
Aktivis desa emang ada? ya ada dong….banyak hal yang bisa kita lakukan untuk
membangun desa maupun lingkungan sekitar kita. Mulai dari ngajar ngaji TPA,
ikut pengajian umum, gabung di karang taruna, ibu-ibu PKK tingkat RT atau desa
sampai ikut terlibat dalam proyek pengembangan desa. Trend yang terlihat adalah
semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, biasanya semakin jauh/gap dengan
masyarakat. Padahal idealnya, ilmu yang semakin banyak didapatkan itu harus
semakin pula bermanfaat bagi orang lain. Apalagi semua lapisan masyarakat, dari
berbagai background ternyata memiliki peranan dalam melakukan proses
pembangunan. Idealnya, untuk membangun desa atau lingkungan dimana kita berada,
diperlukan partisipasi aktif dari semua elemen masyarakat,baik kaya-miskin,
tua-muda, lulusan SD/PT dll dan bukan hanya partisipasi dari kalangan elit desa
atau para perangkat desa yang duduk di balai desa saja.
Pengalaman menjadi aktifis desa dirasakan sangat berharga. Keterlibatan bukan
karena ingin dipuji maupun ingin pamer kemampuan diri. Tetapi semata-mata
karena panggilan hati dan tentu saja karena ada kesempatan. Waktu itu pernah
menjadi pengurus ibu2 PKK tingkat RT dan desa. Kalo ingat hal itu, jadi ingin
ketawa juga..kok bisa ya?? Mungkin kedengarannya lucu karena masih muda dan
belum menikah lagi…waktu itu masih duduk di kuliah tingkat pertama. Yah, mau
tidak mau setiap dua minggu sekali saya ikut rapat, jadi moderator, menyanyikan
lagu mars PKK dan tahu sedikit tentang problematika masyarakat, khususnya
kalangan ibu.
Tidak hanya itu, ketika menjadi Fasilitator Desa (FD) untuk PPK (Proyek
Pengembangan Kecamatan) banyak manfaat yang bisa didapatkan. Disitulah
mula-mula saya tahu bagaimana berinteraksi dengan masyarakat secara langsung
yang notabene mereka berasal dari background pendidikan menengah ke bawah.
Fasilitator desa ditunjuk oleh desa melalui musyawarah desa. Selama menjadi FD,
saya bersyukur karena bisa mendapatkan banyak informasi tentang pembangunan
desa dan bertambah persaudaraan dengan FD dari desa yang lain se kecamatan yang
masing-masing kami banyak yang belum pernah mengenal sebelumnya. Para
fasilitator desa mayoritas adalah berusia di atas saya, bahkan seusia dengan
orang tua.
PPK adalah program pemerintah yang digulirkan untuk mengatasi kemiskinan di masyarakat
dengan menyediakan bantuan 1 milyar untuk setiap satu kecamatan. Tugas FD
adalah memfasilitasi PPK, mulai dari menggali gagasan dari masyarakat tentang
proyek apa yang sebenarnya sedang mereka perlukan. Proses penggalian gagasanpun
tidak mudah, karena FD harus melakukan pertemuan langsung dengan warga desa.
Sehingga sering pertemuan itu dilakukan pada malam hari ba’da isya, karena
biasanya pada siang hari warga bekerja. Kemudian setelah gagasan tersebut
dimusyawarahkan di tingkat desa, tugas FD selanjutnya adalah membuat proposal
proyek. Selama proses tersebut dengan dibantu aparat desa FD melakukan survey
lokasi, seperti di sungai, jalan maupun sawah bergantung dengan jenis proyek
yang akan diusulkan. Misalnya jika ingin membangun saluran irigasi, maka
kamipun pergi ke sawah, melakukan pengukuran lokasi, menggambar denah,
menentukan barang bangunan yang diperlukan untuk membuat proyek dan menghitung
budget yang dikeluarkan. Selama proses itulah, meski capek dan panas, tetapi
tetap semangat karena ada banyak hal yang bisa dipelajari. Setelah itu,
proposalpun diajukan ke tingkat kecamatan dan dikompetisikan dengan desa-desa
yang lain. Nantinya, hasil musyawarah tingkat kecamatan akan menghasilkan
prioritas pembangunan dari kebutuhan desa-desa yang paling mendesak hingga
bantuan 1 miliyar itu habis.
Alhamdulillah, meski hanya selama tiga periode menjadi FD, tetapi
setidak-tidaknya saya merasa bahagia telah ikut berkontribusi dalam pembangunan
di desa, meski mungkin tidak seberapa. Ada banyak permasalahan yang dihadapi
oleh masyarakat. Dari situlah, semakin menyadari bahwa ternyata untuk mengatasi
permasalahan dalam masyarakat diperlukan perhatian dan kontribusi dari kita.
Apapun yang kita miliki, sebenarnya adalah peluang bagi kita untuk bermanfaat,
peluang untuk beramal dan peluang bagi kita untuk menebar kebaikan. Bukankah
dalam sebuah hadits dikatakan bahwa “Sebaik-baik umat adalah yang paling
bermanfaat bagi orang lain?” Mari berlomba-lomba menjadi orang yang semakin
bermanfaat untuk umat! Wallahu’alam. By Yuni YF
Read More