Thursday, January 9, 2014

Notes From Rencong City, WARUNG KOPI









Ya, kita jumpa di warung kopi Sorong jam 10. Itu adalah SMS pertama yang saya dapatkan dari salah satu responden tentang kesediaan mereka untuk mengisi kuisioner proyek penelitian kami. Pucuk dicinta ulampun tiba, hati membuncah ketika mendapatkan kesempatan untuk bertemu dengan mereka. Hal ini berarti membuka jalan kemudahan bagi saya dalam melakukan penelitian selama dua minggu di seluruh Aceh dengan responden dari kalangan akademisi, ulama, politisi, pebisnis dan masyarakat umum. Tapi, kenapa di warung kopi?. Sempat bertanya di dalam hati, masak sih perempuan harus nongkrong di warung kopi?. Apa lebih baik saya menolak dan mengungkapkan nada keberatan kalau saya tidak mau bertemu dengan mereka di tempat itu.Namun setelah sejenak berpikir akhirnya bismillah, di tengah bayang-bayang warung kopi yang tidak mengenakkan, akhirnya saya mengiyakan pertemuan dengan responden di tempat itu. Berikutnya, SMS seperti itu tidak hanya sekali saya terima,ada banyak responden yang memilih warung kopi dan kafe sebagai tempat untuk mengisi kuisioner.
 

Saya kemudian mencari informasi tentang warung kopi. Ternyata, warung kopi di banda Aceh jumlahnya lebih banyak dibandingkan di kota lain di Aceh, menjamur tersebar di banyak pedesaan maupun perkotaan, dari yang sederhana sampai modern, seperti kafe. Warung kopi adalah tempat yang familiar dan menjadi tempat favorit untuk melakukan pertemuan. Baik pertemuan sekedar ngobrol, melepaskan lelah hingga deal-deal politik yang dilakukan pejabat. Masyarakat yang gemar di warung kopipun beragam, tua-muda dari kelas ekonomi bawah hingga menengah atas.
Ketika di warung kopi, sepuluh menit pertama saya merasa sedikit canggung. Maklum, selama ini saya tidak pernah berada di tempat itu. Saya dan kawan saya adalah perempuan di antara pengunjung yang didominasi laki-laki. Tapi karena kami kemudian fokus pada kepentingan penelitian, maka rasa canggung tesebut mengikis dengan sendirinya, alhamdulillah. Oia, di warung kopi, menu yang dihidangkan sangat sederhana. Minuman dari teh, kopi, jahe,susu dan lainnya baik panas maupun dingin dan biasanya di meja juga tersedia makanan ringan khas Aceh. Kita juga bisa memesan makanan berat, nasi dengan bermacam variasi menu.

Warung kopi, jadi mengingatkan saya dengan sosok pendiri pergerakan Ikhwanul Muslimin, Syaikh Hasan al Bana.Dahulu tokoh tersebut berdakwah dari satu kedai kopi ke kedai kopi yang lainnya. Dari tempat tersebut, beliau menyebarkan pemikiran, mengajak untuk beramar ma’ruf sekaligus membangun semangat masyarakat untuk menumbangkan kezaliman penguasa di masa itu. Tidak heran jika kemudian pemikiran beliau membuat banyak orang rela menjadi pengikut dan siap digerakkan.
Saat ini, warung kopi bagi saya menjadi hal yang tidak perlu ditakuti lagi, inna a’malu bi niat. Dan bagi kaum adam, menurut saya tempat ini dapat menjadi salah satu tempat yang strategis untuk berdakwah sebagaimana syaikh Hasan al Bana. Nah, ayo siapa yang berani mengikuti beliau? ByYuni YF

Share This!


About Alluring

Popular Posts

Total Pageviews

Powered By Blogger · Designed By Seo Blogger Templates