Friday, January 10, 2014

Transit in Medan (Sumatera Utara)







Akhirnya naik bis juga. Di rute sebelumnya, saya tidak pernah melihat bis, yang terlihat hanya L300 dan colt jumbo. Selama perjalanan di Aceh, bis menuju ke Medan adalah satu-satunya bis yang saya tumpangi.Saya akan melanjutkan perjalanan menuju Aceh bagian selatan. Rute terdekat dari Aceh tamiang menuju aceh selatan adalah dengan melewati kota Medan Sumatera Utara, sekitar tiga setengah jam dari tamiang dengan tariff bis Rp.30.000. Sebelum sampai di Medan, bis yang saya tumpangi melewati kota Binjai. Keruwetan lalu lintas mulai terlihat. Sangat ramai, tak salah jika beberapa kawan bilang kalau Medan hampir sama ramainya dengan Jakarta. Ada yang unik ketika saya melihat salah satu toko perlengkapan alat-alat rumah tangga di Binjai. Di depan toko tergantung semua alat rumah tangga yang dijual menempel pada dinding toko mulai dari piring plastic, ember hingga kursi..ada-ada saja.

Akhirnya saya berhenti di masjid pinang baris. Dari Yani kawan di IIUM saya dikenalkan oleh kawannya yang bernama Fitri lulusan UISU (Universitas Islam Sumatera Utara). Saya SMS sehari sebelum saya berangkat ke Medan. Fitri menjemput saya di masjid itu dengan motor bebeknya, melihat wajah Fitri sama seperti melihat wajah kawan-kawan saya sebelumnya, seperti sudah mengenal lama padahal kali itulah pertama kali saya dan dia bertemu. Saya diantarkan mengunjungi istana Maimun. Dalam perjalanan menuju istana, saya menikmati situasi jalan di Medan. Saya melewati monument barisan, hotel islami Aceh house, dan kampus-kampus yang berada di Medan.

Luar biasa keadaan lalu lintas di Medan, penuh dengan kendaraan yang melaju dengan kecepatan tinggi. Sangat berbeda dengan pengendara sepeda motor di Lhoksumawe yang mereka melaju secara lambat, kecepatan rata-rata 40 km/jam. Suasana yang panas, asap kendaraan dimana-mana membuat saya ingin segera keluar dari situasi lalu lintas yang seperti itu.
 

Kami menuju salah satu objek wisata di Medan, yaitu istana Maimun. Istana yang dimiliki oleh Sultan ma’moen al rasyid perkasa alamsyah yang hidup pada masa 1853-1924. Sayangnya istana tersebut hanya dikelola oleh keluarga sultan Ma’moen, tidak diserahkan kepada pemerintahan setempat. Bangunannya tidak begitu luas dan sederhana. Tarif masuk dengan membayar Rp. 5000. Di dalamnya kita bisa melihat tentang foto kota Medan zaman dahulu, foto keluarga sultan Ma’moen dan beberapa peninggalan kuno seperti kursi, almari, pakaian. Hanya sekitar 20 menit saya dan Fitri berada di tempat itu dan meneruskan perjalanan menuju kediamannya yang terletak di jalan air bersih no 10 samping UISU.

Fitri menyewa rumah tersebut bersama tiga kawannya yang lain yaitu Hasna dan Sakinah asli orang batak, satu lagi saya lupa namanya..ops. Di rumah itu, saya dapat beristirahat sebentar, makan siang dengan ikan bakar yang dimasak Sakinah dan sempat berkeliling Medan sekaligus membeli MP4. Saya memesan angkutan dari Medan ke Subulusalam (Aceh Selatan) via telepon. Dari agen jasa angkutan diberitahu bahwa mobil mereka akan berangkat jam8 dan saya akan dijemput pada jam tersebut.
 

Setelah shalat Isya, saya ditemani kawan-kawan yang tinggal di rumah tersebut menunggu datangnya mobil di depan rumah. Selang beberapa menit kemudian, sebuah mobil kijang panther plat BK datang menjemput saya. Saya pamitan dan tidak lupa sangat berterima kasih kepada Fitri dan kawan-kawan yang sudah menerima saya sebagai tempat transit selama di Medan, jazakillah khair.By Yuni YF

Share This!


About Alluring

Popular Posts

Total Pageviews

Powered By Blogger · Designed By Seo Blogger Templates