Friday, January 10, 2014

Peran Muslimah dalam Dakwah: Antara Realita dan Idealita






Setelah menunggu setengah jam kedatangan peserta, akhirnya kajian dimulai. Kali ini, topic yang diangkat adalah tentang wanita yang memang selalu menarik untuk dibicarakan. Jika kita melihat sejarah, setelah konferensi wanita tahun 1995 tentang isu feminisme, pergerakan pengarus utamaan gender sangat berkembang hingga dewasa ini. Bahkan tidak dapat dipungkiri, bahwa dalam perkembangannya justru mengarahkan untuk melangkahi kodrat sebagai seorang wanita,nauzubillahi mindzalik. Untuk itulah, menurut penulis kajian yang diadakan ini sangat strategis diadakan dalam rangka memberikan pembekalan kepada muslimah, khususnya aktifis dakwah tentang bagaimana sebenarnya Islam mengatur tentang peran muslimah dalam dakwah (idealitas) dan bagaimana seharusnya mereka dalam menghadapi kehidupan nyata (realitas). Sebagai nara sumber dauroh adalah ustazah Chanifah yang merupakan seorang ibu berputra enam dan sukses dalam memanage keluarga dan berdakwah.

Di antara berbagai ideologi maupun agama yang ada di dunia ini, hanya Islamlah yang memposisikan wanita paling mulia dibandingkan yang lain. Peran seorang muslimah dalam Islam semakin meluas cakupannya, dimulai sebagai hamba Allah, anak, istri, ibu dan anggota masyarakat. Peran tersebut tidak bisa terhapus maupun tergantikan satu sama lain.

Pertama, sebagai hamba Allah. Sesungguhnya sebagaimana ada dalam surat An-Nahl ayat 97 bahwa seorang wanita tidak berbeda dalam tuntutan ketaatannya kepada Allah dibandingkan laki-laki kecuali sedikit. Tugas dakwah merupakan bagian dari pengabdian kepada Allah dimana untuk melaksanakannya diperlukan persiapan yang serius seperti tertulis dalam surat Al Muzamil ayat 1-8 dan surat Ali Imran 104. Apalagi para da’I merupakan kaum elit pilihan Allah sebagaimana termaktub dalam Surat Al Fusilat ayat 33. Selain itu ketaatan kepada Allah akan menjadi teladan atau dakwah bil hal kita bagi masyarakat maupun mad’u. Bahkan menjadi seorang da’iyah maka berarti dia telah mengambil peran untuk memperindah Islam. Masha Allah.

Kedua, sebagai anak. Ada beberapa tugas yang harus dijalankan seorang muslimah dalam posisinya sebagai anak. Yaitu taat kepada orang tua (17:18), berbakti (4:36), memberi nafkah (2:215), menyampaikan nasehat (19:45), mendoakan (17:24) dan memelihara kehormatan mereka (31:15). 

Ketiga, sebagai seorang istri. Sudah menjadi kewajiban bagi seorang muslimah untuk taat kepada suami (4:34), menjaga kehormatan suami (4:34), mendukung tugas dakwah suami, mengingatkan dalam ketaatan kepada Allah. Dalam hal ini, kisah ibunda Cut Nyak Din, patut menjadi sebuah inspirasi seorang istri yang terus mensupport perjuangan suaminya dalam melawan penjajah dan menjaga izzah Islam di bumi Aceh. Bahkan setelah Teuku Umar meninggal beliau tetap meneruskan perjuangan suaminya hingga akhir hayat, subhanallah.

Keempat, sebagai ibu. Kaum hawa dengan segala potensi yang telah diberikan oleh Allah, memiliki kelebihan yang tidak dimliki oleh kaum adam. Tugas yang melekat dalam dirinya adalah mengandung, melahirkan, menyusui, memelihara dan mendidik anak dan menjadi teladan dalam taat kepada Allah.

Kelima, sebagai anggota masyarakat. Manusia sebagai makhluk social, merupakan bagian dari anggota masyarakat dimanapun mereka berada. Peran mereka adalah memberi teladan,beramar ma’ruf nahi munkar. Hal ini sebagaimana dilakukan oleh para sahabiyah Rasulullah yang ikut berperan dalam mengajak orang untuk masuk Islam bahkan mengambil peran dalam peperangan, seperti mengobati prajurit yang terluka, mempersiapkan makanan maupun ikut berperang.

Apa yang tertulis diatas adalah sebuah idealisme yang seharusnya dapat dijalankan oleh seorang muslimah terutama aktifis dakwah, baik yang sudah maupun yang belum menikah. Meski di dalam realitanya akan menghadapi berbagai halangan, namun kiranya beberapa kiat berikut dapat menjadi pegangan bagi muslimah agar tetap aktif dalam berdakwah. Diantaranya, menjaga niat ikhlas, memperbaiki akhlak agar menjadi teladan bagi anak, suami dan keluarga, terus belajar dan tolabul ilmi, selalu menyusun planning dan skala prioritas, selalu melakukan aktifitas yang mampu untuk dilakukan secara istiqamah, belajar dari pengalaman ibu-ibu sukses, menjaga kesabaran dan selalu melakukan yang terbaik dalam setiap aktifitas. Semoga kita selalu istiqamah dalam dakwah dimanapun,kapanpun dan apapun posisi kita…aamiin.
By Yuni YF, resensi Daurah Tarqiyah, 13 Februari 2011

Share This!


About Alluring

Popular Posts

Total Pageviews

Powered By Blogger · Designed By Seo Blogger Templates