Friday, January 10, 2014

Mari Menjadi Sekokoh Ustazah Yoyoh Yusroh!







Sejak enam tahun yang lalu ketika masih kuliah S1, penulis sudah mendengar nama bu Yoyoh Yusroh. Namun, sampai sekarang penulis belum pernah berkesempatan bertemu langsung dengan beliau. Berita yang tersiar dari media maupun cerita dari kawan tentang beliau, sejak dahulu hingga hari ini selalu bagus, inspiratif dan mengandung motivasi. Beliau adalah seorang mujahidah dakwah, ustadzah, muballighoh, bunda yang penuh kesabaran dan anggota dewan yang produktif. Keberadaan beliau adalah sangat langka di antara ratusan juta muslimah Indonesia. Namun hari itu, sabtu 21 Mei 2011 pukul 3.30 pagi, sebuah berita duka terdengar bahwa Allah telah memanggil ustazah Yoyoh Yusroh untuk selama-lamanya. Banyak orang merasa kehilangan atas kepergian beliau, tidak hanya warga PKS karena telah kehilangan anggota legislator terbaiknya, tetapi bangsa Indonesia juga telah kehilangan salah satu tokoh putra bangsa.

Selama bertugas sebagai anggota parlemen, masyarakat banyak mengenal bu Yoyoh sebagai Anggota DPR RI dari Fraksi PKS yang sangat gigih memperjuangkan RUU pornografi dan usulan cerdas beliau tentang kemungkinan tentara TNI wanita berjilbab. Beberapa waktu yang lalu beliau beserta rombongan juga berhasil menembus blockade Gaza untuk melakukan misi kemanusiaan. Tidak heran jika kemudian, seorang penulis Pipiet Senja menganggap beliau adalah seorang tokoh wanita Indonesia yang luar biasa bahkan melebihi sosok Kartini.
 

Demikian pula Netty Prasetyani, istri gubernur Jawa Barat mengatakan bahwa ustazah Yoyoh adalah sosok yang konsisten dan totalitas. Totalitas dan konsistensi inilah yang menjadikan usia sejarah almarhumah lebih panjang dari usianya sendiri. Selain itu bu Yoyoh Yusroh memiliki stamina tangguh dan kemampuan manajemen waktu. Beliau mampu mengambil peran publik yang sama baik dengan peran domestiknya bahkan tidak ada gangguan sama sekali dalam menjalankan dua peran sekaligus. Terbukti dengan kehadiran anak-anaknya yang sholih dan sholihat, serta terdidik dengan baik. Beliau juga merupakan sosok yang sederhana dan bersahaja yang menjadikan banyak orangpun kagum.

Hatta Syamsuddin menuliskan tentang empat hal kekokohan ustazah Yoyoh yang sangat perlu untuk diteladani oleh para muslimah. Pertama, memiliki fisik yang kuat dan berkomitmen dalam menjaga kesehatan. Aktifitas dakwah membutuhkan energi yang luar biasa disadari oleh ustadzah Yoyoh Yusroh. Maka beliau punya komitmen yang sangat tinggi dalam menjaga kesehatan, dan juga mengingatkan kader dakwah yang lain agar peduli kesehatan. Afifah Afra menuliskan kenangannya bersama ustadzah Yoyoh Yusroh dalam suatu kesempatan memberikan tausiah di depan para muslimah Semarang. Beliau sangat menganjurkan para muslimah untuk menjaga kesehatan. Menekankan untuk mengonsumsi banyak sayur dan buah-buahan, serta meninggalkan segala jenis makanan instan yang berpengawet. Lebih tegas ustadzah Yoyoh Yusroh menjelaskan : "Rahim seorang wanita harus dipersiapkan untuk menghasilkan generasi yang terbaik. Jadi, makanlah hanya sesuatu yang halal dan toyib”. Komitmen beliau yang tinggi ini pun bisa dengan mudah dibuktikan di depan mata. Melahirkan 13 anak tentu dibutuhkan penjagaan fisik yang luar biasa, belum ditambah dengan aktifitas dakwah dan kegiatan yang sangat padat. Beliau mampu melewati hari-hari sibuknya dengan stamina yang kuat. Saat ditanya seorang akhwat tentang resep fitnya, beliau mengingatkan untuk jangan lupa mengonsumsi habbatus sauda dan madu.
Kedua, memiliki kesabaran yang luar biasa. Melahirkan, merawat dan membesarkan 9 putra dan 4 putri adalah hal luar biasa yang mutlak membutuhkan kesabaran yang luar biasa. Pesan beliau bahwa dalam membina rumah tangga, yang penting prinsipnya saling memberi. Tidak ada yang superordinat atau subordinat antara laki-laki dan wanita. Sejak awal menikah komitmen itu harus ada. Laki dan wanita punya keistimewaan dan sungguh telah dibuktikan sejak awal dalam kesabaran beliau mengarungi rumah tangga dengan 13 orang anak.
 

Ketiga, aktif bergerak. Ustadzah Yoyoh Yusroh menjadi teladan akhwat muslimah dalam kiprah bagi dakwah dan masyarakat. Amanah beliau yang begitu banyak senantiasa beliau tuntaskan dengan sebaik-baiknya. Bukan hanya dalam konteks internal partai atau dalam negeri, namun juga tampil aktif dalam organisasi internasional bahkan perjuangan internasional membela Palestina. Beliau memimpin rombongan Viva Palestina yang dikoordinir oleh Komite Nasional Rakyat Palestina (KNRP), dan melalui perjuangan berat akhirnya mampu menembus Gaza dengan dikawal barisan panser tentara Mesir. Kiprah beliau yang sangat padat bisa dilihat dari rentetan tugas dan penghargaan yang beliau dapat. Selain di DPR beliau juga aktif sebagai anggota Dewan Pakar ICMI (Tahun 2005-2010), bidang Pemberdayaan Perempuan, Anak dan Lansia. Tak hanya itu, sejumlah tanda jasa pun pernah diterimanya, seperti International Muslim Women Union (IMWU) tahun 2000, International Muslim Women Union (IMWU) tahun 2003, dan Mubaligh National dari Departemen Agama Pusat tahun 2001. Sebuah gambaran sekaligus teladan, seorang ummahat yang sukses meramu antara ranah domestik dengan pengabdian kemasyarakatan.

Keempat, memiliki kekuatan ruhiyah yang tinggi. Aktifitas dakwah dan kemasyarakatan yang begitu padat akan sangat melelahkan tanpa siraman ruhiyah yang teratur dan pada porsi yang istimewa. Ustadzah Yoyoh Yusroh tahu dan meyakini dengan pasti hal tersebut. Karenanya beliau senantiasa menghiasi hari-hari padat aktifitasnya dengan charger ruhiyah yang terus dijaga dan ditingkatkan. Tilawah dan mengulang hafalan Quran adalah rutinitas harian yang tak terlewatkan. Salim A Fillah pernah mendapati beliau bersama suami tengah asyik mengulang hafalan berdua, bergantian menyimak dan membenarkan. Secara khusus, beliau senantiasa menyelesaikan tilawah tiga juz setiap harinya.

Dari informasi media tentang ustazah Yoyoh, penulis menemukan pesan-pesan beliau ketika menyampaikan taujih khususnya untuk para muslimah. Bagi muslimah yang malas dalam ma’rifah terhadap Alqur’an, beliau menasehati agar muslimah mengupayakan untuk terus berinteraksi dengan Al-Qur’an. Jika fisik lelah, akal masih bisa beraktifitas. Tidak kuat lagi bersuara untuk tilawah, bisa beralih dengan membaca tafsir. Jika akal kita lelah juga, ruh masih bisa beraktifitas. Membaca tafsir pun mata dan otak sudah berat, bisa beralih dengan mendengarkan tasmi’ Al-Qur’an. Intinya, jangan keterusan tidur hanya sekedar memenuhi rasa kantuk”.

Dan bagi para ibu muda yang kerepotan mengurus bayi hingga tidak bisa melaksanakan shalat malam, beliau berpesan bahwa hendaknya ketika bayi menangis itu tidak menjadi halangan untuk sholat malam. Kata beliau, “Insya Allah masih bisa ukhti…Yang namanya bayi, ya tugasnya memang nangis. Malah kita khawatir kalau dia tidak bisa menangis tapi anteng terus. Nah, anti bisa siapkan bayi dulu dengan memmbersihkan dari najis, terus dipasang pampers, lalu menyempatkan diri wudhu sebentar. Saatnya sholat, gelarlah kasur kecil di samping sajadah kita dan taruh bayi di situ. Kalau dia menangis, jangan panik dulu, tetap teruskan sholat. Tapi kalau terlihat tanda-tanda nangisnya tak mau berhenti, gendonglah dia sambil sholat. Insya Allah dalam dekapan si ibu, dia akan tenang kembali. Sekaligus ini memberikan tarbiyah ruhaniyah padanya, sejak kecil sudah merasakan dan menyaksikan ibunya selalu bangun untuk sholat lail di sepertiga malam”. Masha Allah.

Dalam keseharian, beliaupun tidak lupa memanjatkan doa untuk anak-anaknya. Diantara doa beliau adalah Allahumma baarik fii awlaadinaa wa laa tadzurrohum wa waffiqhum litho ‘atika war zuqnaa birrohum. Yang artinya Ya Allah, berkahilah anak-anak kami. Jangan susahkan mereka. Berikanlah mereka taufiq untuk taat kepada-Mu dan berikanlah rizki pada kami berupa kebaikan-kebaikan mereka.

Saat ini beliau telah pulang menghadapNya. Namun banyak hal mulia yang beliau torehkan yang sudah sepatutnya dijadikan teladan dan dilanjutkan perjuangan beliau oleh para muslimah dewasa ini. Mari menjadi sekokoh ustazah Yoyoh Yusrah, berdaya juang tinggi dan konsisten dalam memperbaiki bangsa Indonesia ke arah yang lebih baik hingga kematian menjemput kita.

Semoga beliau mendapatkan tempat yang mulia di sisi Allah dan dapat bersama-sama dengan para penghulu wanita di surga sebagaimana keinginan yang ditulis dalam SMS untuk sahabat beliau dua hari sebelum meninggal. SMS tersebut berbunyi: “Ya Rabb, aku sedang memikirkan posisiku kelak di akhirat. Mungkinkah aku berdampingan dengan penghulu para wanita, Khadijah Al-Qubra yang berjuang dengan harta dan jiwanya? Atau dengan Hafshah yang dibela Allah saat akan dicerai karena shawwamah (rajin puasa) dan qawwahmahnya (rajin sholat malam)? Atau dengan Aisyah yang telah hafal 3500-an hadits, sedang aku… ehm, 500 juga belum. Atau dengan Ummu Sulaim yang shabirah (penyabar). Atau dengan Asma yang mengurus kendaraan suaminya dan mencela putranya saat istirahat dari jihad. Atau dengan siapa ya Allah? Tolong beri kekuatan untuk mengejar amaliyah mereka sehingga aku laik bertemu mereka bahkan bisa berbincang dengan mereka di Taman Firdaus-Mu”.
Selamat jalan ustazah....By Yuni YF

Referensi:
http://www.indonesiaoptimis.com/2011/05/mari-belajar-kokoh-dari-ustadzah-yoyoh_21.html
http://www.dakwatuna.com/2011/05/12182/konsistensi-dan-totalitas-yoyoh-yusroh/?utm_source=feedburner&utm_medium=email&utm_campaign=Feed%3A+dakwatunacom+%28dakwatuna.com%29&utm_content=Yahoo!+Mail
http://www.islamedia.web.id/2011/05/mozaik-indah-bersamasang-murabbiyah.html

Share This!


About Alluring

Popular Posts

Total Pageviews

Powered By Blogger · Designed By Seo Blogger Templates