Friday, January 10, 2014

Started the Adventure in Lhoksumawe and Aceh Utara







Meski jumlah responden dari Banda Aceh belum mencapai target, tetapi pada hari ketujuh saya harus mencari responden dari luar Banda Aceh, mengunjungi masyarakat yang berada di seluruh Aceh.Tujuan pertama saya adalah kota Lhoksumawe. Dari banda Aceh menuju Lhoksumawe saya menggunakan angkutan umum L300 dengan tarif Rp. 55.000. Angkutan ini terhitung langka karena tidak setiap jam ada keberangkatan menuju Lhoksumawe, waktu favourite adalah ketika berangkat pada jam 8 pagi dan jam 9 malam.
 

Saya berangkat pagi, tepatnya jam 8.30 dengan berbekal 2 stel pakaian di ransel dan berkas-berkas kuisioner. Selama dalam perjalanan, saya dapat melihat dengan jelas bagaimana situasi daerah sepanjang banda Aceh-Lhoksumawe. Saya duduk di depan bersama sopir dan seorang ibu yang usianya sekitar 50an tahun. Saya sering bertanya kepada mereka tentang hal yang saya tidak ketahui dan kadang menarik untuk dibicarakan sepanjang di perjalanan. Mobil melaju dengan kecepatan rata-rata, tapi terkadang melaju cepat. Beberapa kali mobil terhenti untuk menaikkan maupun menurunkan penumpang. Situasi lalu lintas yang saya lewati terlihat cukup ramai dan kondisi jalanpun lumayan baik, meski tidak sebaik jalan tol. Namun meski jalanan tidak macet, tetapi cuaca yang panas membuat diri merasa tidak nyaman.
 

Ketika melewati kabupaten Pidi dan Pidi jaya, pemandangan yang sering dijumpai adalah banyaknya sapi yang berkeliaran di jalan raya. Heran dan sempat bertanya ke pak sopir, siapa sebenarnya pemilik sapi-sapi tersebut?apakah mereka tidak takut kehilangan sapi –sapi mereka?menurut saya enak sekali menjadi peternak di Aceh, mereka tidak perlu mencarikan rumput untuk sapi, karena sapi mereka terbiasa mencari makan sendiri. Kita bisa melihat bahwa tidak hanya seekor sapi, tetapi sering terlihat sapi-sapi bergerombol di pinggir jalan. Sapi-sapi itu terlihat sedang mencari makan di rumput-rumput yang tumbuh di sepanjang pinggir jalan. Namun kadang kita melihat mereka juga sekedar duduk di pinggir jalan sambil asyik bercengkerama dengan kawan mereka...tersenyum juga melihat ulah sapi-sapi itu...ternyata tidak hanya manusia yang nongkrong di pinggir jalan, di Aceh sapi pun tidak mau ketinggalan nongkrong..he3.
 

Bang Jol, nama sopir yang membawa mobil yang saya tumpangi juga bercerita bahwa sebenarnya keberadaan sapi-sapi tersebut sering menimbulkan masalah. Apalagi jika malam hari, sapi sering berada di tengah jalan sehingga membuat pengemudi kendaraan kaget dan tidak dapat menghindari terjadinya kecelakaan. Karena menghindari Sapi, kadangkala mobil menjadi rusak ketika mobil dibelokkan ke arah parit maupun pembatas jalan. Ironisnya, segala kerugian ditanggung oleh pemilik kendaraan, pemilik sapi tidak pernah bertanggung jawab, bahkan kadang tidak ada yang mengakui siapa yang memiliki sapi tersebut.Sehingga kata bang Jol,karena di Aceh banyak Sapi/lembu, maka plat nomor kendaraan Aceh yaitu BL, sering diplesetkan dengan singkatan Banyak Lembu..he33.

Dalam perjalanan, saya sering merasa menjadi orang bodoh, saya hanya menjadi pendengar ketika para penumpang asyik berbicara dalam bahasa Aceh. Bang Jol sempat bertanya apakah saya bisa berbahasa Aceh, saya jawab belum bisa. Sehingga dia mengajarkan beberapa kata dalam bahasa Aceh. Yang saya ingat kata batu menjadi bate, makan menjadi panjebu, aku pergi manjadi lu njak..sedangkan kata yang lain, saya sudah lupa..he33. Menurut saya agak sulit untuk menghapal bahasa Aceh dan sering terdengar aneh dan lucu.
 

Empat jam kemudian, mobil yang saya tumpangi berhenti di sebuah warung makan. Ya, kami makan siang di tempat itu. Makan serba lauk ikan dengan harga hanya Rp. 10.000. Soal rasa, menurut saya biasa aja, lumayan enak dan mengenyangkan...he3. Kira-kira hanya setengah jam kami berada di rumah makan itu kemudian melanjutkan perjalanan kembali. Dan sekitar satu setengah jam kemudian mobil kamipun berhenti di sebuah masjid untuk menunaikan shalat zuhur. Sempat bingung dan shock juga ketika mencari tempat wudhu wanita. Selain kotor dan bau tidak enak, tempatnya juga tidak nyaman. Tapi tetap bersyukur, saya dapat wudhu dengan air cukup dan dapat menunaikan shalat.Oia, di sepanjang jalan yang saya lewati, mayoritas masjid di Aceh tidak mempunyai tembok,jadi terlihat terbuka dan memiliki banyak tiang.

Setelah menempuh perjalanan selama tujuh jam, akhirnya sekita pukul 3 sore saya sampai di terminal Lhoksumawe. Bang Jol mengantarkan saya ke sebuah loket namanya Mandala, yang bisa dijadikan tempat untuk menunggu kawan saya datang menjemput.Sempat menunggu di loket tersebut kira-kira 20 menit, hingga akhirnya kawan saya datang menjemput. Namanya kak Rohaya atau Aya, guru salah satu sekolah di Lhoksumawe. Kami baru saja kenal via SMS beberapa jam sebelum saya sampai ke Lhosumawe, wallahu’alam tapi kami sudah merasa kenal lama. Saya mendapatkan kontak dia dari pak Fuadi Sulaiman anggota DPR di banda Aceh dari PKS yang memberikan beberapa nomor yang bisa dimintai bantuan selama saya mengunjungi daerah-daerah di Aceh, syukran katsiran pak Fuadi atas info yang sangat berharga ini. Sebelum meninggalkan loket, seorang bocah laki-laki berumur sekitar 8 tahun datang menghampiri saya. Ternyata dia meminta uang, pekerjaan meminta sedekah ini di Aceh menjadi hal yang sering kita lihat.. memprihatinkan.
 

Dengan dibonceng sepeda motor Supra, kamipun meluncur menuju responden. Saya menginap di rumah kak Aya yang tinggal tidak jauh dari pantai, sehingga kami selalu melewati pantai selama di kota Lhoksumawe. Oia, peraturan pemakaian helm di kota ini tidak begitu ketat.Polisi hanya rasia di jam-jam tertentu saja itupun di lokasi yang tertentu pula yang bagi pengguna motor sangat menguntungkan karena mereka dapat mengantisipasi dari awal. Kalo ada polisi, mereka akan memakai helm, jika tidak ada merekapun tidak perlu menggunakan. Pada umumnya kesadaran memakai helm masyarakat Lhoksumawe masih kurang, bukan karena untuk melindungi kepala mereka, tetapi lebih kepada karena kepatuhan lalu lintas.
 

Antara kota Lhoksumawe dengan Aceh Utara sangat dekat, banyak kantor-kantor pemerintah Aceh Utara berada di kota Lhoksumawe. Hal ini memudahkan saya untuk mendapatkan responden dari dua kota tersebut dalam satu kawsan. Alhamdulillah, saya dapat berjumpa dengan koresponden dari ketua MPU, Ketua Muhammadiyah, Ketua NU, Ketua DDI, anggota dewan dari partai Demokrat dan Partai Aceh, beberapa pebisnis dan tidak ketinggalan kalangan dosen. Alhamdulillah tidak sulit untuk menemui mereka. Awalnya memang saya harus mendapatkan nomor telepon para responden terlebih dahulu sehingga lebih mudah bagi kami untuk menentukan waktu dan tempat untuk mengisi kuisioner. Melakukan pertemuan dengan mereka di kantor MPU, masjid, kantor walikota, rumah mereka, kantor DPR dan juga tempat usaha.

Sempat saya singgah di museum Hasybi Assidiqui, seorang ilmuwan muslim yang berasal dari Lhoksumawe, yang terkenal dengan pendapat beliau bahwa pembayaran zakat itu harus berdasarkan standar emas. Kota Lhoksumawe konon diisi oleh banyak pendatang, hanya sedikit yang merupakan warga asli Aceh. Tentang makanan, saya senang di sini karena menu makanan yang dijual di kedai-kedai sederhana maupun kafe sangat lengkap, hampir makanan yang terkenal dari setiap daerah ada di sini. Saya sempat membeli bakso, makanan kesukaan saya, enak...harga makanan di sini lebih murah dibandingkan di Banda Aceh.Pemandangan tragis juga saya lihat kembail, yaitu seorang laki-laki cacat kaki dan ibu tua mengemis di kantor DPRD Aceh Utara, bahkan sampai masuk ke ruang anggota dewan..memprihatinkan, kenapa Aceh dimana-mana bisa begini ya?ck...ck.

Dari Selasa sore saya sampai di Lhoksumawe, Kamis pagi kemudian saya melanjutkan perjalanan ke kota berikutnya. Jazakillah khair untuk kak Aya, bu Ratna, Abu Musa, Abi dan juga responden-responden yang lain.By Yuni YF

Share This!


About Alluring

Popular Posts

Total Pageviews

Powered By Blogger · Designed By Seo Blogger Templates