceh dan sering terdengar aneh dan lucu.
 

Empat jam kemudian, mobil yang saya tumpangi berhenti di sebuah warung makan. Ya, kami makan siang di tempat itu. Makan serba lauk ikan dengan harga hanya Rp. 10.000. Soal rasa, menurut saya biasa aja, lumayan enak dan mengenyangkan...he3. Kira-kira hanya setengah jam kami berada di rumah makan itu kemudian melanjutkan perjalanan kembali. Dan sekitar satu setengah jam kemudian mobil kamipun berhenti di sebuah masjid untuk menunaikan shalat zuhur. Sempat bingung dan shock juga ketika mencari tempat wudhu wanita. Selain kotor dan bau tidak enak, tempatnya juga tidak nyaman. Tapi tetap bersyukur, saya dapat wudhu dengan air cukup dan dapat menunaikan shalat.Oia, di sepanjang jalan yang saya lewati, mayoritas masjid di Aceh tidak mempunyai tembok,jadi terlihat terbuka dan memiliki banyak tiang.

Setelah menempuh perjalanan selama tujuh jam, akhirnya sekita pukul 3 sore saya sampai di terminal Lhoksumawe. Bang Jol mengantarkan saya ke sebuah loket namanya Mandala, yang bisa dijadikan tempat untuk menunggu kawan saya datang menjemput.Sempat menunggu di loket tersebut kira-kira 20 menit, hingga akhirnya kawan saya datang menjemput. Namanya kak Rohaya atau Aya, guru salah satu sekolah di Lhoksumawe. Kami baru saja kenal via SMS beberapa jam sebelum saya sampai ke Lhosumawe, wallahu’alam tapi kami sudah merasa kenal lama. Saya mendapatkan kontak dia dari pak Fuadi Sulaiman anggota DPR di banda Aceh dari PKS yang memberikan beberapa nomor yang bisa dimintai bantuan selama saya mengunjungi daerah-daerah di Aceh, syukran katsiran pak Fuadi atas info yang sangat berharga ini. Sebelum meninggalkan loket, seorang bocah laki-laki berumur sekitar 8 tahun datang menghampiri saya. Ternyata dia meminta uang, pekerjaan meminta sedekah ini di Aceh menjadi hal yang sering kita lihat.. memprihatinkan.
 

Dengan dibonceng sepeda motor Supra, kamipun meluncur menuju responden. Saya menginap di rumah kak Aya yang tinggal tidak jauh dari pantai, sehingga kami selalu melewati pantai selama di kota Lhoksumawe. Oia, peraturan pemakaian helm di kota ini tidak begitu ketat.Polisi hanya rasia di jam-jam tertentu saja itupun di lokasi yang tertentu pula yang bagi pengguna motor sangat menguntungkan karena mereka dapat mengantisipasi dari awal. Kalo ada polisi, mereka akan memakai helm, jika tidak ada merekapun tidak perlu menggunakan. Pada umumnya kesadaran memakai helm masyarakat Lhoksumawe masih kurang, bukan karena untuk melindungi kepala mereka, tetapi lebih kepada karena kepatuhan lalu lintas.
 

Antara kota Lhoksumawe dengan Aceh Utara sangat dekat, banyak kantor-kantor pemerintah Aceh Utara berada di kota Lhoksumawe. Hal ini memudahkan saya untuk mendapatkan responden dari dua kota tersebut dalam satu kawsan. Alhamdulillah, saya dapat berjumpa dengan koresponden dari ketua MPU, Ketua Muhammadiyah, Ketua NU, Ketua DDI, anggota dewan dari partai Demokrat dan Partai Aceh, beberapa pebisnis dan tidak ketinggalan kalangan dosen. Alhamdulillah tidak sulit untuk menemui mereka. Awalnya memang saya harus mendapatkan nomor telepon para responden terlebih dahulu sehingga lebih mudah bagi kami untuk menentukan waktu dan tempat untuk mengisi kuisioner. Melakukan pertemuan dengan mereka di kantor MPU, masjid, kantor walikota, rumah mereka, kantor DPR dan juga tempat usaha.

Sempat saya singgah di museum Hasybi Assidiqui, seorang ilmuwan muslim yang berasal dari Lhoksumawe, yang terkenal dengan pendapat beliau bahwa pembayaran zakat itu harus berdasarkan standar emas. Kota Lhoksumawe konon diisi oleh banyak pendatang, hanya sedikit yang merupakan warga asli Aceh. Tentang makanan, saya senang di sini karena menu makanan yang dijual di kedai-kedai sederhana maupun kafe sangat lengkap, hampir makanan yang terkenal dari setiap daerah ada di sini. Saya sempat membeli bakso, makanan kesukaan saya, enak...harga makanan di sini lebih murah dibandingkan di Banda Aceh.Pemandangan tragis juga saya lihat kembail, yaitu seorang laki-laki cacat kaki dan ibu tua mengemis di kantor DPRD Aceh Utara, bahkan sampai masuk ke ruang anggota dewan..memprihatinkan, kenapa Aceh dimana-mana bisa begini ya?ck...ck.

Dari Selasa sore saya sampai di Lhoksumawe, Kamis pagi kemudian saya melanjutkan perjalanan ke kota berikutnya. Jazakillah khair untuk kak Aya, bu Ratna, Abu Musa, Abi dan juga responden-responden yang lain.By Yuni YF
Read More

Stay a While in Idi ( Aceh Timur)







Alhamdulillah, Kamis pagi kira-kira jam 8 saya melanjutkan perjalanan menuju kota Aceh Timur. Kendaraan umum yang saya tumpangi bukan lagi L300 tapi colt jumbo, seperti L300 tetapi agak besar lagi. Perjalanan yang harus saya tempuh sekitar 3 jam dengan tarif angkutan Rp. 25.000. Sepanjang jalan menuju Idi, di Aceh Timur lebih sepi dibandingkan jalan yang saya lewati dari banda Aceh ke Lhoksumawe. Karena sepi itulah, pengemudi angkutan terlihat arogan dalam mengendalikan mobil, ngebut....meski jalan yang dilewati bukanlah jalan raya yang mulus seperti jalan tol, tetapi dia mengemudikan kendaraan degan kecepatan tinggi. Sempat membuat tidak nyaman dan sakit pinggang. Saya duduk di depan, terkadang selama di jalan, jantung saya berdegup kencang dan rasanya seperti melompat dari tempat duduk..luar biasa deh. Yah, tapi meski begitu saya masih dapat menikmati keadaan sepanjang daerah yang saya lewati.
 

Kira-kira pukul 11 saya tiba di terminal Idi. Disana sudah menunggu seorang perempuan sebaya saya yang bernama Burdah. Sama seperti kak Aya, saya baru mengenal Burdah pertama kali, tepatnya beberapa jam sebelum smpai di Idi via SMS yang nomor kontaknya saya dapatkan dari kak Erna. Burdah adalah seorang dokter hewan yang baru saja lulus dan baru beberapa bulan kembali ke tempat tinggalnya di Idi. Dengan menyandang tas rangsel di pundak, karena saya tidak memiliki waktu yang lama di Idi, maka dari terminal kami langsung pergi menemui para responden membonceng motor Mio.
 

Setelah mendapatkan beberapa nomor telpon, maka saya langsung menghubungi para responden dan meminta untuk dapat silaturahmi dengan mereka. Alhamdulillah, beberapa tengku dapat saya jumpai. Karena jam kantor sudah tutup maka, saya dan Burdah menemui para responden di rumah mereka, tepatnya di pesantren yang mereka pimpin. Masya Allah, lokasinya berada di pelosok desa. Sempat ban motor bagian belakang yang kami tumpangi kempes..hiks..namun kemudian Burdah menghubungi saudaranya, sehingga dalam waktu 10 menit kemudian motor Mio saudaranya sudah ada di depan mata dan mengantarkan kami menuju lokasi. Pelan tapi pasti, Burdah mengendalikan motornya...karena cuaca yang panas, terik matahari terasa sangat menyengat di badan saya, khususnya kedua tangan saya terlihat menjadi semakin hitam..he3 (emang udah hitam..)

Di daerah Idi, saya sempat melewati masjid besar namun kondisinya tidak terawat dan terkesan rusak. Kemudian Burdah menjelaskan bahwa di daerah Idi adalah pusat konflik dengan GAM waktu itu, dan masjid yang saya lihat itu adalah salah satu bukti keganasan konflik tersebut. Kemudian kami melewati daerah Peurlak, yang berdasarkan sejarah adalah daerah pertama Islam datang di Indonesia. Namun, di Peurlak, kata Burdah juga sering terjadi kejahatan seperti perampokan di jalan yang sepi sehingga dia tidak berani keluar malam. Sepanjang jalan, jalanan memang terlihat sangat sepi, antar desa terasa berjauhan , yang terlihat hanya pohon dan terkadang tanah kosong di sepanjang jalan. Pemandangan menarik juga saya lihat pada saat melihat tiang-tiang kecil bertuliskan satu persatu asmaul husna di sepanjang jalan menuju Peudawa reayeuk, salah satu daerah di kota Idi.

Di jalan, saya bertanya tentang fenomena Sapi Aceh yang sering saya temui di jalan raya. Dari informasi Burdah, sebenarnya sudah ada peraturan yang melarang peternak membiarkan Sapi dan kambing mereka berada di Jalan. Namun sepertinya peraturan itu tidak efektif dijalankan di beberapa daerah di Aceh, seperti di Pidi. Sebagai informasi, ternyata daging sapi di Aceh terkenal lebih manis dibandingkan Sapi daerah lain. Rasa manis ini berarti mengandung kadar protein tinggi. Hal ini disebabkan karena Sapi Aceh hanya makan rumput, mereka tidak memakan makanan selain rumput.

Saya sempat singgah di pelabuhan kecil tempat transaksi ikan di Idi. Di situ kita melihat pasar ikan, meski sudah sore tapi situasi di tempat itu masih terlihat sangat ramai. Oia, ketika kami mengisi BBM di pom bensin Idi, pemandangan sedihpun saya saksikan kembali...ya, seorang ibu mengemis duduk di sebelah kotak tempat selang bensin...memprihatinkan ya.

Karena waktu yang tidak memungkinkan lagi, pada hari itu tepat pukul 6 sore saya melanjutkan perjalanan menuju kota Langsa, dua jam dari kabupaten Idi. Di kota itu pula terdapat kantor pemerintahan kota Aceh Timur (Idi). Saya menggunakan angkutan L300 dengan tariff Rp. 15.000. Azan maghrib terdengar ketika dalam perjalanan, sehingga di mobil tersebut saya berbuka dengan air minum dan sepotong roti..alhamdulillah, nikmatnya musafir dapat menjalankan shaum. By Yuni YF
Read More

Sleep Over one Night in Langsa







Sekitar pukul 8 malam saya tiba di kota Langsa dan berhenti di persimpangan Langsa. Setelah menunggu kira-kira 10 menit, sebuah mobil kijang silver menjemput saya. Seorang ibu keluar dari mobil tersebut. Bu nazili, istri seorang anggota dewan sekaligus kepala sekolah TKIT yang ada di Langsa. Seperti kak Aya dan Burdah, saya mengenal bu Nazili via SMS beberapa jam sebelum sampai kota Langsa.
 

Setelah berada di mobil, ternyata, saya diantar menuju rumah no 25 di kota tersebut. Nama pemilik rumah adalah kak evi, PNS di kantor walikota. Sambutan yang sangat ramah, beliau menanyakan apa yang saya perlukan. Saya pun minta tolong dipinjami baju tidur dan jilbab kaos selama tinggal di rumah kak Evi. Setelah mandi dan shalat, kak Evipun datang ke kamar saya sambil membawa makanan....apa coba menunya? Sup kambing dan sate Aceh, masya Allah...dia tahu yang saya mau, pas banget menu untuk makan berbuka..he3. Kata kak Evi, menu ini memang special untuk Yuni untuk mengembalikan stamina...wah, jadi tersanjung nih...enak makanannya, saya jadi merasa kayak ratu aja..he33.alhamdulillah.

Malam itu kami berbagi cerita. Saya bercerita tentang perjalanan dan misi saya, sedangkan beliau bercerita tentang kota Langsa. Menarik....beliau juga cerita kalo hari itu di lapangan kota juga telah berlangsung hukuman rajam. Kebetulan ada 6 warga yang melakukan tindakan pidana sehingga harus mendapatkan hukuman tersebut. Banyak warga sekitar yang menyaksikan eksekusi tersebut. Yah, saya terlambat datang ke Langsa hingga tidak bisa melihat pemandangan langka tersebut. Kemudian kira-kira satu jam berselang, sayapun tidur, melepas lelah setelah perjalanan dari kota ke kota yang cukup melelahkan sekaligus menyenangkan.

Pagi hari sebelum berangkat berburu responden, saya terlebih dahulu sarapan lontong daging sebagaimana yang sudah disiapkan kak Evi. Pukul 8.30 saya meluncur menuju kantor bupati untuk menjumpai responden. Saat menjumpai pak natsir, ketua DDI, saya senang karena beliau juga concern terhadap topic dinar dirham. Beliau juga pernah menulis tentang hal tersebut di salah satu majalah di Aceh. Bahkan beliau juga menyimpan tulisan saya di Republika tentang Sistem Moneter, Dinar, Dirham..duh, jadi tersanjung lagi ni..he3. Ketika saya memberikan kepada beliau souvenir sebuah bolpoin faster, beliau menolaknya. Menurut beliau justru beliau yang harusnya memberi bekal kepada saya, seorang musafir..yah, saya jadi merasa sedih sekaligus bingung, its oke.

Sebenarnya saya ingin lebih lama di kota Langsa. Tetapi, apa boleh buat, perjalanan masih panjang sedangkan waktu yang saya miliki sangat terbatas. Saya harus meneruskan ke kota lain, akhirnya di kota ini saya hanya sampai Jumat pukul 10 pagi. Alhamdulillah mendapatkan 3 responden yang saya anggap sudah representative. Jazakillah khair k Evi, bu Nazili, ukhti desi, p natsir atas bantuannya. By Yuni YF
Read More

In the Corner of Aceh....Aceh Tamiang








Desi Langsa dengan motor bebeknya mengantarkan saya hingga naik angkutan yang menuju ke Aceh Tamiang. Seperti biasa saya duduk di jok depan berharap sambil bisa menikmati pemandangan selama perjalanan. Mobil angkutan yang saya tumpangi adalah mobil colt jumbo dengan hanya membayar ongkos jalan Rp.7.000.

Kurang lebih satu setengah jam kemudian, akhirnya saya sampai di Aceh Tamiang. Tepatnya saya berhenti di depan kantor PLN, dan di kantor sebelahnya yaitu kantor Baitul Mal Tamiang nampak seorang ibu muda sudah menunggu kedatangan saya. Alhamdulillah, seperti sebelumnya, saya mendapatkan saudara baru dari kawan-kawan sebelumnya via SMS beberapa jam sebelum tiba di Tamiang. Namanya kak Fat, Ibu muda asal Medan itu memiliki 3 anak dan sedang hamil 4 bulan. Suaminya lebih muda dua tahun darinya dan dulu adalah sesama aktifis dakwah di kampus..masya Allah, jodoh memang Allah Yang Maha Tahu.

Luar biasa, meski hamil tapi beliau sangat bersemangat mengantarkan saya menemui para responden. Sempat saya ingin menggantikan posisi kak Fat, saya yang mengemudikan motor, tapi saya berpikir mungkin akan lebih beresiko karena saya tidak tahu jalan seputar Tamiang dan tidak membawa SIM. Alhamdulillah semuanya berjalan lancar. Saya menginap di rumah kak Fat, lumayan numpang mencuci baju juga...he33.Ini kali pertama saya jumpa dengan kak fat dan keluarganya, tapi masya Allah seperti sudah lama mengenal. Mereka membantu saya mendapatkan 8 responden dari Aceh tamiang. Sebenarnya ada banyak responden yang bisa saya temui, tetapi mereka tidak memiliki waktu pada hari itu, karena mereka memiliki kesibukan yang lain. Mereka memberikan pilihan waktu hari berikutnya untuk bertemu, tetapi sayang, hal ini tidak bisa saya penuhi. Karena saya hanya memiliki waktu hari itu sedangkan di hari berikutnya saya harus segera melanjutkan perjalanan.
 

Alhamdulillah, responden yang berhasil saya temui sangat bersahabat. Bapak Abdul Manan sempat memberikan gambaran peta perjalanan saya dari Tamiang menuju empat kota berikutnya di Aceh selatan, barat daya dan barat beserta detail tarif angkutan dan waktu tempuh perjalanan. Ustaz Ilyas Mustawa sebagai ketua MPU juga memberikan nomor telpon kantor MPU di wilayah-wilayah yang akan saya kunjungi sambil diiringi doa untuk saya selamat berjuang dan semoga sukses selalu..hiks, jadi terharu. Oia, malam hari, saya tidak melewatkan berburu makanan kesukaan saya, bakso Tamiang,,,,,mmmm..enak banget. Selama di rumah kak Fat, saya banyak mendapatkan ilmu dari pengalaman beliau. Khususnya tentang kehidupan berumah tangga...he33.

Pagi hari setelah makan nasi goreng buatan kak Fat, saya berangkat kira-kira pukul tujuh. Sebelum keluar rumah, suami kak Fat sempat berpesan kalo misalnya ada masalah financial selama perjalanan jangan khawatir, saya disuruh menghubungi Baitul Mal yang ada di kota yang disinggahi, karena di setiap kota di Aceh terdapat Baitul Mal, terima kasih sarannya. Alhamdulillah kalo bekal financial saya merasa cukup bahkan berlebih, tapi informasi tersebut tetap sangat berharga bagi saya sebagai bentuk antisipasi selama dalam perjalanan.
 

Hampir jam delapan, akhirnya bis menuju Medan datang menghampiri. Sayapun bergegas naik dan tidak lupa sangat berterima kasih dengan kak fat dan keluarga yang banyak memberikan bantuan selama saya di kota Tamiang, jazakumullahi khairan katsiran.By Yuni YF
Read More

Transit in Medan (Sumatera Utara)







Akhirnya naik bis juga. Di rute sebelumnya, saya tidak pernah melihat bis, yang terlihat hanya L300 dan colt jumbo. Selama perjalanan di Aceh, bis menuju ke Medan adalah satu-satunya bis yang saya tumpangi.Saya akan melanjutkan perjalanan menuju Aceh bagian selatan. Rute terdekat dari Aceh tamiang menuju aceh selatan adalah dengan melewati kota Medan Sumatera Utara, sekitar tiga setengah jam dari tamiang dengan tariff bis Rp.30.000. Sebelum sampai di Medan, bis yang saya tumpangi melewati kota Binjai. Keruwetan lalu lintas mulai terlihat. Sangat ramai, tak salah jika beberapa kawan bilang kalau Medan hampir sama ramainya dengan Jakarta. Ada yang unik ketika saya melihat salah satu toko perlengkapan alat-alat rumah tangga di Binjai. Di depan toko tergantung semua alat rumah tangga yang dijual menempel pada dinding toko mulai dari piring plastic, ember hingga kursi..ada-ada saja.

Akhirnya saya berhenti di masjid pinang baris. Dari Yani kawan di IIUM saya dikenalkan oleh kawannya yang bernama Fitri lulusan UISU (Universitas Islam Sumatera Utara). Saya SMS sehari sebelum saya berangkat ke Medan. Fitri menjemput saya di masjid itu dengan motor bebeknya, melihat wajah Fitri sama seperti melihat wajah kawan-kawan saya sebelumnya, seperti sudah mengenal lama padahal kali itulah pertama kali saya dan dia bertemu. Saya diantarkan mengunjungi istana Maimun. Dalam perjalanan menuju istana, saya menikmati situasi jalan di Medan. Saya melewati monument barisan, hotel islami Aceh house, dan kampus-kampus yang berada di Medan.

Luar biasa keadaan lalu lintas di Medan, penuh dengan kendaraan yang melaju dengan kecepatan tinggi. Sangat berbeda dengan pengendara sepeda motor di Lhoksumawe yang mereka melaju secara lambat, kecepatan rata-rata 40 km/jam. Suasana yang panas, asap kendaraan dimana-mana membuat saya ingin segera keluar dari situasi lalu lintas yang seperti itu.
 

Kami menuju salah satu objek wisata di Medan, yaitu istana Maimun. Istana yang dimiliki oleh Sultan ma’moen al rasyid perkasa alamsyah yang hidup pada masa 1853-1924. Sayangnya istana tersebut hanya dikelola oleh keluarga sultan Ma’moen, tidak diserahkan kepada pemerintahan setempat. Bangunannya tidak begitu luas dan sederhana. Tarif masuk dengan membayar Rp. 5000. Di dalamnya kita bisa melihat tentang foto kota Medan zaman dahulu, foto keluarga sultan Ma’moen dan beberapa peninggalan kuno seperti kursi, almari, pakaian. Hanya sekitar 20 menit saya dan Fitri berada di tempat itu dan meneruskan perjalanan menuju kediamannya yang terletak di jalan air bersih no 10 samping UISU.

Fitri menyewa rumah tersebut bersama tiga kawannya yang lain yaitu Hasna dan Sakinah asli orang batak, satu lagi saya lupa namanya..ops. Di rumah itu, saya dapat beristirahat sebentar, makan siang dengan ikan bakar yang dimasak Sakinah dan sempat berkeliling Medan sekaligus membeli MP4. Saya memesan angkutan dari Medan ke Subulusalam (Aceh Selatan) via telepon. Dari agen jasa angkutan diberitahu bahwa mobil mereka akan berangkat jam8 dan saya akan dijemput pada jam tersebut.
 

Setelah shalat Isya, saya ditemani kawan-kawan yang tinggal di rumah tersebut menunggu datangnya mobil di depan rumah. Selang beberapa menit kemudian, sebuah mobil kijang panther plat BK datang menjemput saya. Saya pamitan dan tidak lupa sangat berterima kasih kepada Fitri dan kawan-kawan yang sudah menerima saya sebagai tempat transit selama di Medan, jazakillah khair.By Yuni YF
Read More

Continue to Subulusalam (Aceh Selatan)


               





Mobil Kijang yang saya tumpangi dikemudikan oleh bang Herman dan kawannya sebagai sopir cadangan. Tarif angkutan Rp.100.000 diantar hingga tempat tujuan. Mobil ini berisi 8 penumpang, saya duduk di baris kedua bersebelahan dengan 2 penumpang perempuan yang lain. Alhamdulillah semua penumpang ternyata memiliki tempat tujuan yang sama yaitu Subulusalam, bahkan sopirnyapun berasal dari Subulusalam. Dalam perjalanan di kota Medan, malam itu beberapa kali saya melihat terjadinya kecelakaan. Mungkin karena sabtu malam, sehingga banyak pemuda-pemudi bergerombolan dan memadati sepanjang jalan di kota Medan.

Perjalanan malam ini terasa mendebarkan. Bagaimana tidak? jalan yang dilewati adalah pegunungan dengan kondisi jalan yang tidak rata, sempit, mendaki, berkelok dan ramai berseliweran mobil angkutan besar seperti trailer dan truk. Mobil melaju dengan kecepatan tinggi dan bang Herman selalu berusaha menyalip kendaraan lain. Malam itu saya tidak bisa memejamkan mata dan sambil banyak berzikir menyebut asmaNya. Hal ini mungkin disebabkan karena efek cofemix yang saya minum sebelum saya berangkat dari rumah Fitri sekaligus jalanan yang dilalui betul-betul membuat saya agak takut, maklum perjalanan pertama Medan-Subulusalam. Saya melihat semua penumpang di mobil tertidur pulas.Saya bertanya di dalam hati dan keheranan, mengapa mereka bisa tidur dalam perjalanan seperti ini.hufff...

Selama perjalanan tersebut, saya jadi teringat dulu ketika sering menemani ayah mengantar sayur rutin ke daerah Tawangmangu yang harus ditempuh dalam waktu 10 jam dari rumah kami. Kami harus melewati jalan yang mendaki, berkelok, di bawahnya jurang, tapi beruntung tidak banyak kendaraan lain berseliweran pada waktu itu. Terkadang ada pemikiran negative berkelebat, bagaimana jika mobil yang kami tumpangi tidak kuat dan berjalan mundur. Pernah suatu kali, ketika berada di jalanan yang sangat menanjak, mobil ayah tidak kuat sehingga kami harus mengurangi jumlah barang yang dibawa. Subhanallah, karena hanya ada saya dan ayah, maka sayapun ikut menurunkan beberapa karung buncis dari dalam mobil pick up kami. Masya Allah, sebegitunya perjuangan keluarga kami dalam mencari rizki pada waktu itu, memiliki resiko yang besar.

Oya, selama perjalanan menuju Aceh selatan, mobil kami melewati tempat resort dan reserve daerah pegunungan. Banyak sekali hotel di sepanjang jalan. Bahkan tempat hiburan seperti karaoke terlihat banyak berdiri di daerah itu yang masih termasuk kawasan Sumatera Utara. Selama perjalanan malam tersebut, kami melewati bukit barisan, yaitu barisan pegunungan brastagi. Namun karena malam, maka saya tidak bisa menggambarkan situasi keindahan di sepanjang jalan.

Setelah menempuh perjalanan 2.5 jam, mobil kamipun rehat di sebuah rumah makan, namanya Madani khas minang tepatnya di jalan medan-sidikalangkab karo sumut. Selama kurang lebih satu jam mobil kami berada di tempat tersebut. Saya tidak berminat untuk makan, karena program diet, tidak makan nasi di malam hari kecuali terpaksa....he33 dan kebetulan tidak ada selera untuk makan yang mungkin dikarenakan efek dari perjalanan yang mendebarkan tadi.

Setelah istirahat kemudian mobil kamipun melanjutkan perjalanan kembali. Sempat melihat ada truk yang terjungkal ketika berada di jalan yang menanjak. Meski sopir berganti bukan bang herman lagi, tidak ngebut tetapi tetap saja saya tidak bisa memejamkan mata. Perjalanan dari Medan ke Subulusalam dalam keadaan normal memakan waktu sekitar 7 jam.

Alhamdulillah pukul 5 pagi menjelang subuh saya sampai di Subulusalam, tepatnya saya berhenti di rumah Umi Aida yang sudah saya hubungi sebelumnya. Umi Aida merupakan seorang daiyah yang giat berdakwah di kota tersebut. Beliau merupakan penerima gelar ummi award 2009. Di rumahnya yang sederhana, saya kemudian minta izin untuk mandi dan membersihkan diri. Setelah sarapan dengan nasi dan telor, akhirnya saya beserta Rika, kawan umi Aida yang diamanahi untuk mengantar saya menuju para responden.
 

Dengan motor Mionya, Rika mengantarkan saya menuju ketua MPU, anggota dewan dari PDIP, ketua Muhammadiyah dan seorang dokter yang mewakili responden dari masyarakat umum. Saya sempat memberikan presentasi tentang mata uang dnar dirham di sebuah acara yang diadakan oleh DPD PKS Subulusalam dengan peserta sekitar 20 orang laki-laki dan perempuan.

Pukul 12 siang, saya bersama Rika menuju tempat tinggal Rika, di sana makan siang telah menanti. Saya makan masakan khas Medan yaitu ikan arsik mas yang dimasak oleh Retnadi. Retnadi, Rika dan beberapa kawan yang berada di rumah tersebut adalah PNS yang berasal dari kota Medan. Tidak berapa lama kemudian saya dan rika melanjutkan memburu responden kembali.

Tepat pukul tiga sore, saya dijemput L300, mobil yang sudah dipesan sebelumnya yang akan mengantarkan saya menuju Tapak tuan, kabupaten Aceh Selatan. Alhamdulillah responden yang didapatkan banyak,bahkan tidak hanya warga yang tinggal di Subulusalam saja tetapi juga dua orang yang berasal dari kabupaten Singkil karena kebetulan mereka sedang ada acara di Subulusalam. Syukran katsiran kepada Umi Aida, Rika, bapak Haris Saleh, Retnadi dan kawan-kawan yang lain atas bantuannya.By Yuni YF
Read More

About Alluring

Popular Posts

Total Pageviews

Powered By Blogger · Designed By Seo Blogger Templates