Thursday, January 9, 2014

First Session “Gender Relationships”







Tahukah anda, bahwa
 dalam Islam ternyata tidak ada persahabatan antara laki-laki dan perempuan? Akan tetapi, hal ini bukan berarti bahwa manusia tidak diperkenankan untuk berinteraksi. Kita tidak boleh bersikap ekstrim, dengan mengasingkan diri dari masyarakat ataupun berinteraksi secara bebas. Islam merupakan agama moderat sebagaimana tersirat dalam pertengahan surat Al Baqarah yaitu dalam ayat 143. Apalagi secara fitrah manusia memerlukan orang lain sehingga saling berinteraksi. Dan Allah telah memberikan batasan bagaimana interaksi yang benar antara laki-laki dan perempuan. Keterbatasan yang ditetapkan oleh Allah harus kita yakini bahwa hal itu merupakan bentuk perlindungan bagi manusia, membawa kebaikan bagi manusia dan juga sebuah bentuk ketaatan kepada Sang Pencipta. 

Dalam kehidupan ini, kita berhubungan dengan lawan jenis dalam lingkungan yang bercampur. Untuk menyelamatkan diri kita dari kehidupan dunia yang penuh dengan godaan, maka kita harus kembali kepada Islam dan mengikuti bagaimana Rasulullah dan para sahabat bernteraksi dengan lawan jenis. Berikut tips dalam berhubungan dengan lawan jenis yang sesuai dengan hukum Islam.

Pertama, seorang
 muslim harus menutup aurat sebagaimana surat Al Ahzab ayat 59. Perintah menutup aurat bukan hanya diperuntukkan bagi kaum perempuan saja, akan tetapi juga bagi kaum laki-laki. Yang membedakannya adalah bagian tubuh yang harus ditutupi. Kedua, menundukkan pandangan (ghadul bashar) dalam surat Annur ayat 31. Dalam mengontrol pandangan kita, hal ini sangat bergantung pada niat. Ketiga, tidak boleh menarik perhatian dalam bersuarasebagaimana tertulis dalam surat Al ahzab ayat 32. Keempat, tidak boleh berkhlawat, sebagaimana sebuah hadits yang melarang seorang laki-laki dan perempuan berkhalwat, karena syaitan akan menjadi pihak yang ketiga. Kelima, tidak boleh bermake-up dan menggunakan parfum bagi perempuan. Perempuan hanya boleh menggunakannya ketika berada di depan suami dan di tengah-tengah keluarga saja. Keenam, memisahkan tempat duduk antara laki-laki dan perempuan. Ketujuh, tidak boleh berjabat tangan. Kedelapan, apabila dalam pembicaraan, maka harus singkat dan tidak ada keraguan dalam apa yang dikatakan dan bagaimana mengatakannya. 

Sirah nabawiyah tentang pola interaksi antara Rasulullah dengan para sahabiyah pada masa itu sangat penting bagi kita untuk menjadi rujukan. Misalnya, bagaimana Asma’ bin Yazid bertanya kepada Rasulullah di hadapan nabi dan para sahabat, dan ketika Khalwah binti Tha’labah meminta fatwa kepada Rasulullah.
 

Sesungguhnya timbulnya perasaan cinta berawal dari ikhtilat yaitu ketika bercampurnya laki-laki dan perempuan yang kemudian menimbulkan pandangan yang tidak terjaga, perasaan hati dan mendorong perbuatan yang tidak diridhai Allah seperti pacaran, berzina dan sebagainya.nauzu billhi min zalik.

Tidak ada pacaran dalam Islam. Pacaran merupakan perwujudan dari hawa nafsu dan kepura-puraan. Tidak ada perasaan cinta yang halal sebelum menikah. Cinta akan timbul setelah menikah. Kita harus berhati-hati dengan media saat ini yang sangat berpotensi mengarahkan nafsu kepada perbuatan yang tidak diridhai Allah.
Resensi Workshop Orchards of Love “ Your guide to achieving peace & Serenity...The Right Way!” 3-4 Desember 2011 yang disampaikan oleh Syaikh DR Reeda Bedeir, Associate professor Al Azhar University dan trainer Al Maghribi Institute untuk area UK, Canada dan Malaysia. Acara dihadiri oleh 200 orang yang diselenggarakan oleh masjid SHAS IIUM, WAMY dan Al Futuwah ISTAC di IIUM.By Yuni YF

Share This!


About Alluring

Popular Posts

Total Pageviews

Powered By Blogger · Designed By Seo Blogger Templates