Thursday, January 9, 2014

Fenomena Alam Ghaib dan Jin dalam Perspektif Syariat







Mungkin ada pertanyaan yang timbul kenapa taskif bulan ini mengupas tentang Alam Ghaib dan Jin dalam Perspektif Syariat. Topik ini sengaja dipilih
 sebagai bentuk manifestasi keprihatinan bahwa masih ada sebagian umat Islam yang kurang memiliki pemahaman yang benar dalam masalah ini. Dan juga sebagai bentuk antisipasi dan penanggulangan terjadinya gangguan jin yang belakangan sering terjadi di sekitar kita. Fakta mengungkap adanya dua kutub extreme dalam mensikapi masalah jin. Sebagian orang tidak mengambil perhatian bahkan tidak mau tahu. Di sisi lain, terdapat pula sebagian orang yang tersesat dalam kemusyrikan karena salah dalam memahami masalah ini, nauzublillhi min dzalik. Padahal kita yakin bahwa Islam adalah agama yang moderat dan comprehensive. Bagaimana sebenarnya Islam mengatur tentang alam ghaib dan jin? Berikut ulasan materi dari ustaz Muhammad Ikbal Ismail.

Ada
 tiga point penting dalam pembahasan dalam materi ini. Pertama, sebagai seorang muslim, kita harus beriman kepada yang ghaib seperti meyakini adanya jin dan syaitan, percaya akan kabar-kabar yang akan dan telah terjadi di dalam Al Qur’an. Hal ini sebagaimana yang telah disebutkan dalam surat Al Baqarah ayat 3 tentang kewajiban untuk beriman kepada yang ghaib. Dalam ayat tersebut juga menggandengkan antara sholat dengan kepercayaan terhadap makhluk ghaib. Kedua, seorang muslim harus beriman kepada takdir, baik maupun buruk. Misalnya, apabila ada gangguan jin yang menimpa seorang muslim, maka harus dipercayai sebagai takdir. Ketiga, seorang muslim harus selalu berusaha untuk bersabar dalam menjalani takdir.

Takut kepada jin?
 jangan pernah merasa takut kepada setan dan jin. Dalam surat Al A’rof ayat 27 dikatakan bahwa setan tidak ada yang benar, dia selalu berkhianat dan membawa kesesatan. Hanya orang yang tidak berimanlah yang menjadikan setan dan jin sebagai pemimpin. Allah telah menciptakan manusia sebagai ciptaan yang paling mulia di atara makhluk yang lain sebagaimana dalam al Isro ayat 70. Abu Bakar Al Jaziri berkata bahwa sesungguhnya jika terdapat jin yang paling sholih dalam golongan jin, maka manusia lebih mulia daripada dia. Sehingga kita tidak boleh takut kepada jin, menghormati jin bahkan meminta perlindungan kepada jin (surat al jin ayat 6), nauzubillhi min zalik. Kita sering menyaksikan di masyarakat, misalnya ketika melewati jembatan yang konon “ada yang menunggu”, maka pengemudi akan membunyikan klakson terlebih dahulu agar tidak diganggu. Nah, praktek seperti ini adalah tidak ada syariatnya. Hal ini merupakan bagian dari penghormatan terhadap jin. Padahal, semakin jin dihormati maka dia akan menjadi semakin besar kepala.

Apa yang dimaksud dengan jin? Kata jin berasal dari jana-yajinu yang berarti sesuatu yang terhalang. Disebut janah yaitu surga yang ditutupi oleh pohon yang rindang. Tameng atau alat pelindung orang yang berperang disebut jina. Orang gila disebut majnun yang artinya akal pikiran telah tertutup. Asal usul jin sebagaimana disebutkan dalam surat al Hijr ayat 26-27 bahwa jin diciptakan dari api yang sangat panas. Seorang
 muslim tidak akan pernah dapat melihat jin dalam rupa aslinya kecuali jin tersebut menjelma dalam bentuk manusia maupun binatang.

Jin hidup pula seperti manusia, yaitu berkabilah maupun bersuku-suku.
 Jin terdiri dari tiga jenis. Pertama, jin dari bangsa yang terbang di luar angkasa. Ini merupakan jin yang tertinggi pangkatnya yang sering mencuri berita dari langit. Mereka biasanya bersekutu dengan tukang sihir. Kedua, jin dari kelompok ular dan anjing. Mereka biasanya berwarna hitam. Jin dalam wujud ular dahulu ada pada zaman Rasulullah saw. Apabila melihat ular maupun anjing kita tidak boleh membunuhnya secara langsung. Kita diperintahkan untuk mengusirnya terlebih dahulu dengan menyebut asma Allah sebanyak tiga kali, baru kemudian membunuhnya apabila binatang tersebut tidak mau pergi. Ketiga, jin dari kelompok berkaki dua dan berkaki empat. Misalnya jin yang berwujud manusia. Sahabat nabi, Abu Hurairah pernah suatu ketika didatangi oleh jin yang berwujud orang tua. Jin tersebut mencuri di baitul mal, pergi selama berkali-kali kemudian ditangkap. Jin tersebut juga mengajari ayat kursi kepada Abu Hurairah. Para ulama menyepakati tentang diperbolehkannya menerima ajaran jin tersebut, karena mengandung kebaikan.

Dalam surat Az Zariyat ayat 56 dan Al Ahqaf ayat 29 dikatakan bahwa diciptakannya jin adalah untuk beribadah kepada Allah.
 Apakah antara jin dan manusia dapat melakukan perkawinan? Ibnu Taimiyah berkata bahwa keduanya dapat berkawin dan memiliki keturunan. Para ulama juga bersepakat bahwa keduanya dapat terjadi perkawinan tetapi tidak boleh disengaja untuk mengadakan perkawinan antara jin dan manusia.

Dimanakah tempat tinggal jin
? pertama, tanah lapang, lembah-lembah dan lereng-lereng. Kita tidak boleh membiarkan tanah kosong yang tidak ditempati sebagai tempat bermain anak-anak. Kedua, tempat sampah dan tempat yang terdapat makanan. Ketiga, tandas dan tempat berwudhu. Keempat, tanah-tanah yang retak, lubang-lubang maupun gua. Kelima, tinggal bersama manusia di rumah. Keenam, kandang onta sebagaimana sebuah hadits yang mengatakan bahwa Rasulullah saw melarang sholat di kandang onta. Ketujuh, tempat yang ditinggal oleh tuannya. Delapan, kuburan sebagaimana hadits yang mengatakan bahwa semua tempat di bumi ini adalah suci kecuali kuburan dan kamar mandi. Sembilan, di pasar-pasar. Terdapat sebuah hadits yang melarang kita untuk menjadi orang pertama dalam pasar dan melarang menjadi orang terakhir yang berada di pasar. Taskif FOTAR pada hari Sabtu, 7 Desember 2011 di UIA oleh ustaz Muhammad Ikbal Ismail yang berjudul Fenomena Alam Ghaib dan Jin dalam Perspektif Syariat. By Yuni YF

Share This!


About Alluring

Popular Posts

Total Pageviews

Powered By Blogger · Designed By Seo Blogger Templates