Showing posts with label Islam and Family. Show all posts
Showing posts with label Islam and Family. Show all posts

Thursday, January 9, 2014

First Session “Gender Relationships”







Tahukah anda, bahwa
 dalam Islam ternyata tidak ada persahabatan antara laki-laki dan perempuan? Akan tetapi, hal ini bukan berarti bahwa manusia tidak diperkenankan untuk berinteraksi. Kita tidak boleh bersikap ekstrim, dengan mengasingkan diri dari masyarakat ataupun berinteraksi secara bebas. Islam merupakan agama moderat sebagaimana tersirat dalam pertengahan surat Al Baqarah yaitu dalam ayat 143. Apalagi secara fitrah manusia memerlukan orang lain sehingga saling berinteraksi. Dan Allah telah memberikan batasan bagaimana interaksi yang benar antara laki-laki dan perempuan. Keterbatasan yang ditetapkan oleh Allah harus kita yakini bahwa hal itu merupakan bentuk perlindungan bagi manusia, membawa kebaikan bagi manusia dan juga sebuah bentuk ketaatan kepada Sang Pencipta. 

Dalam kehidupan ini, kita berhubungan dengan lawan jenis dalam lingkungan yang bercampur. Untuk menyelamatkan diri kita dari kehidupan dunia yang penuh dengan godaan, maka kita harus kembali kepada Islam dan mengikuti bagaimana Rasulullah dan para sahabat bernteraksi dengan lawan jenis. Berikut tips dalam berhubungan dengan lawan jenis yang sesuai dengan hukum Islam.

Pertama, seorang
 muslim harus menutup aurat sebagaimana surat Al Ahzab ayat 59. Perintah menutup aurat bukan hanya diperuntukkan bagi kaum perempuan saja, akan tetapi juga bagi kaum laki-laki. Yang membedakannya adalah bagian tubuh yang harus ditutupi. Kedua, menundukkan pandangan (ghadul bashar) dalam surat Annur ayat 31. Dalam mengontrol pandangan kita, hal ini sangat bergantung pada niat. Ketiga, tidak boleh menarik perhatian dalam bersuarasebagaimana tertulis dalam surat Al ahzab ayat 32. Keempat, tidak boleh berkhlawat, sebagaimana sebuah hadits yang melarang seorang laki-laki dan perempuan berkhalwat, karena syaitan akan menjadi pihak yang ketiga. Kelima, tidak boleh bermake-up dan menggunakan parfum bagi perempuan. Perempuan hanya boleh menggunakannya ketika berada di depan suami dan di tengah-tengah keluarga saja. Keenam, memisahkan tempat duduk antara laki-laki dan perempuan. Ketujuh, tidak boleh berjabat tangan. Kedelapan, apabila dalam pembicaraan, maka harus singkat dan tidak ada keraguan dalam apa yang dikatakan dan bagaimana mengatakannya. 

Sirah nabawiyah tentang pola interaksi antara Rasulullah dengan para sahabiyah pada masa itu sangat penting bagi kita untuk menjadi rujukan. Misalnya, bagaimana Asma’ bin Yazid bertanya kepada Rasulullah di hadapan nabi dan para sahabat, dan ketika Khalwah binti Tha’labah meminta fatwa kepada Rasulullah.
 

Sesungguhnya timbulnya perasaan cinta berawal dari ikhtilat yaitu ketika bercampurnya laki-laki dan perempuan yang kemudian menimbulkan pandangan yang tidak terjaga, perasaan hati dan mendorong perbuatan yang tidak diridhai Allah seperti pacaran, berzina dan sebagainya.nauzu billhi min zalik.

Tidak ada pacaran dalam Islam. Pacaran merupakan perwujudan dari hawa nafsu dan kepura-puraan. Tidak ada perasaan cinta yang halal sebelum menikah. Cinta akan timbul setelah menikah. Kita harus berhati-hati dengan media saat ini yang sangat berpotensi mengarahkan nafsu kepada perbuatan yang tidak diridhai Allah.
Resensi Workshop Orchards of Love “ Your guide to achieving peace & Serenity...The Right Way!” 3-4 Desember 2011 yang disampaikan oleh Syaikh DR Reeda Bedeir, Associate professor Al Azhar University dan trainer Al Maghribi Institute untuk area UK, Canada dan Malaysia. Acara dihadiri oleh 200 orang yang diselenggarakan oleh masjid SHAS IIUM, WAMY dan Al Futuwah ISTAC di IIUM.By Yuni YF
Read More

Second Session “ Islam and Marriage “






Pernikahan tidak hanya sebuah kata namun merupakan kalimat kehidupan.
 Satu-satunya jalan yang halal hubungan antara laki-laki dan perempuan dalam Islam adalah dengan pernikahan. Islam merupakan agama yang moderat, tengah-tengah. Tidak ada kerahiban dalam Islam dan tidak pula membebaskan manusia untuk melakukan pergaulan bebas.

Apakah
 motivasi bagi seorang muslim menikah? dengan menikah manusia dapat menyelamatkan diri dari budak hawa nafsu. Pernikahan merupakan pemenuhan kepuasan emosional dan seksual bagi manusia. Pernikahan merupakan salah satu tanda kekuasaan Allah sebagaimana dalam Ar Rum ayat 21. Selain itu, Allah menciptakan nabi Adam dan Hawa memiliki unsur penciptaan, untuk mengembangkan komunitas. Sehingga dengan menikah, maka seorang muslim telah berkontribusi dalam membangun umat. 

Sebagaimana janji Allah, bahwa muslim yang telah menikah akan mendapatkan berbagai keutamaan. Diantaranya,
 akan diberikan kekayaan sebagaimana termaktub dalam surat Annur ayat 32. Allah memberikan hasanat dan dihitung sebagai sedekah ketika bercampur antara suami dan istri. Orang yang telah menikah juga akan mendapatkan jaminan pertolongan dari Allah sebagaimana sebuah hadits riwayat Tirmizi tentang tiga orang yang akan diberikan pertolongan oleh Allah. Pernikahan juga merupakan bentuk investasi, yang diwujudkan dengan lahirnya anak-anak shalih.

Model pernikahan ada tiga macam, yaitu pernikahan atas dasar cinta semata, pernikahan yang telah diatur biasanya oleh keluarga dan pernikahan yang Islami. Apakah pernikahan Islami itu? yaitu yang
 menikah karena Alah ta’ala, bukan karena cinta hawa nafsu.

Bagaimana seseorang mengetahui
 bahwa dia telah siap untuk menikah? Lima hal yang mengindikasikan seseorang telah memiliki kesiapan untuk menikah, yaitu matang secara fisik, emosi, mental dan keuangan. Keuangan maksudnya bahwa seorang laki-laki telah mampu memenuhi keperluan minimal untuk istri dan anak-anaknya, misalnya memberikan tempat tinggal (meski sewa), makanan serta pakaian.

Hal penting dalam
 melangkah ke dalam pernikahan adalah mengetahui diri kita sendiri, merencanakan pernikahan, meminta bantuan seseorang, mencari sumber informasi, melewati jalan yang syar’i dan mempersiapkan hari pernikahan.
Resensi Workshop Orchards of Love “ Your guide to achieving peace & Serenity...The Right Way!” 3-4 Desember 2011 yang disampaikan oleh Syaikh DR Reeda Bedeir, Associate professor Al Azhar University dan trainer Al Maghribi Institute untuk area UK, Canada dan Malaysia. Acara dihadiri oleh 200 orang yang diselenggarakan oleh masjid SHAS IIUM, WAMY dan Al Futuwah ISTAC di IIUM.By Yuni YF
Read More

Third Session “Engagement”






Bagaimana
 cara kita memilih pasangan? Berdasarkan hadits nabi, ada empat hal yang menjadi dasar pertimbangan. Dengan kata lain menggunakan formula 1000, apakah itu? Angka 1 adalah factor agama, 0 yang pertama adalah keturunan, 0 yang kedua adalah kekayaan dan 0 yang terakhir adalah kecantikan. Jika dia mendapatkan ketiga 0 tanpa agama, berarti tidak memiliki nilai. Apabila dia memilih karena agama, keturunan maka dia mendapatkan 10 dan jika dia mendapatkan keempat-empatnya, maka dia akan mendapatkan 1000.

Hal penting bagi seorang perempuan dalam memilih calon suami yang potensial adalah karenaagama dan akhlak. Selain itu, dia harus mengetahui bagaimana calon suaminya dalam memperlakukan keluarga, bergaul dengan kawannya, dan bagaimana dia dalam bekerja. Sekali lagi, factor agama harus menjadi prioritas yang utama.

Sedangkan laki-laki dalam memilih wanita karena
 keshalihan dan memiliki karakter internal beauty seperti baik hati, pemurah, humoris, pengertian, social. Selain itu, hendaknya mempertimbangkan pula tentang kesesuaian antar pasangan dari segi chemistry, intelektualitas, kelas social, umur dan saling pengertian. 

Kita juga seharusnya memahami apa saja
 pertanyaan real yang diajukan kepada calon pasangan. Ada 49 contoh pertanyaan yang disimulasikan oleh DR Reeda untuk pasangan kita. Pertanyaan tersebut meliputi pertanyaan umum, keputusan dalam menikah, agama dan kehidupan Islami, jika hidup dalam minoritas Islam, profesi, kegiatan social, tempat tinggal, perencanaan anak, pendapatan, poligami dan budaya. Pertanyaan tersebut misalnya seperti apa yang kamu cari dari seorang perempuan, bagaimana peran orang tua dalam memilihkan pasangan bagi anaknya, apa harapan kamu agar dekat dengan Allah melalui pernikahan, bagaimana peranan Islam dalam kehidupanmu, bagaimana budaya berperan dalam kehidupanmu, bagaimana kamu memanfaatkan waktu, dimana kamu berencana tinggal, akankan suami dan istri bekerja di luar rumah, berapa jumlah anak yang kamu inginkan, bagaimana perbedaan seharusnya dapat diselesaikan, apa pandanganmu tentang poligami dan lain sebagainya. Diantara pertanyaan tersebut mungkin kelihatan tidak Islami, namun relevan dengan kenyataan situasi social hari ini. Kita sebaiknya tidak bertanya dengan pertanyaan yang bisa menimbulkan kesalahan besar.

Pada umumnya
 kesulitan dalam memilih pasangan dikarenakan oleh tiga faktor yaitu ekspektasi yang tidak realistic, kurangnya pelamar potensial dan tekanan dari orang tua dan keluarga.

Pertunangan, bagaimana Islam mengaturnya?
 Pertunangan hanyalah budaya, bukanlah berasal dari Islam. Tidak ada hak apapun di antara orang yang telah bertunang, mereka harus tetap menjaga interaksi selayaknya perempuan dan laki-laki yang bukan muhrim. Media yang ada di zaman sekarang baik seperti FB, email, chating, tweeter, BB dan yang lain berpotensi menjadi sarana komunikasi yang tidak Islami. Bagi yang bertunang, mereka harus tetap menjaga interaksi,tidak berkomunikasi yang melibatkan emosi, berkhalwat, bersentuhan dan hal lain yang dapat mendekatkan zina.

Bagaimana agar kita bisa mendapatkan Mr Right or Mrs Right? Yang harus diperhatikan adalah kita tidak boleh menilai seseorang hanya dari luar. Proses ta’aruf harus dilakukan secara maksimal untuk mengetahui sebanyak-banyak informasi tentang pasangan kita. Bagi seorang laki-laki, dia tidak akan menghormati perempuan yang tidak menghormati dirinya sendiri. Bagi seorang perempuan, dia tidak akan terkesan pada laki-laki yang memiliki ego.
 
Resensi Workshop Orchards of Love “ Your guide to achieving peace & Serenity...The Right Way!” 3-4 Desember 2011 yang disampaikan oleh Syaikh DR Reeda Bedeir, Associate professor Al Azhar University dan trainer Al Maghribi Institute untuk area UK, Canada dan Malaysia. Acara dihadiri oleh 200 orang yang diselenggarakan oleh masjid SHAS IIUM, WAMY dan Al Futuwah ISTAC di IIUM.By Yuni YF
Read More

Fourth Session “Islam vs Culture in Marriage”






Secara general,
 ada dua kutub extreme dalam membahas masalah ini. Sebagian berpandangan bahwa hanya menerima pernikahan secara Islam dan meniadakan masalah budaya, namun di sisi lain ada sebagian yang hanya menerima budaya tanpa memasukkan unsur agama di dalamnya.

Sepatutnya antara budaya dan Islam dapat diseimbangkan. Perbedaan dalam budaya, misalkan beda Negara, bukanlah menjadi sesuatu yang menghalangi seseorang untuk menikah. Hal penting yang harus diperhatikan adalah
 komitmen keislaman pasangan, saling pengertian akan perbedaan budaya, menyaring dan hanya menerima budaya yang sekiranya tidak bertentangan dengan hukum Islam. 

Perbedaan yang mucul dalam pernikahan antara dua budaya biasanya adalah
 bahasa, mahar, kelas social dan teknis walimah. Namun perbedaan itu dapat ditanggulangi dengan saling pengertian dan komunikasi yang baik antara dua belah pihak yang kemudian hal itu akan menentukan kesuksesan dalam inter cultural marriage. 

Resensi Workshop Orchards of Love “ Your guide to achieving peace & Serenity...The Right Way!” 3-4 Desember 2011 yang disampaikan oleh Syaikh DR Reeda Bedeir, Associate professor Al Azhar University dan trainer Al Maghribi Institute untuk area UK, Canada dan Malaysia. Acara dihadiri oleh 200 orang yang diselenggarakan oleh masjid SHAS IIUM, WAMY dan Al Futuwah ISTAC di IIUM.By Yuni YF
Read More

Fifth Session “The Holy Marriage Contract”







Kontrak pernikahan di dalam Islam merupakan mitsaqon ghaliza,
 perjanjian yang kuat. Pernikahan adalah penyatuan yang tidak hanya antara dua orang tetapi dua keluarga, dan bukan sebuah kontrak seperti halnya kontrak perusahaan.

Ada tiga hal yang menjadi
 pra syarat dalam pernikahan. Pertama, wali yang tepat misalnya ayah atau paman. Tugas wali memikul tanggung jawab terhadap perempuan. Perempuan harus mendengarkan wali dan sebagai wali dia tidak boleh menyalahgunakan posisinya. Wali harus berpemikiran sehat atau tidak gila, memiliki agama yang sama dengan mempelai, memiliki karakter yang baik seperti bijaksana dan matang. Kedua, prosesi lamaran. Seorang laki-laki dapat melamar sendiri, namun bagi perempuan apabila ingin melamar laki-laki dia harus menggunakan perantara, misalnya ayah atau saudara laik-lakinya. Ketiga, pernyataan kesediaan dari pihak perempuan. Wanita memiliki hak untuk menerima atau menolak, dan memberikan respon atas keputusannya, misal mengiyakan dan kadang diamnya perempuan diasumsikan sebagai penerimaan mereka.

Syarat menikah
 adalah tidak ada paksaan antara keduanya, ijab qabul, dua orang saksi, dan diumumkan kepada khalayak umum.

Walimah atau pesta pernikahan merupakan bentuk kesyukuran kepada Allah. Merupakan impian setiap perempuan dimana di hari itu dia akan menjadi ratu sehari. Walimah harus sederhana dan tidak boleh berlebihan, diformat secara Islami bukan kebarat-baratan. Yang tidak kalah penting adalah
 tata cara ketika malam pertama. Setelah walimah selesai, mengambil air wudhu, shalat dua rakaat. Suami kemudian berdoa dengan meletakkan tangannya ke kening istri dan berdoa. Insya allah jika pernikahan diawali dengan kebaikan, maka akan memperoleh keberkahan.


Tugas seorang suami
 merupakan hak yang harus ditunaikan untuk istrinya. Tugas seorang suami yang pertama yaitu memberikan mahar. Pada ummnya, semakin banyak uang, akan semakin banyak permasalahan yang timbul, sehingga sebaiknya mahar dalam jumlah yang secukupnya saja, jangan sampai memulai pernikahan dengan memiliki hutang karena prosesi pernikahan yang berlebihan. Kedua, mencukupi keperluan keuangan keluarga untuk tempat tinggal, makanan dan pakaian. Ketiga, memperlakukan istri secara baik dan melindunginya dari hal yang haram sebagaimana surat ke66 ayat 6. Keempat, menjaga penampilan di hadapan istri. Kelima, membantu istri dalam mendapatkan ilmu pengetahuan. Keenam, berbuat adil kepada para istri. Konsep qawamah sebagaimana yang tertulis di dalam surat An nisa ayat 34 mengandung arti sebuah tanggung jawab suami sebagai pemelihara dan pelindung bagi keluarganya. Suami harus menjadi kunci pintu surga bagi istrinya.

Seorang suami juga seharusnya
 memiliki sifat romantic sebagaimana Rasulullah saw. Keromantisan Rasulullah kepada istrinya diriwayatkan dalam sebuah hadits tentang Safiyyah yang menangis kemudian nabi menyekat air mata yang jatuh di pipi Safiyyah sambil bertanya tentang kenapa Safiyyah menangis. Di riwayat yang lain, ketika selesai dari sebuah ekspedisi, Amr bin Ash bertanya kepada rasulullah tentang siapa yang rasulullah rindui. Di hadapan para sahabat dan pengikutnya kemudian Rasulullah menjawab Aisyah ra adalah seseorang yang dia rindukan.

Tugas pertama seorang istri
 adalah taat kepada suami sepanjang ketaatannya tidak bertentangan dengan ketaatan kepada Allah swt. Kedua, mempersiapkan diri secara fisik dan emosional. Ketiga, memperlakukan suami dengan baik dan memprioritaskan urusan rumah tangga di atas semuanya. Keempat, saling bekerjasama dengan suami. 

Suami istri saling berbagi kewajiban dan saling pengertian dalam masalah pendidikan, keuangan dan juga saling mengerti dengan kewajiban masing-masing.
 Hubungan antara suami dan istri adalah saling melengkapi, bagaimana saling membahagiakan satu sama lain untuk mencapai kemuliaan dalam ketaqwaan kepada Allah.

Resensi Workshop Orchards of Love “ Your guide to achieving peace & Serenity...The Right Way!” 3-4 Desember 2011 yang disampaikan oleh Syaikh DR Reeda Bedeir, Associate professor Al Azhar University dan trainer Al Maghribi Institute untuk area UK, Canada dan Malaysia. Acara dihadiri oleh 200 orang yang diselenggarakan oleh masjid SHAS IIUM, WAMY dan Al Futuwah ISTAC di IIUM.By Yuni YF
Read More

Sixth Session “Dealing with Marital Problems”






Dalam menikah, kita harus
 mempersiapkan diri untuk menghadapi permasalahan, karena memiliki kehidupan baru dengan seseorang yang berbeda. Ada beberapa factor yang biasanya menyulut ketidaksepakatan. Diantaranya yaitu tentang pemanfaatan uang, masalah mertua, pola asuh anak, stress, kekerasan dalam rumah tangga dan pernikahan antar agama maupun antar budaya, karakter perempuan yang indipenden.

Pasangan khususnya istri harus bisa membelanjakan uang secara tepat. Ketika menikah, dianjurkan untuk
 tidak tinggal bersama mertua dan jangan mudah untuk melibatkan keluarga apabila terjadi permasalahan di antara pasangan. Kita harus menjaga kesehatan anak dan memberikan pendidikan yang terbaik. Sebagai seorang istri, harus memprioritaskan tugas sebagai istri dan anak sebelum memberikan manfaat kepada masyarakat. Bagi pasangan yang telah menikah, hendaknya saling membahagiakan satu sama lain, mengembangkan rasa cinta dan tidak boleh melakukan tindak kekerasan. Hal penting untuk diperhatikan adalah masing-masing pasangan hendaknya menunaikan kewajiban dan melupakan tentang hak. 

Komunikasi merupakan kunci kesuksesan dalam pernikahan. Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam berkomunikasi. Melakukan
 diskusi selayaknya sebuah tim dan berusaha mencari penyelesaian yang baik. Mendengarkan pasangan kita, memberikan perhatian dan menawarkan bantuan. Memiliki kepekaan terhadap perasaan pasangan. Mengambil waktu untuk menyendiri sementara apabila merasa emosi akan meledak. Jangan bertindak “diam” ketika pasangan kita berbuat kesalahan. Jangan mengkritisi pasangan kita, kecuali mengkritisi tindakan atau sikapnya. Jangan defensive. Solusi sederhana dalam mengatasi permasalahan adalah SMS: smile, mercy dan silence.

Resensi Workshop Orchards of Love “ Your guide to achieving peace & Serenity...The Right Way!” 3-4 Desember 2011 yang disampaikan oleh Syaikh DR Reeda Bedeir, Associate professor Al Azhar University dan trainer Al Maghribi Institute untuk area UK, Canada dan Malaysia. Acara dihadiri oleh 200 orang yang diselenggarakan oleh masjid SHAS IIUM, WAMY dan Al Futuwah ISTAC di IIUM.by Yuni YF
Read More

Seventh Session, “Male and Female Psychology”






Antara
 perempuan dan laki-laki secara eksternal dan internal memiliki perbedaan. Diantara perbedaan yang harus dipahami oleh pasangan adalah sebagai berikut. Laki-laki berkomunikasi secara langsung, sedangkan perempuan berkomunikasi secara tidak langsung. Perempuan akan memulai sesuatu dengan kalimat yang panjang apabila dia akan meminta sesuatu. Laki-laki bersandar pada hal yang fisik sedangkan perempuan bersandar pada emosi. Perempuan melihat secara spesifik sedangkan laki-laki melihat secara garis besar.

Kelemahan yang utama bagi seorang laki-laki adalah perempuan. Laki-laki memerlukan perasaaan untuk dihormati dan dihargai. Dia suka membuktikan dirinya dengan apa yang dia berikan. Ketika seorang laki-laki stress, dia ingin menyelesaikan dengan menyendiri. Otak laki-laki hanya dapat memikirkan satu hal dalam satu waktu sedangkan perempuan dapat berpikit tentang banyak hal dalam satu waktu. Seorang laki-laki akan mencari solusi dan akan meminta saran istrinya apabila diperlukan. Sedangkan seorang perempuan memerlukan seseorang untuk mendengarkannya.
 

Resensi Workshop Orchards of Love “ Your guide to achieving peace & Serenity...The Right Way!” 3-4 Desember 2011 yang disampaikan oleh Syaikh DR Reeda Bedeir, Associate professor Al Azhar University dan trainer Al Maghribi Institute untuk area UK, Canada dan Malaysia. Acara dihadiri oleh 200 orang yang diselenggarakan oleh masjid SHAS IIUM, WAMY dan Al Futuwah ISTAC di IIUM. By Yuni YF
Read More

Eighth Session “Success or Divorce”






Perceraian adalah sesuatu yang
 halal tetapi dibenci oleh Allah. Tidak boleh bagi seorang laki-laki maupun perempuan dengan mudah mengucapkan kata atau perbuatan yang menunjukkan ke arah perceraian. Demikian juga, perceraian bukanlah sebuah bahan candaan. 

Pasangan hendaknya
 bersabar jika terdapat permasalahan dan mencoba mencari jalan terbaik, untuk selanjutnya pasrah kepada Allah dan Rasulnya. Bagi seorang suami, diperbolehkan memukul, namun yang tidak memberikan akibat kepada tubuh sebagaimana Rasulullah menepuk istrinya dengan menggunakan siwak sebagai bentuk mengingatkan pasangan. Namun apabila pukulan tersebut menyakitkan bagi istrinya, maka hal ini tidak diperbolehkan. Sebagaimana diriwayatkan sebuah hadits ketika 17 perempuan datang menghadap Rasulullah karena dipukul oleh suami mereka. Kemudian rasulullah bersabda bahwa para suami tersebut bukanlah suami yang baik di antara umatnya.

Yang menentukan kesuksesan rumah tangga juga ditentukan oleh
 pemenuhan hak yang sesuai dari para suami kepada istrinya. Sebuah hadit meriwayatkan tentang aduan istri Abdullah bin Amr kepada Rasulullah setelah sekian lama berumah tangga, dia merasa tidak dipenuhi secara batin oleh suaminya. Abdullah bin Amr adalah seorang yang rajin beribadah hingga tidak ada waktu untuk istrinya. Ketika malam pertamapun, salah satu surat yang dibaca ketika sholat adalah Al baqarah hingga sholat selesai menjelang fajar. Kemudian Rasulullah menasehati kepada Abdullah bin Amr bahwa kita harus seimbang dalam menunaikan tiga hak, yaitu hak untuk Allah sebagai ‘abid, hak untuk tubuh kita, dan hak untuk istri. 

Resensi Workshop Orchards of Love “ Your guide to achieving peace & Serenity...The Right Way!” 3-4 Desember 2011 yang disampaikan oleh Syaikh DR Reeda Bedeir, Associate professor Al Azhar University dan trainer Al Maghribi Institute untuk area UK, Canada dan Malaysia. Acara dihadiri oleh 200 orang yang diselenggarakan oleh masjid SHAS IIUM, WAMY dan Al Futuwah ISTAC di IIUM.by Yuni YF
Read More

Ninth Session “Some Critical Issues”







Islam memerintahkan kita untuk menikah. Bahkan Rasulullah menganggap bahwa orang yangtidak menikah bukanlah pengikutnya. Ada empat hukum dalam menikah, yaitu
 wajib ketika seseorang secara fisik dan financial mampu untuk menikah dan takut terjatuh dalam perzinaan. Menjadi sunnah ketika seseorang secara fisik dan financial mampu untuk menikah dan tidak takut terjatuh pada perzinaan. Haram hukumnya ketika seseorang impoten dan tidak disukai apabila mengancam keselamatan pasangan.

Memilih menjadi seorang
 laki-laki dan perempuan yang tidak menikah apakah sebuah pilihan dalam Islam? Padahal antara laki-laki dan perempuan diciptakan untuk saling melengkapi dan untuk membentuk masyarakat membangun umat. Apakah seorang laki-laki ingin mengikuti jejak nabi Isa dan nabi Yahya? Atau terinspirasi oleh Ibnu Taimiyah dan Imam Nawawi? Banyak perempuan yang tidak memprioritaskan untuk menikah karena mengejar karir semata atau karena memiliki standard yang tidak realistis. Mungkin memilih hidup sendiri ini dapat diwujudkan apabila laki-laki tersebut dapat menjaga kesucian seperti nabi Yahya dan Isa. Ataupun dapat memanfaatkan waktu selama hidupnya untuk mencari dan mengembangkan ilmu seperti Ibnu taimiyah dan Imam Nawawi. Tetapi mungkinkah hal ini bisa dilakukan dalam dunia saat ini?

Fenomena banyaknya
 perempuan yang semakin tua, namun belum menikah dapat kita saksikan pula dewasa ini. Di Mesir ketika tahun 1999, dimana terdapat 9 juta perempuan yang berumur 38 tahun dan belum menikah. Terjadi pula di Jerman setelah perang dunia kedua terdapat lima juta perempuan yang berdemonstrasi untuk mendapatkan perlindungan dan mendapatkan legalitas pernikahan. So, adakah solusi?

Poligami menjadi solusi yang sangat mungkin dilakukan
. Islam tidak hanya memperhatikan setiap individu, tetapi juga masyarakat. Poligami merupakan bentuk
 kebebasan bagi seorang laki-laki. Diperbolehkan berpoligami sebagaimana dalam surat Annisa dengan tidak melebihi 4 istri namun dengan catatan bahwa suami harus dapat berbuat adil. Poligami bukanlah sebuah budaya, namun harus dilakukan atas alasan yang dibenarkan oleh hukum Islam. Bukan untuk pemuasan nafsu para suami semata, tapi memberikan kontribusi terhadap permasalahan social masyarakat. Rasulullah monogami selama 25 tahun ketika memiliki istri Khatijah. Setelah Khatijah meninggal Rasulullah menikah dengan istri-istri berikutnya dengan alasan yang sesuai hukum Islam. Beliau menikahi Saudah seorang janda yang berumur mendekati 70 tahun.

What is the next? Ketika kita masih dalam kesendirian, maka
 doa menjadi langkah yang utama. Kemudian menurunkan standard ekspektasi pasangan kita baik dari segi umur, kelas social dan pendidikan. Selain itu, tetaplah fokus pada kerja professional kita, apapun posisinya. Wallahu’alam bishawab

Resensi Workshop Orchards of Love “ Your guide to achieving peace & Serenity...The Right Way!” 3-4 Desember 2011 yang disampaikan oleh Syaikh DR Reeda Bedeir, Associate professor Al Azhar University dan trainer Al Maghribi Institute untuk area UK, Canada dan Malaysia. Acara dihadiri oleh 200 orang yang diselenggarakan oleh masjid SHAS IIUM, WAMY dan Al Futuwah ISTAC di IIUM.by Yuni YF
Read More

About Alluring

Popular Posts

Total Pageviews

Powered By Blogger · Designed By Seo Blogger Templates