Showing posts with label My Activites. Show all posts
Showing posts with label My Activites. Show all posts

Friday, January 10, 2014

Let’s EDUCATE Ummah!






Pertama kali mengajar, ketika duduk di sekolah menengah. Ketika itu, beberapa remaja dikumpulkan untuk membina anak-anak di desa, tepatnya di MADIN Ath thahiriyah. Berbekal semangat mengajar dan ilmu tentang Islam yang terbatas, akhirnya bismillah saya mulai mengajar.

Seiring waktu, alhamdulillah, saya berkesempatan untuk mengajar kalangan yang berasal dari berbagai usia. Mulai dari mengajar iqra untuk balita di educare dan anak-anak SD, tutor English untuk anak SMP sampai dengan menjadi guru Geografi, Biologi dan English untuk siswa kejar paket C yang usia para siswanya setara dengan ibu saya. Sungguh jika mengingat semua itu, rasanya ingin selalu tersenyum dan ingin kembali merasakan kesibukan menjadi seorang guru.
 

Kegiatan mengajar merupakan hal yang menyenangkan. Ada kepuasan tersendiri ketika kita berkesempatan untuk bertatap muka, menyampaikan sesuatu yang bermanfaat (transfer of knowledge) dan mendapatkan respon balik dari mereka. Bahkan tidak heran bagi kebanyakan orang, mengajar dapat menjadi obat penghibur ketika sedih maupun ketika sedang banyak masalah.

Pendidikan berperan dalam membina dan mengarahkan kehidupan seseorang. Pendidikan dalam hal ini adalah pendidikan multidimensi, yang mencakup segala bidang studi. Sistem pendidikan yang Islami diperlukan untuk menyelamatkan kehidupan di dunia dan akhirat. Peran guru dalam hal ini sangat penting dalam membimbing anak muridnya. Di zaman yang penuh tantangan seperti saat ini, diperlukan sosok guru yang memiliki komitmen untuk ikut menyelamatkan generasi yang akan datang dengan teguh memegang nilai-nilai Islami. Semoga para guru diberikan kemudahan, keikhlasan dan keistiqomahan dalam menjalankan tugas sebagai pendidik. aamiin. Peluang mengajar ada dimana-mana, mari manfaatkan hal itu sebagai lahan amal kita. Menjadi guru, siapa takut? Let’s educate ummah! wallahu’allam. By Yuni YF
Read More

Menulis…Menulis….dan Terus Menulis







Itulah komentar seorang penulis ketika ditanya tentang apa kunci sukses seorang penulis. Yach, menulis adalah bagian dari skill yang dimiliki oleh seseorang dimana untuk merealisasikannya diperlukan sebuah proses. Menulis tidak ubahnya seperti ketrampilan mengemudikan mobil, semakin sering mengemudi, semakin luas jangkauan wilayah dan semakin rumit medan yang dijelajahi maka dia akan semakin terampil dalam mengemudi mobil. Menulis, semakin sering menulis, semakin banyak menulis akan membuat semakin produktif dalam menulis. Kuncinya,
let’s make the habit, then habit makes you… 

Jika ingat menulis, jadi teringat kembali aktifitas dulu ketika berada di komunitas Forum Lingkar Pena (FLP) Kota Magelang. Ketika itu saya bergabung ketika masih kuliah. FLP kota kami sangat berbeda dengan FLP kota yang lain. Bagaimana tidak, anggota FLP kami berasal dari latar belakang yang berbeda dan fantastis. Why? Mereka memiliki semangat untuk menulis meski bukan dari background profesi akademik, bahkan waktu itu saya merasa malu karena meski menjadi mahasiswa, tetapi tidak aktif dalam menulis.

Luar biasa kawan-kawan FLPku di sana….ada yang berprofesi sebagai polisi, pedagang burung perkutut, penjual koran, komikus, ketua pondok pesantren, ibu rumah tangga, guru SLB, penjaga toko dan siswa SMP hingga mahasiswa. Subhanallah, banyak diantara mereka sampai saat ini sangat produktif dalam mengirimkan artikel dan tulisan mereka sering diterbitkan di surat kabar local maupun nasional Meski tidak secara fisik berjumpa, tetapi semangat mereka dalam menulis telah menginspirasi saya untuk terus menulis.
 

Menulis, menggoreskan pena menggoyang dunia…..menjadi salah satu wahana bagi kita untuk berdakwah. Konsep dakwah, yaitu menyeru kepada kebaikan dapat dilakukan dengan berbagai hal. Salah satunya dengan menggunakan tulisan atau bil qalam. Menulis akan mengikat ilmu, menulis tentang hal yang bermanfaat akan mendatangkan pahala yang tidak akan pernah putus (amal jariyah) meski kita meninggal.
 

Menulis, menyehatkan jiwa, menjadi pelampiasan yang positif bagi seseorang yang secara emosional sedang menghadapi masalah. Dengan menulis, berarti kita telah berekspresi , mengutarakan pendapat dan diharapkan bahwa setiap tulisan tersebut akan membawa perubahan positif bagi pembaca atawa mendatangkan manfaat dunia dan akhirat.

Ada banyak hal yang dapat kita tulis,,,,,,mari menulis dimulai dari sekarang, menulis dari hal yang kecil dan mudah, menjaga konsistensi dan akhirnya semakin terspesialisasi dalam menulis berdasarkan kafa’ah yang kita miliki. Salam ukhuwah untuk FLPiers dan para penulis di seluruh dunia…wallahu’alam
By Yuni YF
Read More

Menjadi Aktivis Di Desa, Siapa Takut?






Aktivis desa emang ada? ya ada dong….banyak hal yang bisa kita lakukan untuk membangun desa maupun lingkungan sekitar kita. Mulai dari ngajar ngaji TPA, ikut pengajian umum, gabung di karang taruna, ibu-ibu PKK tingkat RT atau desa sampai ikut terlibat dalam proyek pengembangan desa. Trend yang terlihat adalah semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, biasanya semakin jauh/gap dengan masyarakat. Padahal idealnya, ilmu yang semakin banyak didapatkan itu harus semakin pula bermanfaat bagi orang lain. Apalagi semua lapisan masyarakat, dari berbagai background ternyata memiliki peranan dalam melakukan proses pembangunan. Idealnya, untuk membangun desa atau lingkungan dimana kita berada, diperlukan partisipasi aktif dari semua elemen masyarakat,baik kaya-miskin, tua-muda, lulusan SD/PT dll dan bukan hanya partisipasi dari kalangan elit desa atau para perangkat desa yang duduk di balai desa saja.

Pengalaman menjadi aktifis desa dirasakan sangat berharga. Keterlibatan bukan karena ingin dipuji maupun ingin pamer kemampuan diri. Tetapi semata-mata karena panggilan hati dan tentu saja karena ada kesempatan. Waktu itu pernah menjadi pengurus ibu2 PKK tingkat RT dan desa. Kalo ingat hal itu, jadi ingin ketawa juga..kok bisa ya?? Mungkin kedengarannya lucu karena masih muda dan belum menikah lagi…waktu itu masih duduk di kuliah tingkat pertama. Yah, mau tidak mau setiap dua minggu sekali saya ikut rapat, jadi moderator, menyanyikan lagu mars PKK dan tahu sedikit tentang problematika masyarakat, khususnya kalangan ibu.

Tidak hanya itu, ketika menjadi Fasilitator Desa (FD) untuk PPK (Proyek Pengembangan Kecamatan) banyak manfaat yang bisa didapatkan. Disitulah mula-mula saya tahu bagaimana berinteraksi dengan masyarakat secara langsung yang notabene mereka berasal dari background pendidikan menengah ke bawah. Fasilitator desa ditunjuk oleh desa melalui musyawarah desa. Selama menjadi FD, saya bersyukur karena bisa mendapatkan banyak informasi tentang pembangunan desa dan bertambah persaudaraan dengan FD dari desa yang lain se kecamatan yang masing-masing kami banyak yang belum pernah mengenal sebelumnya. Para fasilitator desa mayoritas adalah berusia di atas saya, bahkan seusia dengan orang tua.

PPK adalah program pemerintah yang digulirkan untuk mengatasi kemiskinan di masyarakat dengan menyediakan bantuan 1 milyar untuk setiap satu kecamatan. Tugas FD adalah memfasilitasi PPK, mulai dari menggali gagasan dari masyarakat tentang proyek apa yang sebenarnya sedang mereka perlukan. Proses penggalian gagasanpun tidak mudah, karena FD harus melakukan pertemuan langsung dengan warga desa. Sehingga sering pertemuan itu dilakukan pada malam hari ba’da isya, karena biasanya pada siang hari warga bekerja. Kemudian setelah gagasan tersebut dimusyawarahkan di tingkat desa, tugas FD selanjutnya adalah membuat proposal proyek. Selama proses tersebut dengan dibantu aparat desa FD melakukan survey lokasi, seperti di sungai, jalan maupun sawah bergantung dengan jenis proyek yang akan diusulkan. Misalnya jika ingin membangun saluran irigasi, maka kamipun pergi ke sawah, melakukan pengukuran lokasi, menggambar denah, menentukan barang bangunan yang diperlukan untuk membuat proyek dan menghitung budget yang dikeluarkan. Selama proses itulah, meski capek dan panas, tetapi tetap semangat karena ada banyak hal yang bisa dipelajari. Setelah itu, proposalpun diajukan ke tingkat kecamatan dan dikompetisikan dengan desa-desa yang lain. Nantinya, hasil musyawarah tingkat kecamatan akan menghasilkan prioritas pembangunan dari kebutuhan desa-desa yang paling mendesak hingga bantuan 1 miliyar itu habis.

Alhamdulillah, meski hanya selama tiga periode menjadi FD, tetapi setidak-tidaknya saya merasa bahagia telah ikut berkontribusi dalam pembangunan di desa, meski mungkin tidak seberapa. Ada banyak permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat. Dari situlah, semakin menyadari bahwa ternyata untuk mengatasi permasalahan dalam masyarakat diperlukan perhatian dan kontribusi dari kita. Apapun yang kita miliki, sebenarnya adalah peluang bagi kita untuk bermanfaat, peluang untuk beramal dan peluang bagi kita untuk menebar kebaikan. Bukankah dalam sebuah hadits dikatakan bahwa “Sebaik-baik umat adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain?” Mari berlomba-lomba menjadi orang yang semakin bermanfaat untuk umat! Wallahu’alam.
 By Yuni YF
Read More

INTRISA voice….CHAYO!!!






Tulisan ini dipersembahkan untuk sobat-sobat saya yang tergabung dalam grup nasyid di kampus tercinta. Dari obrolan yang singkat, memiliki minat yang sama dan didukung dengan kemampuan olah vocal yang terbatas, alhamdulilah akhirnya grup nasyid INTRISA terbentuk dan eksis hingga saat ini. Nama INTRISA diberikan oleh salah satu mantan personel izzatul islam yaitu ustaz Marzuki. Dan sebagai pembinanya adalah istri dari ustaz Marzuki, mba Elin yang juga mantan penyanyi cilik di Indonesia. Jenis nasyid yang dibawakan bergenre nasyid pop. Menggunakan acapela dengan iringan lirik yang ceria namun penuh makna menjadi daya tarik dan warna tersendiri bagi INTRISA di antara grup-grup nasyid yang berkembang dewasa ini.
 

Tidak terasa sudah lebih dari delapan kali INTRISA tampil baik di acara internal mahasiswa Indonesia di IIUM, di mahalah, acara kampus di depan mahasiswa dari berbagai negara dan forum seminar di luar kampus, dari yang gratis hingga mendapatkan kompensasi. Lupa dan salah lirik, salah nada, salah gaya masih sering terjadi, tapi PD aja lagi…he3. Hal itu menjadi pengalaman yang berharga. Dari kesalahan-kesalahan itulah INTRISA belajar.
 

Saat ini INTRISA terdiri dari 9 orang yang semuanya masih berstatus sebagai mahasiswa IIUM. Meski berasal dari berbagai daerah di Indonesia, tapi akhirnya di UIA kita disatukan di bawah bendera INTRISA. Personel INTRISA ada Yuni, Lisa, Dewisan, Eva, Baya, Ratih, Ana, Diana dan Tami. Jadwal kuliah dan assignment yang padat dan kegiatan organisasi yang cukup menyita waktu insha allah tidak akan menghalangi INTRISA dalam berkarir di dunia suara.Tidak dapat dipungkiri bahwa diperlukan management waktu yang baik antara belajar dan bernasyid serta beraktifitas di luar akademik yang lain. Keberadaan INTRISA adalah bukan karena ingin mencari popularitas maupun materi dari bernasyid. Namun, lebih tepatnya berdakwah bil nasyid menjadi pilihan kita untuk menyebarkan syiar Islam. Perbedaan ide, kadang menjadi hal yang memicu perselisihan tetapi alhamdulillah kekompakan INTRISA dapat terjaga hingga saat ini dan insha allah selamanya. Semoga, kita selalu meluruskan niat dan selalu menjaga nuansa Islami dalam bernasyid. Syukran untuk mba Elin dan kawan-kawan INTRISA, keep our spirit in nasyid….By Yuni YF
Read More

TKW and SHELTER in KBRI Malaysia







Siang itu, Kamis bakda sholat zuhur saya dan kawan-kawan UPZ BAZNAS berangkat dari kampus menuju shelter TKW di KBRI Kuala Lumpur. Kira-kira 40 menit kemudian, kamipun sampai di sana. Misi yang kami emban adalah menyerahkan bantuan berupa 5 mesin jahit.
 

Kedatangan kami disambut oleh bapak Agus selaku atase ketenagakerjaan KBRI. Setelah memencet bel, kamipun masuk ke dalam Shelter TKW yang terletak di belakang KBRI. Saya menyapa para TKW yang terlihat di sekitar pintu masuk. Memang agak sedikit bertanya-tanya ketika bersalaman dengan mereka, seperti ada hal yang tidak biasa dari cara mereka memandang dan berbicara. Dan ternyata benar, pak Agus memberitahukan dengan agak berbisik kepada saya agar menjaga jarak dengan beberapa orang yang ada di shelter,karena kurang waras, tidak sehat secara fisik.
 

Setelah sedikit mencari informasi dari mbak Indri salah seorang staff pak Agus, maka sedikit terjawablah pertanyaan-pertanyaan saya selama ni tentang shelter. KBRI dalam rangka melakukan pendampingan kepada para TKW yang bermasalah mendirikan dua tempat penampungan yaitu di Rumah Kita dan di Shelter. Di Rumah Kita, jumlah orang yang berada di sana lebih sedikit daripada di Shelter. Saat ini tercatat ada 50-an TKW yang tinggal di Shelter. Para TKW tersebut tidak memiliki dokumen resmi/illegal. Kalaupun memiliki paspor, biasanya paspor mereka disimpan oleh majikan maupun agen yang membawa mereka.
 

Konon ketika tahun 2009,yang menjadi penghuni shelter sempat mencapai 170 orang. Tidak dapat dibayangkan bagaimana crowdednya shelter pada saat itu. Para TKW tersebut bisa dikatakan sebagai TKW yang bermasalah, yang biasanya menjadi korban. Mereka mengalami kekerasan/penderaan, ditelantarkan maupun tidak dibayar selama bekerja. Mereka datang atas inisiatif sendiri dan kadang juga ada orang lain yang mengantar dengan tujuan agar mendapatkan perlindungan KBRI. Siti hajar, yang sempat menjadi bahan pembicaraan di tanah air sebagai korban kekerasan juga sempat menjadi penghuni shelter setelah ditolong seseorang dan diantarkan oleh taxi menuju KBRI.Tetapi ada juga yang tinggal di shelter karena masalah yang diciptakan oleh dirinya sendiri bukan karena menjadi korban. Misalnya karena lari dari majikan akibat bosan bekerja kemudian gaji bekerja mereka sudah habis selama dalam masa pelarian dan akhirnya datang shelter yang dipandang menjadi tempat yang nyaman untuk ditinggali.

Baju keseharian yang dikenakan oleh mereka pada umumnya berseragam. Berbeda warna, maka berbeda kamar. Warna seragam tersebut adalah merah, coklat, abu-abu, hitam dan hijau. Tidak ada dasar perbedaan dalam penempatan kamar mereka, akan tetapi untuk TKW yang sakit atau membawa bayi, maka akan ditempatkan pada kamar yang lebih luas dengan baju abu-abu. Penghuni shelter berkisar dari umur 15 tahun hingga 50an tahun. Rata-rata mereka tinggal di sana selama lebih dari empat bulan bahkan ada yang sudah mencapai hingga 1.5 tahun.

Penghuni shelter jumlahnya fluktuatif dan berganti-ganti. Hal ini dikarenakan, karena di sana mereka sifatnya hanya ditampung sementara sampai kembali ke tanah air. Setelah Clear and Clean mereka akan segera dipulangkan ke Indonesia, yang biasanya diberangkatkan pada hari Rabu dan Sabtu. Clear maksudnya adalah setelah TKW tersebut sehat secara fisik dan psikis.Clean maksudnya adalah kasus yang mereka alami telah selesai, misalnya tuntutan gaji sudah dibayar oleh majikan mereka.

Setiap hari mereka melakukan aktifitas yang telah terjadwal. Aktifitas yang mereka lakukan adalah melaksanakan jadwal piket untuk memasak, menyapu, mengepel dan membersihkan shelter. Ada pula jadwal pembekalan keterampilan seperti menyulam,menjahit, memasak, membuat kerajinan tangan. Yang tidak kalah pentingnya juga adalah aktifitas pembinaan fisik dan spiritual seperti senam, pemeriksaan dokter secara rutin dan mengaji setiap pagi. Mereka tidak diperkenankan untuk keluar dari shelter. Jika ada kawan ataupun keluarga yang datang menjenguk, maka harus lapor terlebih dahulu dan melakukan pertemuan di kantor KBRI. Mereka juga tidak diperbolehkan membawa handphone, agar selama dalam penampungan pemikiran mereka tidak terbebani.

Kedatangan kami adalah untuk mengantarkan mesin jahit agar sedikit membantu para TKW yang bermasalah tersebut supaya kelak mendapat bekal keterampilan. Semoga bantuan tersebut bermanfaat, emoga para penghuni shelter tetap bersabar dan segera dapat dipulangkan ke Indonesia untuk kondisi yang lebih baik. Alhamdulillah, semakin bersyukur hamba atas segala nikmat yang Engkau berikan! Thank You Allah..by Yuni YF
Read More

About Alluring

Popular Posts

Total Pageviews

Powered By Blogger · Designed By Seo Blogger Templates