Showing posts with label Special Story. Show all posts
Showing posts with label Special Story. Show all posts

Thursday, January 9, 2014

LET’S DONATE OUR BLOOD !






Alhamdulillah akhirnya hari ini aku bisa memenuhi janjiku untuk berdonor darah. Dulu ketika masih kuliah S1 pernah jadi ketua aksi donor darah di kampus, tapi karena kesehatan yang tidak fit , petugas donorpun tidak berani mengambil darahku. Selama di IIUM, aksi donor darah adalah hal yang biasa, secara rutin dilakukan di lingkungan kampus, baik yang difasilitasi oleh departemen kesehatan Malaysia maupun klinik IIUM bertempat di beranda masjid kampus. Sudah beberapa kali melihat kegiatan itu, namun aku belum pernah ikut donor.
 

Dalam bayanganku sebelumnya, donor darah itu sakit, membuat badan lemas, khawatir kondisi tubuh akan melemah dan rasa takut yang menggelayut di dalam jiwa. Namun ternyata luarr biasaaaa…..bayangan-bayangan itu musnah seketika, saat donor, aku tidak merasakan sakit sekalipun. Setelah isi formulir, dicheck berat badan dan tekanan darah, akupun berbaring dan siap diambil darah. Serasa digigit semut ketika jarum masuk di bagian bawah lengan tangan kanan, namun tidak sakit. Saat pengambilan darahpun tidak ada perasaan apa-apa, bahkan tidak terasa kantong darahpun sudah terisi penuh. Lega rasanya bisa ikut menyumbangkan darah untuk saudara-saudara kita yang memerlukannya. Apalagi kita sebagai pendonor juga akan merasakan manfaat kesehatan dari donor darah. Insha Allah, secara berkala at least enam bulan sekali aku akan mendonorkan darahku, biar kualitas darahku fresh dan bagus. All my friends, let’s donate our blood as a charity, insha allah, Allah will give us rewards coz we contribute to save the human life..aamiin. By Yuni YF
Read More

Should We Accept Their Purpose?









Pertanyaan ini timbul dari pengalaman pribadi beberapa akhwat. Ditulis sebagai bahan sharing, evaluasi diri sekaligus agar mendapatkan solusi yang terbaik. Memang menjadi sebuah hal yang belum terbantahkan ketika wanita dikatakan sebagai salah satu sumber godaan dan fitnah di dunia ini. Tetapi bukan berarti bahwa, hal itu timbul karena kesalahan wanita semata. Kita sadari bahwa fitnah, godaan, sunatullah menjadi bagian dari ujian manusia selama hidup di dunia.

Realita, penulis merasa bahwa kuliah saat ini melanjutkan S2 di luar negeri ternyata dirasakan lebih besar tantangannya dibandingkan ketika kuliah S1 di dalam negeri . Dari observasi, masalah management waktu, cinta dan financial menjadi problem utama seorang mahasiswa dari zaman kuliah S1 hingga sekarang khususya yang menjalani status sebagai mahasiswa yang belum menikah. Karena waktu antara belajar dan aktifitas yang lain yang tidak tertata rapi, study jadi terbengkelai. Karena financial yang tidak mencukupi, maka kuliah jadi mandeg. Begitupula karena masalah cinta, banyak mahasiswa yang terhambat proses studi mereka. Namun sebagai seorang Muslim yang baik, tentu saja akan selalu berusaha menghindari problem tersebut dengan selalu cerdas dalam membuat skala prioritas / memenej waktu, bekerja keras, menjaga hati dan selalu meminta perlindungan kepada Allah. Tapi menurut penulis mungkin akan lebih baik jika sebelum melanjutkan ke pendidikan yang lebih tinggi, mahasiswa menikah terlebih dahulu. Kenapa? Karena dengan menikah, maka masalah-masalah tersebut kemungkinan akan dapat dihindari atau dapat diminimalisir sehingga kegiatan belajar akan dapat berjalan lebih kondusif.
 

Kuliah di kampus Islam dan internasional memang memiliki banyak kelebihan. Kita dapat berinteraksi dengan banyak mahasiswa dari berbagai belahan bumi, yang kebanyakan berasal dari negara-negara Muslim di dunia. Kita juga akan mendapatkan informasi yang lebih luas tentang budaya, maupun up grade informasi terkait dengan situasi yang terjadi di negara-negara Muslim. Dan yang lebih penting adalah terjalinnya tali persaudaraan antara Muslim yang berasal dari Negara-negara yang berbeda (ukhuwah islamiyah) serta memiliki misi yang sama yaitu membawa kemanfaatan untuk menyelesaikan permasalahan umat Islam di dunia.

Selama menuntut ilmu, mahasiswa dituntut untuk aktif dan banyak mengadakan kegiatan diskusi yang terkait dengan tugas kuliah. Alhasil, pertemuan antara laki-laki dan perempuan tidak dapat dihindari. Pemahaman bagaimana menjaga hubungan yang Islami antar lawan jenis menjadi bekal utama dalam berinteraksi. Alhamdulillah kampus juga telah mensetting fasilitas yang terpisah antara ikhwan dan akhwat.

Namun ternyata interaksi tersebut menimbulkan fenomena yang lain. Banyak mahasiswa yang akhirnya menikah ketika kuliah dan mereka berasal dari Negara yang berbeda (cross culture marriage). Banyak diantara mahasiswa di sini yang menikah, antara Malaysia dengan Indonesia, Malaysia dengan Moroko, Turkey dan Bangladesh, Malaysia dengan Bangladesh, Malaysia dengan Nigeria, Singapura dengan India, Indonesia dengan Kenya, Indonesia dan Maldiv dan lain sebagainya, Masha Allah.
 

Fenomena mengajukan lamaran kepada seorang akhwat, seorang aktifis dakwahpun sering terjadi. Sebagai aktifis dakwah yang selalu berusaha menutup aurat dan menjaga sikap Islami, ternyata tetap memiliki daya tarik bagi lawan jenis. Beberapa akhwat memiliki pengalaman yang sama, dilamar oleh mahasiswa dari Negara lain. Kadang perasaan bersalah itu muncul, kenapa “brother” itu bisa tertarik dengan mereka, apakah karena mereka menggoda?menebarkan pesona? astaghfirullah. Insha Allah, para akhwat tersebut sudah selalu berusaha menjaga sikap mereka sesuai koridor Islami, tidak melakukan kontak dengan lawan jenis kecuali dalam hal yang berkaitan dengan study. Sehingga kadang para akhwat heran, kenapa hal ini bisa terjadi?
 

Akhirnya, merekapun memiliki keputusan yang sama yaitu menolak lamaran seorang “brother”. Selama proses penolakan, akhwat harus melewati masa-masa sulit. Pada umumnya “brother” tersebut tidak dengan mudah mau menerima penolakan para akhwat yang dilamarnya. Kita tidak boleh menyalahkan para “brother” ketika melamar akhwat. Sebagai laki-laki, mereka memiliki hak yang sama untuk memilih dan dipilih. Mereka semua adalah Muslim dan memiliki komitmen untuk menjadi Muslim yang baik. Hanya saja mereka berasal dari Negara yang berbeda. Wallahu’alam, semoga bukan karena perbedaan Negara, warna kulit dan harta semata yang menjadi alasan untuk menolak lamaran yang datang. Tidak dinafikan, banyak waktu, fikiran dan air mata yang ditumpahkan si akhwat ketika berjuang menolak lamaran tersebut. Perasaan yang sama diantara para akhwat, yaitu mereka tidak memberikan ruang untuk “brother”. Meski menolak, tapi sungguh, sebenarnya para akhwat tersebut salut kepada “brother”. Mereka telah meiliki keberanian untuk melamar, memilki kesungguhan untuk menggenapkan din dan menunaikan sunnahnya dengan menikah.
 

Siapa yang tidak mau menikah? Mungkin tidak ada yang menjawab NO. Semua pasti berharap married as soon as possible. Ketika umur semakin tahun semakin bertambah, perasaan gelisah karena belum menikah kadangkala tidak dapat dihindari muncul menghinggapi. Namun apa boleh buat, kebanyakan akhwat hanya dapat bersikap menunggu, sambil berdoa biar Allah yang menentukan. Yah, menunggu.....menunggu sang pangeran yang tidak pasti kapan akan tiba dan datang melamarnya. Tetapi insha Allah, harapan itu masih ada. Muslimah harus selalu yakin akan janji Allah, bahwa Allah akan menikahkan yang sholih dengan yang sholihah, mukmin dengan mukminah dan sebaliknya. Ditengah ujian, fitnah dan godaan dalam kehidupan yang terus menghadang, semoga para akhwat dapat menjaga keistiqamahan niat mereka, semata-mata menikah di jalan dakwah, agar terus kontributif bagi dakwah. Teriring doa, Ya Rabbi, anugerahkanlah kepada kami suami-suami kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati kami dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. Aamiin. by Yuni YF
Read More

Notes From Rencong City, WARUNG KOPI









Ya, kita jumpa di warung kopi Sorong jam 10. Itu adalah SMS pertama yang saya dapatkan dari salah satu responden tentang kesediaan mereka untuk mengisi kuisioner proyek penelitian kami. Pucuk dicinta ulampun tiba, hati membuncah ketika mendapatkan kesempatan untuk bertemu dengan mereka. Hal ini berarti membuka jalan kemudahan bagi saya dalam melakukan penelitian selama dua minggu di seluruh Aceh dengan responden dari kalangan akademisi, ulama, politisi, pebisnis dan masyarakat umum. Tapi, kenapa di warung kopi?. Sempat bertanya di dalam hati, masak sih perempuan harus nongkrong di warung kopi?. Apa lebih baik saya menolak dan mengungkapkan nada keberatan kalau saya tidak mau bertemu dengan mereka di tempat itu.Namun setelah sejenak berpikir akhirnya bismillah, di tengah bayang-bayang warung kopi yang tidak mengenakkan, akhirnya saya mengiyakan pertemuan dengan responden di tempat itu. Berikutnya, SMS seperti itu tidak hanya sekali saya terima,ada banyak responden yang memilih warung kopi dan kafe sebagai tempat untuk mengisi kuisioner.
 

Saya kemudian mencari informasi tentang warung kopi. Ternyata, warung kopi di banda Aceh jumlahnya lebih banyak dibandingkan di kota lain di Aceh, menjamur tersebar di banyak pedesaan maupun perkotaan, dari yang sederhana sampai modern, seperti kafe. Warung kopi adalah tempat yang familiar dan menjadi tempat favorit untuk melakukan pertemuan. Baik pertemuan sekedar ngobrol, melepaskan lelah hingga deal-deal politik yang dilakukan pejabat. Masyarakat yang gemar di warung kopipun beragam, tua-muda dari kelas ekonomi bawah hingga menengah atas.
Ketika di warung kopi, sepuluh menit pertama saya merasa sedikit canggung. Maklum, selama ini saya tidak pernah berada di tempat itu. Saya dan kawan saya adalah perempuan di antara pengunjung yang didominasi laki-laki. Tapi karena kami kemudian fokus pada kepentingan penelitian, maka rasa canggung tesebut mengikis dengan sendirinya, alhamdulillah. Oia, di warung kopi, menu yang dihidangkan sangat sederhana. Minuman dari teh, kopi, jahe,susu dan lainnya baik panas maupun dingin dan biasanya di meja juga tersedia makanan ringan khas Aceh. Kita juga bisa memesan makanan berat, nasi dengan bermacam variasi menu.

Warung kopi, jadi mengingatkan saya dengan sosok pendiri pergerakan Ikhwanul Muslimin, Syaikh Hasan al Bana.Dahulu tokoh tersebut berdakwah dari satu kedai kopi ke kedai kopi yang lainnya. Dari tempat tersebut, beliau menyebarkan pemikiran, mengajak untuk beramar ma’ruf sekaligus membangun semangat masyarakat untuk menumbangkan kezaliman penguasa di masa itu. Tidak heran jika kemudian pemikiran beliau membuat banyak orang rela menjadi pengikut dan siap digerakkan.
Saat ini, warung kopi bagi saya menjadi hal yang tidak perlu ditakuti lagi, inna a’malu bi niat. Dan bagi kaum adam, menurut saya tempat ini dapat menjadi salah satu tempat yang strategis untuk berdakwah sebagaimana syaikh Hasan al Bana. Nah, ayo siapa yang berani mengikuti beliau? ByYuni YF
Read More

RUQYAH Experience





Pernah dengar tentang dunia ruqyah meruqyah? Pastibukan hal yang asing di sekitar kita. Tapi kalo menjadi seorang peruqyah, pasti tidak setiap muslim mau melakukannya, iyya ga?

Awalnya saya juga berpikiran sama, tidak ada keinginan untuk menjadi seorang peruqyah. Dalam pikiran saya, seorang peruqyah itu harus hafal banyak surat dalam al Qur’an dan harus mampu melawan jin..Hiiiiiii
 

Tapi ternyata tidak serumit yang dibayangkan...benerrrr. Siapapun ternyata bisa aja jadi peruqyah. Apalagi kalau keadaan memaksa kita untuk bisa menjadi peruqyah, misalnya ketika kita berada di daerah yang tidak ada ahli ruqyah sedangkan ada orang yang sangat memerlukan bantuan untuk diruqyah. So,,,,siapa aja harus siap mengemban amanah itu. Menurut saya, yang penting untuk menjadi seorang peuqyah adalah bisa baca ayat-ayat alQur’an sesuai tuntunan dan berani. Hal ini berdasarkan pengalaman pribadi.

Ceritanya begini, beberapa hari yang lalu saya dan 3 kawan saya diamanahi untuk membaca al-Qur’an di rumah seorang dosen perempuan. Singkat punya cerita, bu dosen ini pernah terkena sihir dan masih sering merasakan hingga saat ini. Malam hari, karena kesulitan mencari ahli ruqyah, maka kami memberanikan diri untuk melakukan ruqyah. Saya memegang ubun-ubun beliau sambil menepuk-nepuk punggung beliau dan sesekali kawan saya menggantikan. Sedangkan dua kawan yang lain memegangi jempol kaki dan membaca ayat-ayat ruqyah yang mengikut dalam sebuah buku. Sempat agak ragu, apakah aksi kami bisa mengusir jin yang ada pada bu dosen? Tapi tetap saja kami melakukan ruqyah hingga bacaan selesai. Akhirnya, kira-kira pukul 12 malam ruqyah kami selesai. Kata bu dosen, dia merasa lebih baik, Alhamdulillah. Yup, ternyata kami bisa, meski ini merupakan pengalaman kami yang pertama.Intinya memang harus berani.

Siang harinya, kami berhasil membawa seorang ahli ruqyah, yang sudah bertahun-tahun melanglang di dunia ruqyah meruqyah..he33. Aksi ruqyahpun dimulai. Pertama, kami melakukan ruqyah rumah dengan memercikkan air pada setiap sudut rumah. Air itu telah dibacakan ayat alqur’an terlebih dahulu. Kemudian, bu dosen kembali diruqyah bergantian dengan anak laki-lakinya yang berumur 14 tahun. Tampaknya bu dosen puas dengan aktifitas ruqyah yang kami lakukan. Alhamdulillah, kamipun pulang kembali ke kampus setelah dua malam menginap di rumah dosen tersebut...benar-benar lega akhirnya.

Pelajaran yang dapat diambil dari pengalaman meruqyah adalah antara jin dan manusia memiliki kehidupan sendiri-sendiri. Sepanjang manusia tidak mengganggu jin, maka sepanjang itulah jin tidak akan mengganggu manusia. Jika ada jin jahat yang mengganggu manusia, maka yakinlah bahwa pada dasarnya jin tersebut adalah lemah. Karena dia tidak menjadikan Allah sebagai pelindung, sedangkan kita menjadikan Allah sebagai pelindung diri kita.

Jangan pernah kita bekerjasama dengan jin jahat. Karena jika kita bekerjasama, maka kita telah berbuat syirik kepada Allah. Bahkan dukun-dukun yang bersekongkol dengan jin adalah halal untuk dibunuh.

Ala kulli hal, di sekitar kita terdapat banyak jin yang baik. Agar terhindar dari kejahatan jin, maka hendaklah berzikir, membaca ma’tsurat dan selalu mendekatkan diri kepada Allah setiap waktu. Apalagi bagi seorang perempuan, ketika masa menstruasi biasanya membuat jiwa labil dan bisa jadi jin jahat akan dengan mudah mengganggu. Semoga Allah selalu melindungi diri kita dari kejahatan jin dan syaitan. Dan dalam kondisi terpaksa apabila ada saudara kita yang sangat perlu untuk diruqyah sedangkan pada waktu itu tidak ada ahli ruqyah, maka jangan ragu bagi kita untuk meruqyah.Berani dan sedia selalu buku pedoman ruqyah, Oke? Wallahu’alam.by Yuni YF
Read More

Serba-Serbi Konferensi








Sebenarnya sudah agak lama ingin menulis tentang kesan mengikuti konferensi maupun seminar selama ini. Banyak hal baru yang didapatkan, baik yang menyenangkan maupun mengecewakan. Sharing pengalaman yang didapatkan ketika berperan sebagai peserta maupun panitia konferensi.
 

Ketika dulu semasa kuliah S1, mengikuti seminar internasional itu bagaikan hanya sebuah mimpi...huff. Yup, di benak saya, pasti kita harus bayar banyak (jutaan rupiah) dan pake bahasa Inggris. So, semasa kuliah S1 saya belum pernah mengikuti seminar skala internasional, maklum dari kampus kecil, dari kota kecil pula..he3. Beberapa kali ikut seminar maupun musyawarah tingkat nasional di Jakarta, Bandung, Semarang saja saya sudah senang dan menjadi prestasi tersendiri buat saya...he.

Alhamduillah, dibandingkan di Indonesia, saya merasa lebih beruntung kuliah di Malaysia. Kenapa? Salah satunya adalah karena di sini untuk dapat mengikuti konferensi maupun seminar international adalah lebih mudah bahkan sering tanpa perlu mengeluarkan biaya. Padahal jika membayar, maka kita harus mengeluarkan kocek yang tidak sedikit, mulai dari RM300 hingga ribuan ringgit per orang. Beberapa kali mengikuti seminar dan konferensi tingkat internasional baik di kampus maupun di Twin Tower, PWTC, IAIS, Seri Pacific Ballroom dll Alhamdulillah saya tidak pernah mengeluarkan uang. Yup, mahasiswa cukup hanya mendaftar via on line dan biasanya first come first serve alias siapa cepat dia dapat..he3. Bayangkan, kita tidak perlu mengeluarkan modal uang, namun kita bisa mendapatkan materi dari para pembicara yahud, menikmati fasilitas makan dan handy bag dan yang tidak kalah pentingnya kita dapat menambah networking pasca seminar. Topik seminar yang saya ikutipun sangat beragam mulai dari tentang pendidikan, isu Palestina, Islamic finance, woman enterpreneur, Muslim youth, Islamic tourism dan yang lainnya. Selama ini, jika ada info seminar dan kebetulan ada waktu, maka mahasiswa di sini bersemangat untuk mengikutinya.

Jangan salah, ternyata kedatangan peserta dari kalangan mahasiswa itu sangat dielu-elukan oleh panitia acara. Betulkah?betull, biasanya delegasi dari akademisi mendapatkan jatah tersendiri dan mereka free on charge alias gratis, yang penting datang...he3. Asumsinya, kalangan akademisi adalah kumpulan orang yang tepa dan terbiasa dengan agenda seminar dan mendengarkan ceramah. Hal ini saya ketahui dari ketika beberapa hari yang lalu menjadi panitia seminar (panitia dapat honor RM100/hari). Panitia telah mengalokasikan 150 pack untuk mahasiswa dari total peserta 300 undangan tetapi yang datang hanya 37 mahasiswa.Coba bayangkan begitu sedihnya, hanya sedikit yang datang..hiks. Apalagi tempat dan fasilitas sudah booked jauh-jauh hari sebanyak 300 pack, so menimbulkan banyak kemubaziran. Nah, ternyata, mahasiswa berperan penting dalam seminar bukan?ini sekilas cerita di Malaysia, bagaimana di Indonesia?

Trus ada juga kisah lucu ketika menjadi panitia konferensi. Dalam bayangan saya, international conference itu semuanya serba formal, pake jas, bersepatu, kalo perlu atas bawah berwarna putih hitam, tapi ternyata,.....salah....Suatu hari kawan saya, yang menjadi petugas pembawa souvenir untuk pembicara, dia memakai sandal jepit seperti Carvile kalo di Indonesia..he33, namun kebetulan celananya panjang, jadi tidak begitu kentara kalau dia bersandal jepit yang bagian depan kakinya terbuka. Ada lagi kawan saya yang lain yang menjadi MC, dia memakai baju sweater hijau dan rok jeans plus sandal selop..ha..ha..pokoknya gaul banget. Bagi saya kedua hal tersebut kurang sedap dipandang, tapi kawan-kawan saya cuek saja dan heran juga dari ketua panitia tidak menegur. Yah, kejadian itu semoga tidak terulang lagi.

Selain senang dan lucu,saya juga memiliki perasaan kecewa dari beberapa seminar yang pernah dikuti. Meski forum tersebut membawa isu Islami, misalnya tentang entrepreneur wanita dalam perspekti Islam, atau Turisme Islami, tapi ternyata event organizernya belum sepenuhnya sharia compliance/sesuai nilai-nilai Islam. Beberapa panitia tidak berjilbab bahkan master of ceremony-nya tidak mengenakan kerudung. Selain itu, sudah hal lumrah ketika coffee break peserta konferensi selalu standing party or berdiri. Saya merasa bahwa seminar maupun konferensi tersebut hanya bernilai komersial saja dan kurang bisa menampilkan ruh Islam selama kegiatan berlangsung.

Dari sedikit pengalaman mengikuti konferensi maupun seminar di atas, hal yang penting menurut saya adalah perlunya event organizer yang Islami yang memiliki komitmen untuk menyajikan acara yang Islami pula. Sehingga ruh Islam dalam setiap konferensi yang mengangkat isu-isu Islam dapat didapatkan selama acara berlangsung. Suatu saat saya ingin memiliki Event organizer yang islami semoga, insya Allah. Wallahu’alam. By Yuni YF
Read More

Mystery Telephone Shopping





Kalo denger kata mystery pasti kita langsung membayangkan hal yang serem-serem dan mendebarkan..iya gak?Tapi ternyata, ga semua loh...mystery yang satu ini justru lucu dan sering membuat tertawa..he33. Ceritanya begini, ada kawan yang menawarkan pekerjaan sebagai interviewer. Langsung deh saya terima proyek tersebut. Pertimbangannya, karena hanya bekerja selama tiga hari di sela – sela jadwal kuliah, so kenapa tidak?.

Setelah melakukan 2 jam briefing, dimulailah pekerjaan menginterview, tepatnya saya dan beberapa kawan menginterview para staff bank CIMB. Kami berlakon seperti customer bank CIMB dengan menggunakan telepon. Kami harus dapat berperan sebagai calon customer yang ingin tahu tentang produk mereka dan mengusahakan agar staff CIMB tidak mengetahui jika sebenarnya performance mereka sedang diinterview. Inilah yang disebut Mystery Telephone Shopping. Diantara produk yang menjadi pertanyaan selama misteri telepon berlangsung adalah produk CIMB cliks, eMaster Card, Wadiah Teenage Saving Account, Youth Saved Account. Tujuan dari interview ini adalah bank CIMB melakukan penilaian kepada staffnya mengenai kesopanan dan pengetahuan produk.
 

Di sela-sela interview saya dan kawan-kawan sering tertawa, karena menyadari bahwa ketika interview kadang kami harus berperan bukan kami saat ini. Misalnya saya berperan sebagai sekretaris bos sebuah perusahaan, Ibu dari anak yang berumur 15 tahun, istri seorang pegawai yang kaya dan lainnya. Overall, saya menikmati pekerjaan interview ini. Kenapa? Karena saya dapat berinteraksi dengan staff CIMB, mengetahui bagaimana seorang pegawai melayani customer dan juga mendapatkan pengetahuan tentang produk – produk CIMB yang menarik seperti Gold Saving, air asia account dan fixed deposit. Tentang kesopanan, mayoritas para staff CIMB sopan dan dapat melayani customer dengan baik. Namun tentang pengetahuan produk, beberapa staff belum dapat menjawabnya dengan tepat.

Meski proyek tersebut telah berakhir, akan tetapi ada beberapa kalimat yang masih terdengar familiar di telinga. Hal in terjadi karena di setiap interview, para staff CIMB selalu mengucapkan kalimat tersebut. Diantara kalimat yang mereka ucapkan adalah Good morning, Zahra speaking, is there anything i can help u madam? thank you for calling CIMB and have a nice day...Lastly, thank you Amy for invited me to involve in this project.by Yuni YF
Read More

To be an Invigilator, Why Not?






Mungkin aneh bagi yang pertama kali dengar istilah invigilator, seperti ketika saya mendengar pertama kali dulu. Invigilator itu orang yang bertugas sebagai pengawas ujian. Ini project bagi mahasiswa postgraduate khususnya pada musim ujian dan biasanya mereka mendapatkan income perjam, berkisar RM15-RM50. Dari dua kali menjadi invigilator, saya bersyukur karena mendapatkan pengalaman yang menyenangkan.
Pertama kali diamanahi invigilatr untuk final exam CCAC yang berada di hal CAC IIUM. Bersama sekitar 50an pengawas yang lain, kami ditugasi mengawasi jalannya ujian untuk sekitar 1000an mahasiswa S1. Alhamdulillah, tugasnya tidak terlalu berat, karena hanya membagi soal, mengumpulkan jawaban dan ujian hanya berlangsung selama 30 menit.
 

Kedua kalinya, ketika menjadi invigilator untuk midterm mata kuliah Islamic banking mahasiswa S1. Waktunya selama 2 jam dilaksanakan di ruang kuliah ekonomi. Pengawasan lebih extra karena peserta duduk berdekatan, 2 session digabung menjadi satu kelas dalam satu waktu. Melihat mereka dalam mengerjakan soal, saya jadi teringat kalau saya sedang mengerjakan ujian. Ternyata menggelikan, melihat mereka yang sadar atau tidak sadar sering menepuk jidat, melamun, tatapan mata berpikir, komat kamit mengulang hapalan sampai yang berusaha saling memberikan jawaban. Beberapa kali saya mengingatkan mereka yang mencoba berbuat tidak jujur baik dengan hanya menggelengkan kepala maupun menegur secara langsung. Tidak dapat dipungkiri bahwa, sebagai seorang invigilator maka memiliki kesempatan untuk nahi mungkar. Mencegah peserta ujian untuk bertindak tidak jujur.

Ala kulli hal, ternyata perbuatan tidak jujur masih berlaku di kalangan mahasiswa. PR besar untuk bisa menumbuhkan awareness jujur dalam segala hal dan selalu merasakan pengawasan Allah dalam setiap aktifitas kita. Dimulai dari diri kita, BE YOUR SELF and BE HONEST...by Yuni YF
Read More

To be an Invigilator, Why Not?






Mungkin aneh bagi yang pertama kali dengar istilah invigilator, seperti ketika saya mendengar pertama kali dulu. Invigilator itu orang yang bertugas sebagai pengawas ujian. Ini project bagi mahasiswa postgraduate khususnya pada musim ujian dan biasanya mereka mendapatkan income perjam, berkisar RM15-RM50. Dari dua kali menjadi invigilator, saya bersyukur karena mendapatkan pengalaman yang menyenangkan.
Pertama kali diamanahi invigilatr untuk final exam CCAC yang berada di hal CAC IIUM. Bersama sekitar 50an pengawas yang lain, kami ditugasi mengawasi jalannya ujian untuk sekitar 1000an mahasiswa S1. Alhamdulillah, tugasnya tidak terlalu berat, karena hanya membagi soal, mengumpulkan jawaban dan ujian hanya berlangsung selama 30 menit.
 

Kedua kalinya, ketika menjadi invigilator untuk midterm mata kuliah Islamic banking mahasiswa S1. Waktunya selama 2 jam dilaksanakan di ruang kuliah ekonomi. Pengawasan lebih extra karena peserta duduk berdekatan, 2 session digabung menjadi satu kelas dalam satu waktu. Melihat mereka dalam mengerjakan soal, saya jadi teringat kalau saya sedang mengerjakan ujian. Ternyata menggelikan, melihat mereka yang sadar atau tidak sadar sering menepuk jidat, melamun, tatapan mata berpikir, komat kamit mengulang hapalan sampai yang berusaha saling memberikan jawaban. Beberapa kali saya mengingatkan mereka yang mencoba berbuat tidak jujur baik dengan hanya menggelengkan kepala maupun menegur secara langsung. Tidak dapat dipungkiri bahwa, sebagai seorang invigilator maka memiliki kesempatan untuk nahi mungkar. Mencegah peserta ujian untuk bertindak tidak jujur.

Ala kulli hal, ternyata perbuatan tidak jujur masih berlaku di kalangan mahasiswa. PR besar untuk bisa menumbuhkan awareness jujur dalam segala hal dan selalu merasakan pengawasan Allah dalam setiap aktifitas kita. Dimulai dari diri kita, BE YOUR SELF and BE HONEST...by Yuni YF
Read More

My Lecturers and How am I in the Future?









Selama kuliah di UIA, masha Allah membuat semakin bersyukur. Mayoritas dosen di sini, begitu welcome terhadap mahasiswa. Bagi saya para dosen di sini dengan segala kelebihan dan kekurangannya memberikan kesan tersendiri. Para dosen di sini menyediakan waktu konsultasi di sela-sela mengajar. Insya Allah akan menjadi bekal nantinya ketika saya menjadi dosen, insya Allah. Siapa dan bagaimana dosen di sini?silakan disimak ya....

Prof ML,
Beliau dari Algeria, mengajar mata kuliah statistic bisnis. Masha Allah, sebelum memulai kuliah, Mr M selalu memimpin membaca al fatihah, bahkan setelah istirahat 30 menitpun kita mengulangi membaca al fatihah. Di kampus, baik mahasiswa maupun dosen yang berasal dari Aljazair memang terkenal kuat di bidang matematika. Selain itu, yang istimewa beliau di mata saya adalah, sikap kesederhanaan dalam berpenampilan meski sebagai seorang profesor. Beliau terlihat pendiam, tetapi selalu menebar salam dan senyum ketika berjumpa dan hampir selalu ditemani oleh mahasiswa yang sedang berkonsultasi ketika saya berpapasan di jalan. Saya pernah berkonsultasi dengan beliau diruangnya, Alhamdulillah terlihat bersahabat dan responsive terhadap problem mahasiswa.

Prof AKMM,
Profesor yang terkenal sebagai dinaris ini adalah warga Malaysia keturunan India. Masha Allah, murah senyum dan cerdas.Beliau, mengampu kuliah Money Banking, international Finance dan Financial Derivative. Ketika di dalam kelas, karena suaranya tidak keras sekali dan intonasi bicara yang cepat, maka para mahasiswa agak sulit dalam menyerap pelajaran. Sehinnga kami harus mendengarkan dengan seksama, amannya harus duduk di depan..he2. Karena kesibukan beliau yang padat, tidak heran jika untuk berkonsultasi dengan beliau, kita harus appointment dan antri terlebih dahulu. Saya sedikit mengenal keluarga beliau, istri dan anak perempuannya, yup keluarga besar yang bersahaja. Komitmen beliau tentang penerapan system emas, terbukti dari buku-bukunya tentang topic tersebut dan terealisasinya pemakaian dinar dirham di Negeri Perak. Beliau berazzam memperjuangkan system standard emas selama sisa hidupnya. Masha Allah.
 

DR SK,
Calon professor perempuan yang sangat bersemangat, masha Allah. Beliau tegas dan lantang ketika memberikan kuliah dalam kelas. Saya mengikuti kelas Busines ekonomi bersama beliau. Ibu berputra empat ini begitu energik dan ramah. Ketika berpapasan, beliau tidak pernah lupa untuk memberikan senyum dan salam. Bagi saya beliau merupakan salah satu perempuan yang produktif dalam keluarga maupun dalam bekerja. Yang sering beliau lontarkan adalah kritikan terhadap fenomena muslim yang hidup dengan sumberdaya alam melimpah dan kaya tetapi tidak memiliki produktifitas kerja seperti non muslim yang hidup di Negara yang miskin dalam sumber daya alamnya.
 
Masih buanyak dosen...... bersambung ya...By Yuni YF
Read More

Serba Serbi Bis Kota KL






Ada yang berbeda antara angkutan bis di Indonesia dan di Kuala Lumpur. Tepatnya, di KL menurut saya fasilitas lebih modern dan sistemnya lebih rapi daripada di Indonesia. Di negeri ini, angkutan umum disediakan oleh bis RapidKL yg merupakan representative dari pemerintah dan metrobus yang dimiliki oleh swasta.
 

Diantara perbedaan yang jelas diantara dua jenis bis itu adalah sopir bis RapidKL yang selalu berseragam, sedangkan metrobus tidak berseragam dan di rapidKL pembayaran transport menggunakan mesin atau dengan kartu Touch n Go sehingga tidak memerlukan kernet untuk menemani sopir. Sedangkan di metrobus, sopir ditemani oleh kernet yang bertugas mengambil ongkos dari para penumpang dengan mengedarkan tiket. Bus RapidKL lebih efisien, bahkan manfaat lain dari fenomena RapidKL adalah memiliki sangat kecil peluang bagi sopir untuk melakukan korupsi ongkos penumpang, lebih hemat serta ramah lingkungan karena tidak mengeluarkan kertas untuk tiket penumpang. So, lebih efektif dan efisien bukan?

Berkaitan dengan ongkos transportasi antara RapidKL dengan metrobus bisa dikatakan tidak berbeda, mungkin karena sudah ada kesepakatan penentuan harga yang diatur oleh pemerintah. Tapi bagi saya, lebih memilih menggunakan bis RapidKL daripada metrobus karena lebih efisien dan nyaman. Apalagi kecenderungannya, bis RapidKL lebih cepat dibandingkan metrobus. Berapapun penumpang yang ada di RapidKL, sopir tetap melaju. Tapi kalau kita naik metrobus, sering lambat karena harus mencari dan menunggu hingga dirasakan cukup penumpang.

Ada lagi nilai plus bis di KL, yaitu baik metrobus maupun RapidKL dilengkapi dengan Air Conditioner (AC) sehingga penumpang merasa nyaman. Apalagi, selama ini, ketika naik bis, penumpang tidak ada yang merokok dalam bis, luar biasa bukan?
Oia, bis di KL, setahu saya, jam operasionalnya dari pukul6 pagi hingga 11 malam. Bis RapidKl biasanya terdapat dua shift kerja yang dimulai dari pagi hingga malam. Namun metrobus biasanya lebih awal berhenti, saya jarang melihat metrobus beroperasi di malam hari.

Ada fenomena yang berbeda antara bis KL dengan Indonesia. Mungkin karena d KL situasi jalan dan lingkungan sekitar yang lebih rapi dibandingkan di Indonesia, maka banyak sopir bis dan kernet dari kalangan wanita. Bahkan khususnya, bis yang lewat di kampus saya yaitu metrobus 91, banyak diantaranya adalah wanita, ada yang berjilbab dan ada yang tidak, dan mayoritas mereka adalah orang Padang. Hal ini terlihat dari bahasa yang mereka gunakan selama bercakap di bis. Saya sering merasa kasihan khususnya bagi sopir RapidKl perempuan yang harus bekerja di malam hari, saya membayangkan begitu beresiko kerja sebagai sopir perempuan di malam hari, khususnya dari segi keamanan. Bagi saya, ini sebuah dilema. Meski lingkungan sekitar lebih aman dibandingkan di Indonesia, tapi posisi perempuan yang terbaik tetap menjadi manajer dalam keluarga, mengurusi keperluan domestic di rumah. Tapi saya tidak bisa menyalahkan, karena pada umumnya mereka berkerja adalah karena tuntutan ekonomi keluarga agar mereka survive.
 

Hal yang tidak lazimpun terlihat dari fenomena bis di KL. Saya menemukan sopir perempuan yang berpenampilan seperti laki-laki, sampai-sampai kawan-kawan saya menilai dia adalah seorang laki-laki. Bagaimana tidak, jika dia berambut pendek seperti laki-laki, bergaya dan berpenampilan persis laki-laki. Dan terdapat pula sopir laki-laki tetapi berdandan seperti perempuan, yaitu menggunakan bedak, berlipstik dan diikat rambutnya, innalillahi. Kurangnya kesadaran beragama, lingkungan yang membentuk maupun kelainan sejak lahir pribadi menjadi penyebab menjamurnya fenomena seperti itu di sekitar kita. Semakin menguatkan bukti bahwa saat ini tanda-tanda akhir zaman kian dekat, insya Allah.

Ala kulli hal, ada banyak sisi positif dari aktifitas bis di KL yang bisa diambil manfaatnya untuk diterapkan di Indonesia. Namun, sisi negativepun tidak dapat terelakkan, dari fenomena sopir-kernet perempuan maupun perempuan seperti laki-laki dan sebaliknya menjadi tantangan dakwah tersendiri bagi kita seorang muslim. Ya Allah, berikanlah kemudahan dan jalan bagi kami agar selalu menuju keridhaanMu...aamiin. By Yuni YF
Read More

Liaison Officer (LO) is Full Protocol, Isn’t It???






Kesan pertama mendengar kata
 “protocol” bagi saya pasti bakalan ribet banget dech....Dan ternyata 50 % betull, he33. Ceritanya begini, pada tanggal 11 Januari lalu, saya berkesempatan mengikuti training menjadi Liaison Officer untuk konferensi internasional global movement di KLCC pekan depan. Training tersebut diadakan di kantor kementrian Luar Negri Malaysia (IDFR) dari pukul 10 pagi hingga 3 sore di auditorium IDFR dan dihandle langsung oleh ambassador Ramlan Kimin sebagai kepala deputi protocol kementrian. Alhamdulillah, banyak hal yang didapatkan,mulai dari teori hingga simulasi sebagai LO. Ingin tahu? jom kita baca sama-sama!

Liaison dalam kamus
 bermakna hubungan. LO artinya orang yang menghubungkan antara dua organisasi untuk mengkomunikasikan dan mengkoordinasikan aktivitas mereka. Terkait dengan event konferensi yang akan dilaksanakan pekan depan, LO bertugas menghubungkan antara pihak VIP atau pemateri yang umumnya berasal dari luar Negara dengan pihak secretariat konferensi. LO menyampaikan informasi tentang acara kepada pemateri di sisi lain LO juga mengetahui dan menyampaikan informasi tentang pemateri kepada kesekretariatan. Sehingga acara dapat berjalan secara berkesesuaian. 

Apa saja tugas dan tanggung jawab LO?
 Pertama, menjadi ajudan atau asisten bagi VIP dan memberikan masukan kepada mereka tentang hal-hal yang berkaitan dengan event, dari awal hingga akhir program. Kedua, sejak VIP tiba di airport, program dan persyaratan program harus sudah disampaikan secara detail, dipersiapkan pula tentang iring-iringan mobil untuk VIP. Ketiga, program harian harus disampaikan baik secara langsung maupun melalui asisten VIP. Keempat, Jika ada perubahan program maka harus segera disampaikan kepada VIP. Kelima, kegiatan VIP harus diinformasikan kepada secretariat. Keenam, untuk memberikan kontribusi yang maksimal pada segala masalah yang mungkin timbul, kesekretariatan menyediakan bantuan dan masukan kepada LO. Ketujuh, berkoordinasi tentang tanggung jawab satu sama lain adalah penting sekaligus menjadi kunci kesuksesan sebagai team work. Kedelapan, LO harus mengetahui keberadaan tempat acara VIP, tempat duduk, makan malam, sesi foto dan lainnya. Kesembilan, LO juga harus menghadiri pertemuan harian dengan coordinator logistic untuk mendiskusikan program pada hari selanjutnya. 

Sebagai seorang LO, berkewajiban menjaga
 kode etik. Pertama, berpengetahuan tentang protocol lokal maupun internasional. Kedua, berinisiatif menghadiri kursus, berdiskusi, bertanya, mengamati, menganalisa maupun mengevaluasi. Ketiga, berkepribadian menyenangkan dan tetap tenang ketika dalam kesulitan. Keempat, Tetap sehat dan energik sepanjang hari. Kelima, menjaga kesopanan dalam setiap waktu. Keenam, percaya diri dalam berbicara kepada VIP dan baik dalam pengambilan keputusan. Ketujuh, selalu bersiaga dan aktif dalam bergerak.

Untuk menjadi
 LO yang berkualitas, kita perlu memperhatikan tujuh hal. Pertama, berpemikiran terbuka dan dapat berbicara dengan siapa saja. Kedua, dapat memegang informasi dan rahasia. Ketiga, mudah menerima opini orang lain dan fleksibel dalam segala situasi, siaga dan selalu “on call”. Keempat, tenang dan rileks setiap waktu. Kelima, dapat menata diri menjadi pribadi yang menyenangkan, sehat dan selalu tepat waktu. Keenam, tidak egois dan selalu berkoordinasi dan kolaborasi dengan siapa saja. Ketujuh, memiliki empati dan sensitive, berperan dalam team work.

Sebelum melakukan tugas sebagai LO juga dituntut untuk melakukan
 persiapan. Pertama, mengetahui Negara dan budaya dari VIP. Kedua, mengidentifikasi bendera Negara VIP. Ketiga, mengetahui tugas dan tanggung jawab sebaga LO secara menyeluruh. Keempat, menghadiri briefing, training, gladi resik dan lainnya. Kelima, menguasai penggunaan alat telekomunikasi. Keenam, mengetahui siapa saja rekan VIP. Ketujuh, bersiaga apabila terdapat sesuatu yang mengancam VIP. Kedelapan, mengetahui siapa saja petugas yang terlibat dalam program.

LO juga harus mengetahui
 beberapa hal selama akomodasi VIP. Pertama, check in di hotel. Kedua, mengidentifikasi lantai dan nomor kamar VIP. Ketiga, memastikan bahwa kamar VIP bersih dan tertata. Keempat, familiar dengan lokasi ruangan, pintu masuk/keluar dan pintu emergency. Kelima, mengetahui lokasi alat pemadam api. Keenam, siap menemani VIP kemanapun pergi. Ketujuh, pengunjung VIP hanya siapa saja yang diizinkan oleh yang berwenang. Kedelapan, apabila terdapat parsel maupun surat untuk VIP, harus disterilkan terlebih dahulu dari bom sebelum disampaikan ke VIP.
Tidak ketinggalan, setiap hari LO memiliki tugas untuk mengupdate program, segera menginformasikan apabila terjadi perubahan, melaporkan pergerakan VIP kepada kesekretariatan, mengecek tempat dan jadwal pertemuan, mencari bantuan ke kesekretariatan dan sebelum beristirahat, selalu mengecek kesekretariatan untuk mendapatkan informasi terbaru.

So, what’s your opinion about LO?
 is it complicated, isn’t it? Semuanya bergantung kepada kita sendiri dalam menjalaninya, siapkah kita secara fisik, mental dan spiritual? Bagi saya, meskipun LO agak sedikit ribet, tapi manfaatnya banyak loh. At least kita mendapatkankesempatan untuk dekat dengan orang-orang penting, mengetahui profil dan sharing ide mereka lebih dekat, mengamati bagaimana mereka dalam keseharian bahkan bisa jadi kita dapat tertular menjadi orang penting seperti mereka...aamiin. Yang pasti, kalau ada kesempatan menjadi LO, jangan disia-siakan. Jangan lupa juga, bahwa kita harus tetap menjaga interaksi kita terhadap lawan jenis, LO laki-laki mendapatkan VIP laki-laki dan sebaliknya. Ala kulli hal, menjadi LO siapa takut? By Yuni YF
Read More

Shenella







Adalah nama seorang
 perempuan muda, energik dan ramah yang penulis temui ketika konferensi global movement of moderates bulan januari yang lalu. Dia adalah cucu salah satu pemateri konferensi yaitu Christopher H Weeramantry, mantan wakil presiden Mahkamah Tinggi internasional. Shenella Fernando merupakan penganut agama kristen yang taat. Pertemuan penulis dengan Shenella mengingatkan tentang pentingnya berdakwah dengan non muslim. 

Selama tiga jam bersama, ada banyak pertanyaan yang diajukan oleh Shenella. Pertanyaan tentang bidang ilmu yang penulis geluti yaitu keuangan Islam, wudhu, sholat,al qur’an dan yang lain.
 Keterbatasan dalam komunikasi dalam bahasa Inggris membuat penjelasan yang diberikan penulis serasa tidak maksimal. Berharap untuk pertemuan yang akan datang, penulis dapat memberikan penjelasan dengan lebih baik.

Untuk kali pertamanya pula, penulis berada di kedai yang berisi tentang barang-barang orang China seperti, lampu merah, tempat meletakkan lidi ketika ibadah, gambar-gambar keramat bagi orang china dan berbagai barang serba berwarna merah yang penulis tidak ketahui namanya. Karena menemani Shenella yang tertarik membeli lampu, maka penulispun memasuki kedai tersebut. Selama ini penulis merasa anti berada di tempat tersebut, jangankan masuk ke dalam kedai, melihat kedai tersebut saja seakan menjadi hal yang tabu untuk di lakukan.

Beberapa hikmah yang diperoleh dari pertemuan dengan Shenella yang pertama adalahberdakwah dengan non muslim adalah sangat penting. Selama ini penulis lebih bersikap menutup diri dengan non muslim yang berada di sekeliling. Hanya bermuamalah dengan mereka tanpa ada niatan untuk memberikan penjelasan tentang agama Islam kepada mereka. Kedua,dalam berdakwah kita harus memiliki pemahaman Islam secara benar dan lengkap
 agar dapat memberikan informasi tentang Islam secara benar kepada non muslim. Ketiga, syukur tidak terkira bahwa hidayah itu sangatlah mahal, Alhamdulillah penulis dilahirkan dalam kondisi Islam dan hidayah hanyalah Allah yang memiliki. Prof Christopher H Weeramantry yang telah berumur 86 tahun, telah menulis buku tentang hukum Islam namun karena Allah belum menurunkan hidayah, maka sampai saat inipun beliau masih menjadi seorang kristian. Ya Allah, kokohkan keimanan kami..aamiin Wallahu’alam bishawab, by Yuni YF
Read More

Is there an Islamic Driver?








Kalimat itu menjadi sebuah
 pertanyaan sejak saya kuliah S1, yang akhirnya membuat diri ini ingin memiliki bisnis tour dan jasa pengangkutan umum. Dulu, saya sering bepergian Magelang – Jakarta dan juga kota-kota besar lainnya untuk mengikuti acara seminar ataupun perlombaan. Selama perjalanan tersebut, saya sering menghadapi kekecewaan terutama ketika sopir tidak memperhatikan waktu sholat subuh, sehingga penumpang biasanya sholat di bis, sholat terlambat karena nunggu sampai tempat tujuan, bahkan ada yang akhirnya tidak sholat, nauzubillahi min zalik. Padahal menurut penulis, para sopir dan penumpang mayoritas adalah umat Islam. Selain itu, biasanya musik pop, rock maupun video dangdut menjadi teman setia selama di bis. Tidak ketinggalan pula, sopir yang merokok meski di dalam bis AC. Sehingga sebagai penumpang, hal ini menjadi ujian kesabaran. Lebih aman memang pergi naik pesawat, tapi uang tidak cukup..hiks. 

Dari situlah, penulis bercita-cita suatu saat ingin memiliki usaha pengangkutan yang Islami.Gambaran jasa tour yang Islami
 dalam benak penulis adalah memisahkan duduk antara laki-laki dan perempuan, berhenti ketika sudah masuk waktu sholat, tidak merokok di dalam bis dan membunyikan nasyid, murotal maupun ceramah-ceramah islami selama bis melaju.Dan tentu saja managemen tour yang profesional, insya Allah. 

Ada
 pengalaman yang berkesan selama melakukan perjalanan di beberapa kota yang ada di Malaysia. Saya menemukan sopir yang Islami,,,,he3. Kok bisa? Ya, ketika di Kelantan, meski perjalanan tinggal 1 jam sampai ke tempat tujuan, tetapi karena sudah masuk sholat subuh, maka sopirpun memberhentikan bis di depan sebuah surau. Alhamdulillah, para penumpang dapat sholat berjamaah dengan masyarakat sekitar.

Begitu pula ketika dalam perjalanan dari Kedah pukul 11 malam menuju Kuala Lumpur meggunakan bis Maraliner. Waktu itu selama perjalanan,
 sopir bis menyetel ceramah Islami,kemudian murotal. Meskipun sayang, karena perjalanan malam,sehingga yang mendengarkan hanya sopir saja, karena kebanyakan para penumpang tertidur. Selain itu, pak sopir juga berpenampilan rapi dan berenggot panjang..he33.

Overall,
 semua bentuk profesi adalah mulia. Tidak ada alasan untuk meninggalkan sholat, meskipun menjadi sopir, ataupun pekerjaan yang lain. Dimanapun kita berada, apapun posisi kita maka kita wajib menjalankan kewajiban kita sebagai seorang muslim dan meninggalkan hal-hal yang dilarang Allah, OK? Wallahu’alam. By Yuni YF
Read More

About Alluring

Popular Posts

Total Pageviews

Powered By Blogger · Designed By Seo Blogger Templates