Thursday, January 9, 2014

Serba-Serbi Konferensi








Sebenarnya sudah agak lama ingin menulis tentang kesan mengikuti konferensi maupun seminar selama ini. Banyak hal baru yang didapatkan, baik yang menyenangkan maupun mengecewakan. Sharing pengalaman yang didapatkan ketika berperan sebagai peserta maupun panitia konferensi.
 

Ketika dulu semasa kuliah S1, mengikuti seminar internasional itu bagaikan hanya sebuah mimpi...huff. Yup, di benak saya, pasti kita harus bayar banyak (jutaan rupiah) dan pake bahasa Inggris. So, semasa kuliah S1 saya belum pernah mengikuti seminar skala internasional, maklum dari kampus kecil, dari kota kecil pula..he3. Beberapa kali ikut seminar maupun musyawarah tingkat nasional di Jakarta, Bandung, Semarang saja saya sudah senang dan menjadi prestasi tersendiri buat saya...he.

Alhamduillah, dibandingkan di Indonesia, saya merasa lebih beruntung kuliah di Malaysia. Kenapa? Salah satunya adalah karena di sini untuk dapat mengikuti konferensi maupun seminar international adalah lebih mudah bahkan sering tanpa perlu mengeluarkan biaya. Padahal jika membayar, maka kita harus mengeluarkan kocek yang tidak sedikit, mulai dari RM300 hingga ribuan ringgit per orang. Beberapa kali mengikuti seminar dan konferensi tingkat internasional baik di kampus maupun di Twin Tower, PWTC, IAIS, Seri Pacific Ballroom dll Alhamdulillah saya tidak pernah mengeluarkan uang. Yup, mahasiswa cukup hanya mendaftar via on line dan biasanya first come first serve alias siapa cepat dia dapat..he3. Bayangkan, kita tidak perlu mengeluarkan modal uang, namun kita bisa mendapatkan materi dari para pembicara yahud, menikmati fasilitas makan dan handy bag dan yang tidak kalah pentingnya kita dapat menambah networking pasca seminar. Topik seminar yang saya ikutipun sangat beragam mulai dari tentang pendidikan, isu Palestina, Islamic finance, woman enterpreneur, Muslim youth, Islamic tourism dan yang lainnya. Selama ini, jika ada info seminar dan kebetulan ada waktu, maka mahasiswa di sini bersemangat untuk mengikutinya.

Jangan salah, ternyata kedatangan peserta dari kalangan mahasiswa itu sangat dielu-elukan oleh panitia acara. Betulkah?betull, biasanya delegasi dari akademisi mendapatkan jatah tersendiri dan mereka free on charge alias gratis, yang penting datang...he3. Asumsinya, kalangan akademisi adalah kumpulan orang yang tepa dan terbiasa dengan agenda seminar dan mendengarkan ceramah. Hal ini saya ketahui dari ketika beberapa hari yang lalu menjadi panitia seminar (panitia dapat honor RM100/hari). Panitia telah mengalokasikan 150 pack untuk mahasiswa dari total peserta 300 undangan tetapi yang datang hanya 37 mahasiswa.Coba bayangkan begitu sedihnya, hanya sedikit yang datang..hiks. Apalagi tempat dan fasilitas sudah booked jauh-jauh hari sebanyak 300 pack, so menimbulkan banyak kemubaziran. Nah, ternyata, mahasiswa berperan penting dalam seminar bukan?ini sekilas cerita di Malaysia, bagaimana di Indonesia?

Trus ada juga kisah lucu ketika menjadi panitia konferensi. Dalam bayangan saya, international conference itu semuanya serba formal, pake jas, bersepatu, kalo perlu atas bawah berwarna putih hitam, tapi ternyata,.....salah....Suatu hari kawan saya, yang menjadi petugas pembawa souvenir untuk pembicara, dia memakai sandal jepit seperti Carvile kalo di Indonesia..he33, namun kebetulan celananya panjang, jadi tidak begitu kentara kalau dia bersandal jepit yang bagian depan kakinya terbuka. Ada lagi kawan saya yang lain yang menjadi MC, dia memakai baju sweater hijau dan rok jeans plus sandal selop..ha..ha..pokoknya gaul banget. Bagi saya kedua hal tersebut kurang sedap dipandang, tapi kawan-kawan saya cuek saja dan heran juga dari ketua panitia tidak menegur. Yah, kejadian itu semoga tidak terulang lagi.

Selain senang dan lucu,saya juga memiliki perasaan kecewa dari beberapa seminar yang pernah dikuti. Meski forum tersebut membawa isu Islami, misalnya tentang entrepreneur wanita dalam perspekti Islam, atau Turisme Islami, tapi ternyata event organizernya belum sepenuhnya sharia compliance/sesuai nilai-nilai Islam. Beberapa panitia tidak berjilbab bahkan master of ceremony-nya tidak mengenakan kerudung. Selain itu, sudah hal lumrah ketika coffee break peserta konferensi selalu standing party or berdiri. Saya merasa bahwa seminar maupun konferensi tersebut hanya bernilai komersial saja dan kurang bisa menampilkan ruh Islam selama kegiatan berlangsung.

Dari sedikit pengalaman mengikuti konferensi maupun seminar di atas, hal yang penting menurut saya adalah perlunya event organizer yang Islami yang memiliki komitmen untuk menyajikan acara yang Islami pula. Sehingga ruh Islam dalam setiap konferensi yang mengangkat isu-isu Islam dapat didapatkan selama acara berlangsung. Suatu saat saya ingin memiliki Event organizer yang islami semoga, insya Allah. Wallahu’alam. By Yuni YF

Share This!


About Alluring

Popular Posts

Total Pageviews

Powered By Blogger · Designed By Seo Blogger Templates